Sanggring Kolak Ayam Gumeno, Tradisi Ramadan 5 Abad yang Terus Dilestarikan Warga Gresik

“Sejarah kolak ayam ini berawal dari kebiasaan Sunan Dalem yang membuat masakan tersebut sebagai obat ketika beliau sakit saat membangun masjid di Desa Gumeno. Resep itu kemudian dipercaya mujarab dan juga digunakan untuk membantu menyembuhkan warga sekitar,” ujarnya.

12 Mar 2026 - 16:38
Sanggring Kolak Ayam Gumeno, Tradisi Ramadan 5 Abad yang Terus Dilestarikan Warga Gresik
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani meninjau langsung proses pembuatan kolak ayam yang hanya dimasak warga laki laki di desa Gumeno Manyar Gresik (Fahrudin/afederasi.com)

Gresik, (afederasi.com) – Tradisi Kolak Ayam atau yang dikenal sebagai Sanggring di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, terus dijaga kelestariannya oleh masyarakat setempat. Tradisi kuliner khas Ramadan ini telah berlangsung selama lebih dari lima abad dan diyakini sebagai warisan dakwah Sunan Dalem, putra Sunan Giri.

Setiap malam ke-23 Ramadan, warga Desa Gumeno bersama pengurus Masjid Jami’ Sunan Dalem menyiapkan kolak ayam untuk dibagikan kepada masyarakat dan para tamu yang datang. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan memasak atau makan bersama, melainkan memiliki makna spiritual yang kuat bagi masyarakat setempat.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani yang meninjau langsung proses pengolahan kolak ayam pada Kamis (12/03/2026) menyampaikan bahwa Sanggring merupakan warisan budaya Islam yang diperkirakan telah berusia sekitar 501 tahun.

Menurut Gus Yani, tradisi tersebut menjadi simbol kepatuhan spiritual sekaligus bentuk penghormatan terhadap perjuangan dakwah Sunan Dalem dalam menyebarkan Islam di wilayah pesisir utara Gresik.

“Sejarah kolak ayam ini berawal dari kebiasaan Sunan Dalem yang membuat masakan tersebut sebagai obat ketika beliau sakit saat membangun masjid di Desa Gumeno. Resep itu kemudian dipercaya mujarab dan juga digunakan untuk membantu menyembuhkan warga sekitar,” ujarnya.

Karena nilai sejarah dan budayanya yang kuat, tradisi Sanggring Kolak Ayam terus dilestarikan oleh masyarakat hingga sekarang. Selain dikenal sebagai kuliner warisan leluhur, hidangan ini juga dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan.

Gus Yani, juga mengajak generasi muda untuk terus mengenal dan memahami nilai sejarah di balik tradisi kolak ayam tersebut agar tidak hilang di tengah perkembangan Gresik sebagai kota industri.

“Tradisi kolak ayam ini adalah bentuk apresiasi sekaligus upaya melestarikan budaya peninggalan Sunan Dalem, salah satu tokoh penyebar Islam di pesisir utara Gresik sekitar tahun 1541 Masehi,” jelasnya.

Gus Yani menambahkan, pada tahun 2019 tradisi Sanggring Kolak Ayam telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) oleh pemerintah. Penetapan tersebut semakin memperkuat identitas sosial dan religi masyarakat Gresik.

Pada pelaksanaan tahun ini, warga mengolah sekitar 240 ekor ayam, 225 kilogram bawang daun, 525 butir kelapa, 650 kilogram gula merah, serta 50 kilogram jinten bubuk. Dari bahan tersebut dihasilkan sekitar 3.000 porsi kolak ayam yang disajikan bagi para tamu dan masyarakat yang hadir dalam tradisi tahunan tersebut.(frd)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow