Kisah Pasutri di Cerme Gresik Sulap Rumah Pribadi Menjadi Ruang Literasi di Tengah Gempuran Gawai

25 Jul 2026 - 15:59
Kisah Pasutri di Cerme Gresik Sulap Rumah Pribadi Menjadi Ruang Literasi di Tengah Gempuran Gawai
Rumah Baca Nusantara di desa Betiting Kecamatan Cerme Gresik menjadi ruang literasi bagi anak-anak ditengah gempuran gawai dan media sosial (Ist/afederasi.com)

Gresik, (afederasi.com) - Di tengah maraknya penggunaan gawai untuk membaca dan belajar, pasangan suami istri Ahmad Irham Fauzi (43) dan Wenda Febrianti (40) memilih menghadirkan ruang belajar bersama di rumah mereka.

Rumah di Perumahan Alam Singgasana, Desa Betiting, Kecamatan Cerme, Gresik, Jawa Timur, itu disulap menjadi Rumah Baca Nusantara atau yang lebih dikenal dengan sebutan Rumba Nusantara.

Wenda menuturkan, Rumba Nusantara berdiri sejak 1 Juni 2014. Gagasan tersebut bermula dari perjalanan mereka sebagai orang tua.

Wenda dan Fauzi sebelumnya bertemu saat menempuh pendidikan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Fauzi merupakan mahasiswa angkatan 2001 yang dikenal gemar membaca, sedangkan Wenda adalah mahasiswi Statistika angkatan 2004.

“Awalnya kami tidak pernah merencanakan untuk mendirikan taman bacaan masyarakat. Rumba Nusantara justru tumbuh dari perjalanan kami sebagai orang tua. Ketika anak pertama lahir, kami mulai memikirkan pendidikan seperti apa yang ingin kami berikan,” ujar Wenda, Jum'at (24/07/2026).

Keduanya kemudian memutuskan memberikan pendidikan berbasis keluarga atau homeschooling kepada dua anak mereka, Srikandi (15) dan Banyu Giri (10).

Dalam proses tersebut, buku menjadi bagian penting. Selain mengenalkan dunia kepada anak, buku juga digunakan untuk merangsang imajinasi, membangun percakapan, dan menjawab berbagai pertanyaan yang muncul.

Namun, seiring pertumbuhan anak, Wenda dan Fauzi menyadari bahwa pendidikan tidak cukup berlangsung di dalam keluarga. Anak-anak juga membutuhkan teman, ruang bermain, pengalaman sosial, serta kesempatan untuk belajar bersama.

Dari situlah muncul pemikiran bahwa koleksi buku di rumah mereka seharusnya tidak hanya dinikmati oleh keluarga sendiri.

“Dari pemikiran sederhana itulah gagasan Rumba Nusantara mulai tumbuh,” ucapnya.

Rumba Nusantara dirintis secara sederhana. Garasi berukuran 4,5 x 3 meter dan ruang tamu sekitar 5,5 x 3 meter di rumah mereka digunakan sebagai ruang membaca.

Wenda dan Fauzi menyisihkan tabungan keluarga selama sekitar satu tahun untuk membeli buku. Dari tabungan tersebut, terkumpul sekitar 75 buku yang menjadi koleksi awal.

“Setiap buku memiliki arti, karena menjadi awal keberanian kami untuk membuka rumah dan berbagi dengan anak-anak di lingkungan sekitar,” jelas Wenda.

Perlahan, keberadaan Rumba Nusantara mulai dikenal. Dukungan datang dari teman, relawan, komunitas, dan berbagai pihak. Bantuan yang diberikan tidak hanya berupa buku, tetapi juga rak penyimpanan, alat tulis, perlengkapan kegiatan, konsumsi, publikasi, hingga tenaga relawan.

Koleksi Rumba Nusantara pun terus bertambah. Bacaannya tidak hanya berupa cerita anak, tetapi juga mencakup buku pengetahuan umum, pendidikan, pengasuhan, agama, sastra, keterampilan, pengembangan diri, dan bacaan keluarga.

Salah satu dukungan terbesar datang dari Perpustakaan Nasional yang memberikan sekitar 1.000 buku cerita anak beserta rak penyimpanannya.

Meski demikian, Wenda menegaskan, pengelolaan Rumba Nusantara hingga kini tetap mengandalkan pendanaan swadaya.

Ia sengaja menjadikan rumah pribadi sebagai taman bacaan karena tidak ingin menunggu memiliki gedung besar atau dana yang cukup untuk memulai.

Menurut Wenda, rumah justru memiliki kekuatan tersendiri sebagai ruang belajar. Anak-anak tidak merasa datang ke tempat yang terlalu formal. Mereka bisa duduk di lantai, memilih buku sendiri, berbincang, bermain, atau sekadar melihat-lihat koleksi.

Membaca dengan Cara yang Menyenangkan

Pada awal berdiri, kegiatan utama Rumba Nusantara adalah membaca dan meminjam buku. Pengunjungnya didominasi anak-anak.

“Ada anak yang datang karena tertarik pada gambar sampul, ada yang awalnya hanya ikut bermain, dan ada pula yang berulang kali mencari cerita kesukaannya,” cerita Wenda.

Dari pengalaman tersebut, Wenda menyadari bahwa budaya membaca tidak selalu tumbuh dengan cara yang sama. Anak-anak membutuhkan pendekatan yang menyenangkan agar tertarik berinteraksi dengan buku.

Karena itu, kegiatan membaca kemudian dikombinasikan dengan mendongeng, menggambar, melukis, membuat prakarya, permainan tradisional, dan kegiatan kreatif lainnya.

Salah satu kegiatan yang pernah digelar adalah Melukis Cinta, Cinta Melukis. Kegiatan tersebut memadukan aktivitas melukis, mendengarkan dongeng, dan permainan tradisional. Ratusan anak, orang tua, pemuda, serta komunitas turut ambil bagian.

Rumba Nusantara juga pernah menggelar Kenduri Buku bersama Gresik Book Party. Koleksi buku digelar di atas karpet di ruang tamu dan garasi rumah. Pengunjung bebas memilih buku, membaca, berdiskusi, dan menikmati suasana bersama.

“Melalui kegiatan itu, kami ingin menghadirkan buku bukan sebagai benda yang hanya boleh disentuh dengan aturan kaku, melainkan sebagai bagian dari perjumpaan sehari-hari,” ucap Wenda.

Seiring waktu, kegiatan Rumba Nusantara tidak hanya menyasar anak-anak. Berbagai agenda juga melibatkan orang dewasa, keluarga, pemuda, pegiat literasi, komunitas, hingga organisasi sosial keagamaan.

Salah satunya adalah Kiswah Female, forum kajian dan pemberdayaan perempuan. Kegiatannya tidak hanya membahas persoalan keagamaan, tetapi juga pendidikan keluarga, pembuatan kompos dan eco-enzyme, hingga pelatihan perawatan jenazah.

“Pelatihan perawatan jenazah menjadi salah satu kegiatan yang sangat membekas, karena berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. Tidak semua perempuan memahami tata cara merawat jenazah,” tuturnya.

Sejak Oktober 2025, Rumba Nusantara juga membuka kelas catur bersama Sekolah Catur Patriot. Kegiatan tersebut digelar secara rutin dan diikuti anak-anak dari Kecamatan Cerme serta wilayah sekitarnya.

Berhadapan dengan Gawai dan Tantangan Regenerasi

Selama lebih dari satu dekade, Rumba Nusantara mendapat sambutan positif dari masyarakat. Anak-anak dan orang dewasa datang untuk membaca, mengikuti kegiatan, berdiskusi, maupun memberikan dukungan.

Namun, Wenda mengakui tantangan yang dihadapi kini semakin besar.

“Menjaga Rumba Nusantara tetap hidup selama lebih dari satu dekade bukanlah perjalanan yang mudah. Tantangan terbesar adalah perubahan kebiasaan anak-anak. Buku kini harus bersaing dengan gawai, media sosial, permainan digital, dan video pendek yang menyajikan hiburan,” ungkapnya.

Selain perubahan kebiasaan, konsistensi juga menjadi tantangan tersendiri. Rumba Nusantara dikelola di tengah kesibukan Wenda dan Fauzi sebagai orang tua, pekerja, serta bagian dari masyarakat.

Hal yang sama juga dialami para relawan yang memiliki kesibukan masing-masing. Di sisi lain, kebutuhan peserta terus berubah dan dukungan pendanaan tidak selalu tersedia.

Kebutuhan tersebut mencakup pengelolaan koleksi buku, perawatan rak, hingga penyediaan perlengkapan kegiatan.

“Tantangan yang tidak kalah penting adalah regenerasi. Rumba Nusantara tidak dapat selamanya bergantung pada dua orang pendiri. Diperlukan relawan, generasi muda, dan masyarakat yang ikut merasa memiliki,” ujar Wenda.

Kini, setelah 12 tahun berjalan, Wenda berharap Rumba Nusantara tetap menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk bertemu, belajar, berbagi pengalaman, serta mengembangkan minat dan wawasan.

Lebih dari sekadar rumah baca, ia ingin Rumba Nusantara terus menjadi tempat tumbuhnya berbagai gagasan baik di tengah perubahan zaman.(frd)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow