Harga Gabah di Jombang Tembus Rp 8.000
Jombang, (afederasi.com) – Di tengah ancaman cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Indonesia, para petani padi di Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang justru sedang berada di musim panen yang membahagiakan. Pasalnya, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani melonjak tajam, menembus angka Rp 8.000 per kilogram untuk varietas benih unggul.
Kabar gembira ini menjadi berkah tersendiri di tengah tingginya biaya produksi dan tantangan hama. Berdasarkan pantauan di lapangan, harga gabah saat ini bertahan di kisaran Rp 7.700 hingga Rp 8.000 per kilogram, jauh di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan sebesar Rp 6.500.
"Untuk padi lokal hari ini kisaran Rp 7.700, sedangkan untuk padi benih sudah mencapai Rp 8.000. Ini keuntungan besar buat kami," ujar Karsono, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Dusun Ngaren, Desa Plosogenuk, kepada awak media, Kamis (23/7/2026).
Karsono menjelaskan, untuk lahan seluas 1.400 meter persegi, biaya tanam yang dikeluarkan sekitar Rp 2.260.000, terdiri dari biaya tanam Rp 260.000 dan biaya pupuk sekitar Rp 2.000.000. Meskipun biaya operasional cukup tinggi, hasil panen yang didapat sangat memuaskan.
"Alhamdulillah, dengan luas 1.400 m² bisa panen 1.100 kilogram. Kalau dihitung per hektare, bisa mencapai 7,7 ton. Petani sangat puas dengan varietas yang disarankan pemerintah, karena terbukti tahan dan hasilnya melimpah," ungkapnya.
Karsono juga menambahkan bahwa keluhan hama tahun ini relatif terkendali. Meskipun ada serangan wereng dan ulat, populasi hama tikus tidak begitu banyak sehingga kerusakan tanaman bisa diminimalkan.
Fathulloh, Koordinator PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) sekaligus Koordinator Wilayah BPP Kecamatan Perak, menjelaskan bahwa tingginya harga gabah saat ini merupakan konsekuensi dari menurunnya volume panen pada musim kemarau tahun ini.
"Volume panen tidak sebanyak musim hujan. Luas panennya juga lebih sempit, sementara serapan kebutuhan tetap tinggi. Itu sebabnya harga gabah masih cukup bagus," terangnya.
Fathulloh memaparkan, areal tanaman padi sawah di Kecamatan Perak untuk musim tanam kedua mencapai 1.600 hektare. Sementara untuk musim tanam ketiga, luasan diprediksi berkisar 1.200–1.300 hektare, tergantung kondisi musim.
"Kemarin saat musim kemarau basah, luasan tanam bisa mencapai 1.500 hektare. Bahkan lahan yang dulu ditanami komoditas lain, sekarang dialihkan ke padi berkat program OPLAH (Optimasi Lahan) dari pemerintah. Petani mendapat bantuan pompa sibel, pipa distribusi, dan uang olah lahan," tambahnya.
Sistem Kemitraan Permudah Petani
Salah satu faktor yang membuat petani di Perak semakin diuntungkan adalah adanya sistem kemitraan antara kelompok tani dengan KUB (Kelompok Usaha Bersama). Melalui skema ini, petani tidak perlu mengeluarkan biaya di awal. Semua biaya mulai dari benih hingga panen dipotong setelah masa panen tiba.
"Poktan Ngaren ini melakukan kemitraan dengan KUB. Biaya panen menggunakan mesin combine dan biaya glangsing (angkut) semuanya dipotong setelah panen. Harga jual gabah ke kelompok mitra saat ini mencapai Rp 8.000 per kilogram," pungkas Fathulloh.
Meskipun ancaman cuaca ekstrem seperti El Nino mulai dirasakan dampaknya, petani di Kecamatan Perak tetap optimistis. Dengan harga gabah yang terus bertahan di level tinggi dan dukungan program pemerintah, sektor pertanian di Jombang menunjukkan daya tahan yang kuat.
Kenaikan harga gabah ini tidak hanya menyejahterakan petani, tetapi juga menjadi indikator positif bagi ketahanan pangan daerah. Para petani berharap harga tetap stabil hingga musim panen berikutnya, sehingga mereka bisa terus bersemangat mengolah lahan dan memproduksi beras berkualitas untuk masyarakat.(san)
What's Your Reaction?

