Petrokimia Gresik Amankan Pasokan Sulfur di Tengah Tekanan Konflik Timur Tengah

Kami terus memperkuat supply chain dan kapasitas domestik agar kebutuhan pupuk nasional tetap terpenuhi,” pungkas Daconi.

02 Apr 2026 - 23:42
Petrokimia Gresik Amankan Pasokan Sulfur di Tengah Tekanan Konflik Timur Tengah
Dirut Petrokimia Daconi Khotob saat berbicara dalam forum internasional Argus Fertilizer Asia conference di Bali. (Istimewa/afederasi.com)

Gresik, (afederasi.com) – Di tengah ketidakpastian geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, Petrokimia Gresik mengambil langkah strategis untuk mengamankan pasokan sulfur komoditas kunci dalam industri pupuk dan kimia nasional.

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menegaskan bahwa stabilitas pasokan sulfur menjadi krusial bagi keberlanjutan produksi pupuk dan ketahanan pangan Indonesia. Hal tersebut disampaikan dalam forum internasional Argus Fertilizer Asia Conference 2026 di Bali, Selasa (31/03/2026).

Menurut Daconi, sekitar 33 persen perdagangan sulfur global atau setara 20 juta ton per tahun berasal dari kawasan Teluk Persia. Sementara itu, Indonesia masih bergantung pada impor lebih dari 75 persen kebutuhan sulfur dari wilayah Timur Tengah.

“Kondisi geopolitik dan gangguan jalur logistik global berpotensi memengaruhi harga dan ketersediaan sulfur dunia,” ujarnya.

Di sisi lain, kebutuhan asam sulfat nasional terus meningkat dan kini mencapai sekitar 19 juta ton per tahun. Permintaan tersebut didorong oleh sektor pupuk serta hilirisasi mineral, terutama industri nikel yang tengah berkembang pesat.

Situasi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat permintaan sulfur global, sekaligus menjadikan komoditas ini strategis dalam menopang ketahanan industri dan pangan nasional.

Sebagai bagian dari solusi, Petrokimia Gresik mengandalkan fasilitas produksi asam sulfat berkapasitas 1,8 juta ton per tahun yang terintegrasi dengan lini produksi pupuk dan produk kimia lainnya.

“Kami tidak hanya menjadi bagian dari rantai pasok, tetapi juga memperkuat pasokan bahan baku industri dalam negeri melalui fasilitas yang terintegrasi,” jelas Daconi.

Untuk menghadapi dinamika global, perusahaan memperkuat strategi pengamanan pasokan melalui diversifikasi sumber impor, kontrak jangka panjang guna menjaga stabilitas harga, serta penguatan infrastruktur penyimpanan dan distribusi.

Langkah ini dinilai penting mengingat sulfur dan asam sulfat merupakan bahan baku utama dalam produksi pupuk fosfat dan NPK, serta digunakan luas dalam industri pengolahan logam, air, dan kimia.

Selain itu, lonjakan permintaan sulfur juga dipicu oleh kebijakan hilirisasi mineral dan perkembangan industri baterai kendaraan listrik (EV), khususnya dalam proses high-pressure acid leaching (HPAL) yang membutuhkan asam sulfat dalam jumlah besar.

Di tengah tekanan global tersebut, Petrokimia Gresik menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas produksi pupuk nasional sebagai bagian dari upaya mendukung swasembada pangan.

“Kami terus memperkuat supply chain dan kapasitas domestik agar kebutuhan pupuk nasional tetap terpenuhi,” pungkas Daconi.(frd)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow