Lebaran 2026: Produksi Sampah Tulungagung Meledak 1.000 Ton dalam Sepekan
Dinas Lingkungan Hidup Tulungagung mencatat kenaikan produksi sampah hingga 7 persen selama momentum Lebaran 2026, dengan puncak mencapai 1.000 ton per minggu.
Tulungagung, (afederasi.com) – Lonjakan aktivitas masyarakat selama perayaan Idul Fitri 2026 berdampak langsung pada peningkatan volume limbah di Kabupaten Tulungagung. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat, produksi sampah mingguan yang biasanya berada di angka 900 ton, merangkak naik hingga menyentuh angka 1.000 ton selama periode lebaran.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kabupaten Tulungagung, Ginanjar Eko Santoso, mengungkapkan bahwa peningkatan ini sudah mulai terasa sejak memasuki bulan suci Ramadhan. Namun, grafik kenaikan paling tajam terlihat saat masyarakat melakukan persiapan akhir menyambut hari raya.
“Kalau rata-rata mingguan biasanya sekitar 900 ton, saat menjelang Lebaran naik menjadi sekitar 1.000 ton. Jadi ada peningkatan kurang lebih 7 persen,” ujar Ginanjar saat dikonfirmasi pada Senin (30/3/2026).
Puncak penumpukan sampah tercatat terjadi pada 19 Maret 2026 atau H-1 Lebaran. Untuk mengantisipasi melubernya limbah di ruang publik, DLH harus menyiagakan personel dan armada pengangkut untuk bekerja ekstra keras. "Aktivitas pengangkutan bahkan kami lakukan hingga pukul 24.00 WIB guna memastikan tidak ada penumpukan di titik-titik krusial," tegasnya.
Tercatat ada sekitar 200 titik pengangkutan yang tersebar di seluruh penjuru kabupaten. Dari total volume yang masuk ke tempat pembuangan, sampah organik atau domestik rumah tangga masih menjadi pemandangan dominan. Fenomena ini dipicu oleh tradisi bersih-bersih rumah secara massal yang dilakukan warga sesaat sebelum hari kemenangan tiba.
“Banyak lokasi sudah dibersihkan warga, sampah lama dikeluarkan bersamaan. Akibatnya sekitar 60 persen sampah yang kami angkut adalah jenis domestik,” jelas Ginanjar.
Meski volume sampah selama tujuh hari masa Lebaran tetap tinggi di angka 950 ton per minggu, kondisi tersebut dinilai jauh lebih stabil dibandingkan lonjakan pada malam takbiran. Menurut Ginanjar, pola konsumsi masyarakat saat hari raya cenderung mirip dengan aktivitas harian di bulan puasa yang memang sudah cukup tinggi sejak awal.
Terkait infrastruktur, Ginanjar memastikan seluruh kelurahan di Tulungagung telah memiliki Tempat Penampungan Sementara (TPS). Namun, ia mengakui belum semua desa memiliki fasilitas serupa. Bagi desa yang ingin mengelola sampahnya, DLH membuka pintu koordinasi melalui pembangunan mandiri maupun pengajuan bantuan.
“Mekanismenya bisa mengajukan ke DLH atau membangun sendiri. Nanti pengangkutan tetap kami yang mengatur rutenya,” katanya.
Menutup keterangannya, Ginanjar mengingatkan perihal retribusi pelayanan kebersihan yang kini dipatok sebesar Rp 5 ribu per bulan untuk tiap rumah tangga. Aturan ini merujuk pada Perda tahun 2023, di mana kerja sama pengangkutan dilakukan melalui nota kesepahaman (MoU) setiap awal tahun untuk menjamin kelancaran tata kelola limbah di Tulungagung.(riz/dn)
What's Your Reaction?



