Peternak di Lamongan Keluhkan Harga Telur Ayam Terus Merosot
"Harga telur saat ini mengalami penurunan cukup lumayan. Kalau terus-menerus seperti ini, peternak terancam gulung tikar," keluh Supardi saat ditemui di lokasi kandang miliknya, Rabu (19/05/2026) siang.
Lamongan, (afederasi.com) – Industri peternakan ayam petelur rakyat di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kini berada di ujung tanduk. Imbas merosotnya harga telur di tingkat peternak yang terjun bebas, para peternak lokal kini dibayangi ancaman gulung tikar. Rabu, (20/5/2026).
Berdasarkan pantauan di lapangan, harga telur ayam di tingkat peternak dalam sebulan terakhir terus merosot tajam. Saat ini, komoditas tersebut hanya dihargai Rp21.500 per kilogram. Angka ini jauh di bawah harga pasar normal di tingkat peternak yang biasanya mampu mencapai Rp25.000 hingga Rp26.000 per kilogram.
Kondisi memprihatinkan ini salah satunya dirasakan oleh para peternak ayam petelur rakyat di Desa Sumberrejo, Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan. Mereka mengaku pasrah lantaran pendapatan dari hasil panen telur sudah tidak lagi sebanding dengan biaya operasional, terutama harga pakan pabrikan yang terus meroket.
Supardi Hardy, salah seorang peternak ayam petelur di Desa Sumberrejo, mengungkapkan bahwa anjloknya harga telur saat ini sangat memukul para peternak rakyat dengan skala populasi kecil.
"Harga telur saat ini mengalami penurunan cukup lumayan. Kalau terus-menerus seperti ini, peternak terancam gulung tikar," keluh Supardi saat ditemui di lokasi kandang miliknya, Rabu (19/05/2026) siang.
Supardi menjelaskan, beban peternak kian berat karena harga pakan pabrikan naik secara signifikan. Pakan yang semula berkisar antara Rp390.000 hingga Rp395.000 per karung (50 kilogram), kini melonjak tajam menjadi Rp410.000 hingga Rp450.000 per 50 kilogram.
Ketimpangan antara harga jual telur yang murah dan biaya pakan yang mahal membuat margin keuntungan peternak habis, bahkan berujung pada kerugian operasional harian. Oleh karena itu, ia bersama peternak lainnya mendesak pemerintah untuk segera turun tangan melakukan intervensi pasar.
"Kami meminta pemerintah untuk segera menstabilkan harga telur dan juga menurunkan harga pakan ayam pabrikan," tegas Supardi.
Selain masalah pakan dan harga pasar, Supardi juga menyoroti adanya dugaan permainan tata niaga yang tidak sehat. Ia berharap pemerintah bisa memberantas praktik mafia yang diduga sengaja mengendalikan harga telur di pasaran. Menurutnya, intervensi ini sangat penting agar tidak terus-menerus merugikan para peternak rakyat yang hanya memiliki populasi ayam di bawah 10.000 ekor.
Jika kondisi fluktuasi harga yang merugikan ini tidak segera teratasi dalam waktu dekat, dapat dipastikan satu per satu peternak ayam petelur mandiri di Lamongan akan segera bangkrut dan menghentikan produksinya secara total. (yan)
What's Your Reaction?

