Pagelaran "Gulo Klopo" ke-6: Pemkab Jombang Apresiasi Dedikasi Seni untuk Yatim dan Dhuafa
Jombang, (afederasi.com) – Ribuan pasang mata terpaku menyaksikan kemegahan pertunjukan seni tradisional "Gulo Klopo" yang digelar Sanggar Tari IJ Art di Lapangan Sawunggaling SMAN 3 Jombang, Sabtu (04/07/2026) malam. Pagelaran spektakuler yang dikemas dalam tajuk Dedikasi Seni untuk Yatim dan Dhuafaku yang ke-6 ini tidak hanya menjadi pentas pelestarian budaya, tetapi juga wujud nyata kepedulian sosial dengan pemberian santunan bagi 320 anak yatim dan dhuafa .
Menguak Sejarah Kebesaran Majapahit
Mengusung tema "Gulo Klopo", pagelaran ini mengangkat simbol kebesaran Kerajaan Majapahit. Pimpinan Sanggar IJ Art, Inggit Fimanaya, menjelaskan bahwa Gulo Klopo atau Gula Kelapa merupakan panji kebesaran Majapahit yang melambangkan bendera dwi warna merah-putih, yang konon dikibarkan di Candi Ngrimbi.
Pementasan ini mengisahkan masa sulit di era pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi, terutama saat pemberontakan di Sadeng dan Keta. Kisah ini kemudian bersinggungan dengan pengambilan sumpah Mahapatih Gajah Mada pada 1334. Sumpah Palapa yang diikrarkan Gajah Mada menjadi titik balik sejarah Nusantara, di mana ia berikrar tidak akan merasakan kenikmatan duniawi sebelum berhasil mempersatukan Nusantara di bawah naungan Majapahit.
"Hari ini kita mengenalkan sejarah kepada masyarakat dengan tradisi visual melalui pementasan agar sejarah mudah dipahami lewat pertunjukan seni tari,pengenalan sejarah melalui seni pertunjukan ini dinilai efektif untuk menanamkan nilai-nilai kepahlawanan kepada generasi muda, " pungkasnya.
Apresiasi dan Dukungan Penuh Pemkab Jombang
Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Anom Antono, S.Sn, memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menyebut pergelaran seni yang dilakukan Sanggar IJ Art merupakan wujud nyata upaya pelestarian budaya yang harus terus didukung.
"Pemerintah mempunyai tugas untuk melindungi, melestarikan, dan memanfaatkan objek kemajuan kebudayaan. Malam ini, teman-teman sanggar tari IJ Art telah melakukan upaya pelestarian di mana generasi muda sudah ditanamkan kearifan lokal melalui kegiatan menari," ujarnya dalam sambutan.
Anom juga menyampaikan kabar gembira terkait pengakuan budaya Jombang di tingkat nasional. "Kemarin Kabupaten Jombang mendapatkan penghargaan dari Menteri Kebudayaan RI. Upacara adat Kungkum Sinden telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Itu perjuangan kami selama dua tahun bersama Cak Nas, Afrizal, dan Mbak Inggit Fimanaya dari Sanggar IJ Art, perjuangan yang tidak mudah akhirnya membuahkan hasil," terangnya bangga.
Penghargaan tersebut rencananya akan diterima langsung oleh Bupati Jombang, Warsubi, yang diserahkan oleh Menteri Kebudayaan RI. "Insha Allah nanti untuk penerimaan penghargaan tersebut akan diterima oleh Bupati Jombang, Abah Bupati Warsubi," pungkas Anom.
Seni sebagai Perekat Sosial dan Identitas Daerah
Agung Hariadi, Kepala Dinas Sosial yang mewakili Bupati Jombang Warsubi, juga menyampaikan apresiasinya. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa seni bukan semata hiburan, melainkan sarana ekspresi, edukasi, dan pelestarian nilai-nilai budaya yang diwariskan lintas generasi.
"Mulai pagelaran seni kita dapat menyajikan kreativitas, pemetaan estetik, serta kekayaan budaya lokal yang berpadu menjadi karya mampu membangun karakter dan memperkuat identitas daerah," jelas Agung.
Ia juga menyoroti kekuatan seni dalam menyatukan masyarakat dan mempererat harmoni sosial. Agung berharap semangat berkesenian terus tumbuh di kalangan generasi muda dan pemerintah daerah akan terus memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan serupa di masa mendatang.
"Saya berharap semangat berkesenian terus tumbuh di tengah masyarakat, terutama di kalangan generasi muda, sehingga seni budaya tetap lestari dan berkembang secara adaptif terhadap perkembangan zaman," pungkasnya. (san)
What's Your Reaction?

