Lamongan Kokohkan Status Lumbung Pangan Nasional, Wamentan RI: Kunci Panen Melimpah

"Hari ini kita melaksanakan gerakan tanam padi secara serentak di Jawa Timur. Lamongan adalah kabupaten dengan produktivitas pangan tertinggi di Jawa Timur, sementara Jawa Timur sendiri merupakan provinsi dengan produktivitas pangan tertinggi di Indonesia," ujar Sudaryono di lokasi acara.

30 May 2026 - 20:57
Lamongan Kokohkan Status Lumbung Pangan Nasional, Wamentan RI: Kunci Panen Melimpah
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono didampingi pejabat terkait saat mengoperasikan mesin penanam padi (rice transplanter) pada Gerakan Tanam Padi Serentak di Desa Kebalankulon, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan. (Iyan Farikh/afederasi.com)

Lamongan, (afederasi.com) – Kabupaten Lamongan kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pilar utama ketahanan pangan nasional. Tidak hanya menjadi daerah swasembada pangan di Jawa Timur, kabupaten ini terus memperkuat perannya sebagai penopang lumbung pangan Indonesia lewat modernisasi pertanian yang masif.

Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Republik Indonesia, Sudaryono, saat menghadiri kegiatan Gerakan Tanam Padi Serentak di Desa Kebalankulon, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, Sabtu (30/5/2026).

Dalam kunjungannya, Sudaryono memberikan apresiasi tinggi terhadap capaian sektor pertanian di Lamongan. Berdasarkan data terkini, Lamongan sukses bertengger sebagai kabupaten dengan produktivitas pangan tertinggi di Jawa Timur, provinsi yang notabene merupakan produsen pangan terbesar di Indonesia.

"Hari ini kita melaksanakan gerakan tanam padi secara serentak di Jawa Timur. Lamongan adalah kabupaten dengan produktivitas pangan tertinggi di Jawa Timur, sementara Jawa Timur sendiri merupakan provinsi dengan produktivitas pangan tertinggi di Indonesia," ujar Sudaryono di lokasi acara.

Sudaryono mengungkapkan, berbagai indikator pertanian di Kabupaten Lamongan menunjukkan tren positif yang sangat signifikan. Laporan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan mencatat adanya peningkatan produksi, distribusi pupuk yang kian lancar dengan harga terjangkau, kualitas hasil panen yang membaik, hingga perluasan area tanam.

Pemerintah daerah optimis target luas panen tahun ini mampu melonjak drastis mencapai 233 ribu hektare, naik signifikan dibanding tahun sebelumnya yang berada di angka sekitar 192 ribu hektare.

Wamentan menegaskan bahwa rumus mendongkrak ketahanan pangan nasional sebenarnya sangat sederhana, yaitu memperluas area tanam demi melipatgandakan hasil produksi saat panen tiba.

"Intinya yang kita panen adalah hasil dari yang kita tanam. Jadi kuncinya cuma satu, kalau ingin panen lebih banyak maka tanamnya harus lebih banyak. Tidak ada cara lain," cetus Sudaryono lugas.

Untuk mendukung misi besar ini, Kementerian Pertanian berkomitmen penuh memastikan seluruh kebutuhan dasar para petani di daerah dapat terpenuhi tanpa hambatan, mulai dari hulu hingga hilir.

"Supaya petani bisa menanam lebih banyak, semua kebutuhannya harus dipenuhi. Air irigasi tersedia, pupuk tersedia, bibit tersedia, alat mesin pertanian (alsintan) juga tersedia. Kalau semua itu terpenuhi, Insyaallah petani bisa menanam lebih banyak dan hasil panennya juga akan lebih banyak," imbuhnya.

Di lokasi yang sama, Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, turut melayangkan pujian atas langkah maju sektor pertanian Lamongan yang dinilai telah berhasil menerapkan sistem modernisasi pertanian yang terintegrasi.

Rachmat menilai, penggunaan implementasi teknologi mutakhir menjadi kunci utama dalam menggenjot produktivitas sekaligus mendongkrak kesejahteraan hidup para petani lokal.

"Saya senang sekali melihat proses budidaya pertanian di Lamongan yang sudah semakin modern. Sekarang persemaian tidak lagi dilakukan langsung di sawah, tetapi menggunakan baki atau tray," ungkap Rachmat.

Ia juga merinci bagaimana rantai teknologi pertanian modern kini telah bekerja secara riil di ladang-ladang Lamongan.

"Penanamannya menggunakan transplanter, pemupukannya memakai drone, panennya menggunakan combine harvester, kemudian hasilnya diolah melalui penggilingan yang baik, disimpan dengan sistem yang baik, lalu didistribusikan dan dijual melalui koperasi-koperasi," jelas Kepala Bappenas tersebut.

Rachmat menilai, pola pembangunan agrobisnis seperti ini menjadi bukti konkret bahwa program hilirisasi pertanian tidak melulu hanya menguntungkan pelaku usaha skala besar di sektor pengolahan, tetapi justru berdampak langsung pada kantong para petani di daerah.

Dengan modal potensi lahan yang luas dan kesiapan infrastruktur, Lamongan diyakini sangat siap memelopori hilirisasi agrikultur nasional.

"Jadi kembali lagi, Lamongan ternyata bukan hanya unggul di jagung, tidak hanya unggul di padi, tetapi juga memiliki peluang besar untuk unggul dalam hilirisasi pertanian. Ini yang akan menjadi kekuatan baru bagi pembangunan ekonomi daerah sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional," pungkas Rachmat.

Gerakan tanam serentak ini diharapkan menjadi pemantik bagi wilayah lain di Indonesia untuk mempercepat peningkatan produksi beras nasional guna mewujudkan cita-cita swasembada pangan yang berkelanjutan. (yan)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow