Gelorakan 'Madiun Bersahaja', Siswa SMK PGRI 1 Mejayan Tegas Tolak Radikalisme

"Ini adalah langkah preventif untuk memutus rantai radikalisme yang berpotensi memecah belah bangsa di lingkungan pendidikan. Guru dan siswa harus mampu mengidentifikasi benih-benih tersebut sejak dini," tegas Fajar.

22 Apr 2026 - 10:23
Gelorakan 'Madiun Bersahaja', Siswa SMK PGRI 1 Mejayan Tegas Tolak Radikalisme
Kegiatan Fasilitasi Pencegahan Paham Radikalisme di SMK PGRI 1 Mejeyan oleh Bakesbangpol Kabupaten Madiun dengan narasumber eks Napiter Erfin Wibowo, Rabu 22 April 2026. (Hendri Wahyu/AF)

Madiun, (afederasi.com) - Suasana aula SMK PGRI 1 Mejayan bergetar saat puluhan siswa serentak meneriakkan komitmen kebangsaan. "Madiun Bersahaja: Stop Radikalisme, Mulai dari Kita! Kabupaten Madiun Aman, Pelajar Nyaman, Masa Depan Cemerlang, NKRI Harga Mati!" seru mereka penuh semangat, Rabu (22/4/2026).

Pekikan yel-yel tersebut menandai dibukanya agenda Fasilitasi Pencegahan Paham Radikalisme yang diinisiasi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Madiun, berkolaborasi dengan BIN (Binda) Jawa Timur Posda Kabupaten Madiun. Puluhan pelajar dan tenaga pendidik hadir untuk membedah strategi pertahanan ideologi di era digital.

Kabid Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Bakesbangpol Kabupaten Madiun, Fajar Syahrudin, menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap sebaran paham ekstrem. Menurutnya, kegiatan ini merupakan tindak lanjut koordinasi tingkat provinsi yang menyoroti darurat sebaran paham radikal yang menyasar anak usia sekolah melalui kanal digital secara terselubung.

"Ini adalah langkah preventif untuk memutus rantai radikalisme yang berpotensi memecah belah bangsa di lingkungan pendidikan. Guru dan siswa harus mampu mengidentifikasi benih-benih tersebut sejak dini," tegas Fajar.

Sejalan dengan itu, Kaposda BIN Kabupaten Madiun, Andri Setyawan, S.H., M.H., memaparkan adanya pergeseran paradigma ancaman dari fisik ke digital. Ia mengingatkan bahwa radikalisme modern sering kali tampil "simpatik" melalui konten motivasi semu dan narasi eksklusif.

"Waspadai grup percakapan tertutup di WhatsApp atau Telegram yang membatasi dialog terbuka. Jadikan Empat Pilar Kebangsaan sebagai fondasi etika dalam menyaring informasi di media sosial agar tidak mudah terprovokasi," pesan Andri.

Momen paling krusial dalam acara ini adalah testimoni dari Erfin Wibowo, seorang eks Narapidana Teroris (Napiter) asal Madiun. 

Ia membongkar teknik cuci otak yang memanipulasi empati remaja menjadi kemarahan destruktif. Erfin juga menceritakan kerasnya sistem High Risk di Lapas Nusakambangan sebagai pengingat bagi para siswa.

"Di sana berlaku sistem One Man One Cell. Saya berada di sel sempit berukuran 2x1,5 meter dengan pengawasan CCTV 24 jam penuh. Isolasi total ini memang dirancang untuk memutus komunikasi ideologi, namun juga menjadi titik balik saya untuk berefleksi dan kembali setia kepada NKRI," ungkapnya.
Kepala SMK PGRI 1 Mejayan, Sampun Hadam, menyambut baik program tersebut sebagai penguat karakter di sekolahnya yang heterogen. Ia menilai perbedaan budaya di sekolah justru menjadi kekuatan untuk menyatukan visi.

"Selain membentengi mereka dari paham radikal, kami juga fokus menyiapkan lulusan yang kompetitif secara internasional agar mampu menembus pasar kerja global," jelas Sampun.
Kegiatan yang dimoderatori oleh akademisi Anjar Kusisiyanah, M.Hum ini berlangsung interaktif dan ditutup dengan komitmen bersama menjaga kondusivitas wilayah. Melalui sinergi Bakesbangpol, BIN, dan dunia pendidikan, Kabupaten Madiun optimistis mencetak "Generasi Emas" yang cinta tanah air. (Hen)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow