Lestarikan Tradisi Nusantara, Paguyuban Murti Tomo Waskito Tunggal Lamongan Sukses Gelar Suran Agung
"Agenda ini dilaksanakan setahun satu kali dan sudah berjalan bertahun-tahun. Rangkaian kegiatannya mulai dari jamasan pusaka, pagelaran budaya, musik keroncong, hingga kesenian tradisional lainnya. Harapan kami, nilai-nilai luhur Jawa semakin muncul kembali, terutama di kalangan generasi muda atau tunas-tunas muda sebagai penerus kanoman," ujar Dedi Setiawan saat diwawancarai.
Lamongan, (afederasi.com) – Dalam rangka menjaga eksistensi kebudayaan leluhur di era modern, Paguyuban Murti Tomo Waskito Tunggal Kabupaten Lamongan sukses menyelenggarakan pergelaran budaya akbar bertajuk "Suran Agung 1960 Jawa". Acara tahunan ini dipusatkan di Dusun Sekaran, Desa Sekarbagus, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan pada Sabtu (4/07/2026) malam.
Rangkaian kegiatan sakral sekaligus menghibur ini berhasil menyedot antusiasme ratusan warga lokal maupun luar daerah. Sejak siang hari, penonton disuguhi penampilan memukau Reog Jaranan 'Tri Bawono', musik keroncong, hingga puncaknya pertunjukan Wayang Kulit semalam suntuk bersama Dalang Ki Surono Gondho Taruno dari RRI Surabaya.
Selain aspek hiburan, prosesi sakral yang menjadi inti dari tradisi ini juga tetap dijaga dengan khidmat. Paguyuban menggelar tradisi mencuci pusaka keris atau jamasan pusaka sebagai bagian utama dari ritual menyambut bulan Suro. Tak hanya itu, pihak panitia juga menyediakan satu gunungan raksasa serta tumpeng sebagai simbol wujud syukur yang mendalam kepada Sang Pencipta atas berkah dan keselamatan yang melimpah.
Suasana semakin meriah dan sarat akan nilai kebersamaan usai prosesi doa bersama rampung dibacakan. Gunungan raksasa dan tumpeng syukuran tersebut langsung diserbu dan menjadi rebutan warga yang antusias, bahkan banyak dari mereka yang sudah sabar menunggu sejak sore hari demi mendapatkan berkah dari acara tersebut.
Acara ini terbukti tidak hanya menjadi panggung kebudayaan, melainkan juga penggerak roda ekonomi warga lokal melalui pelibatan ratusan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pedagang kaki lima yang memadati area sekitar lokasi acara.
Dedi Setiawan selaku Penanggung Jawab Acara dari Paguyuban Murti Tomo Waskito Tunggal menjelaskan bahwa Suran Agung ini merupakan agenda rutin setahun sekali yang konsisten digelar demi merawat tradisi Satu Suro.
"Agenda ini dilaksanakan setahun satu kali dan sudah berjalan bertahun-tahun. Rangkaian kegiatannya mulai dari jamasan pusaka, pagelaran budaya, musik keroncong, hingga kesenian tradisional lainnya. Harapan kami, nilai-nilai luhur Jawa semakin muncul kembali, terutama di kalangan generasi muda atau tunas-tunas muda sebagai penerus kanoman," ujar Dedi Setiawan saat diwawancarai.
Di tempat yang sama, Heruwidi selaku Ketua Matra (Masyarakat Adat Nusantara) Lamongan sekaligus Kepala BPKAD Lamongan mengapresiasi tinggi kemasan acara Suran Agung tahun ini. Menurutnya, konsep pelestarian budaya hari ini harus adaptif dan inklusif.
"Ini luar biasa menurut saya. Ini adalah bentuk nyata kita melestarikan dan menguri-uri budaya leluhur Nusantara. Agar budaya ini tetap eksis, kita harus fleksibel. Jadi, tidak harus selalu di tempat yang sunyi atau di dalam kamar yang gelap (peteng). Tetapi hari ini kita lihat ada kolaborasi luar biasa antara tampilan budaya dengan pemberdayaan ekonomi UMKM dan para penjual. Inilah fleksibilitas budaya dasar dari adat bangsa Indonesia," ungkap Heruwidi tegas.
Dirinya juga menambahkan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan senantiasa memberikan dukungan penuh terhadap pelestarian adat semacam ini karena dinilai sebagai akar identitas bangsa.
"Insyaallah Pemkab selalu mendukung penuh. Hal ini dibuktikan dengan hadirnya sinergi langsung dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Budaya ini adalah akar dari bangsa kita, akar Nusantara yang harus dijaga bersama," pungkasnya. (yan)
What's Your Reaction?

