Mas Rio Sentil OPD Situbondo, Inovasi Tanpa Riset Itu Omong Kosong
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo (Mas Rio) mendorong OPD menciptakan inovasi berbasis riset untuk mengatasi defisit telur 17 ton dan menekan inflasi di daerah.
Situbondo, (afederasi.com) – Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, meminta seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Situbondo untuk mengubah pola pikir dalam melayani publik. Pria yang akrab disapa Mas Rio ini menegaskan bahwa inovasi pemerintah tidak boleh hanya menjadi pajangan di atas kertas, melainkan harus menjadi solusi konkret atas persoalan yang dihadapi warga.
Pesan tersebut disampaikan Mas Rio dalam agenda sosialisasi pemajuan mindset OPD inovatif di Pendopo Rakyat Situbondo, Rabu (8/4/2026). Ia menekankan bahwa setiap kebijakan yang diambil oleh dinas terkait harus memiliki dasar yang kuat dan implementasi yang jelas di lapangan.
“Setiap inovasi harus lahir dari kebutuhan riil masyarakat. Jangan hanya berhenti pada ide, tapi harus bisa dirasakan manfaatnya,” ujar Mas Rio dengan tegas di hadapan para kepala OPD.
Dalam kesempatan tersebut, Mas Rio menyoroti persoalan ketahanan pangan dan inflasi sebagai prioritas utama. Ia memberikan apresiasi kepada Tim Penggerak PKK Situbondo yang berkolaborasi dengan Bank Indonesia untuk mengajak warga menanam cabai di pekarangan rumah. Menurutnya, langkah sederhana seperti inilah yang justru memberikan dampak langsung bagi ekonomi rumah tangga.
Lebih lanjut, Bupati juga menyoroti ketergantungan Situbondo terhadap pasokan telur dari luar daerah yang memicu ketidakstabilan harga. Mas Rio memaparkan fakta bahwa produksi telur lokal masih sangat jauh dari angka kebutuhan harian masyarakat yang mencapai belasan ton.
“Produksi kita baru sekitar 3,5 ton per hari, sementara kebutuhan mencapai 17 ton. Ini yang menyebabkan harga telur tidak stabil,” ungkapnya.
Sebagai solusi atas ketimpangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Situbondo tengah mengkaji skema pemberian bantuan kandang ayam petelur untuk skala rumah tangga. Program ini diharapkan dapat mendorong kemandirian pangan sekaligus menekan harga telur di pasar lokal. Mas Rio percaya bahwa jika setiap rumah tangga memiliki unit produksi kecil, ketergantungan pada pasar luar daerah bisa diminimalisir secara signifikan.
Meski demikian, Mas Rio mengingatkan bahwa seluruh terobosan tersebut tidak akan berjalan maksimal jika tidak didukung oleh data dan penelitian yang akurat. Ia menyentil kebiasaan birokrasi yang sering kali meluncurkan program tanpa melalui tahapan kajian yang mendalam.
“Tidak ada inovasi tanpa riset. Masalahnya, kita belum memiliki riset yang kuat. Ini yang harus mulai dibangun,” pungkas Mas Rio. (vya/dn)
What's Your Reaction?



