Empat Bulan Terendam, Warga Lamongan Berharap Banjir Surut saat Idul Fitri
"Sudah kurang lebih empat bulan (banjirnya). Semuanya rumah, jalan, terus sawah (tambak) ya sudah tenggelam semua. Jadi ya tidak ada pemasukan. Ya ini yang susah, orang-orang banyak yang khawatir. Banjir hari raya, ya jadi sekadar untuk merayakan saja. Jajannya mungkin tidak banyak tahun ini. Harapannya ya banjir cepat surut, " ungkap Sutono korban banjir dengan nada lirih.
Lamongan, (afederasi.com) – Suasana bulan suci Ramadan yang seharusnya penuh kekhidmatan, kini justru dirundung kesedihan bagi warga Dusun Gendol, Desa Gempolpendowo, Kecamatan Glagah, Lamongan. Hingga saat ini, pemukiman mereka masih terkepung banjir akibat luapan sungai Bengawan Jero yang tak kunjung surut selama empat bulan terakhir.
Pantauan di lokasi pada Sabtu siang (7/3/2026), menunjukkan air masih merendam rumah, akses jalan desa, hingga lahan tambak milik warga. Kondisi ini memaksa warga untuk beradaptasi dengan cara yang tidak biasa demi keselamatan.
Salah seorang warga terdampak, Sutono, mengungkapkan bahwa banjir yang menggenang terlalu lama telah menyebabkan permukaan jalan menjadi berlumut dan sangat licin. Akibatnya, banyak warga yang melintas menggunakan kendaraan roda dua seringkali terpeleset dan jatuh.
"Dikasih waring (jaring plastik) itu karena kemarin banyak orang yang jatuh, karena licin. Jadi dipasang waring di sepanjang jalan," ujar Sutono saat ditemui di lokasi.
Sutono menjelaskan bahwa pemasangan jaring tersebut murni merupakan inisiatif swadaya masyarakat. Warga secara sukarela melakukan iuran dan mengumpulkan jaring milik pribadi untuk dihamparkan di atas jalan yang terendam guna meningkatkan traksi ban kendaraan maupun pijakan kaki.
Tak hanya persoalan jalan, warga juga harus berjuang ekstra menjaga bagian dalam rumah mereka. Sejumlah warga tampak menggunakan pompa air mandiri untuk membuang air yang merembes masuk ke rumah mereka.
Penderitaan warga kian terasa di tengah momen puasa dan menjelang hari raya Idulfitri. Sutono mengaku, perputaran ekonomi warga lumpuh total karena lahan tambak yang menjadi tumpuan hidup turut tenggelam.
"Sudah kurang lebih empat bulan (banjirnya). Semuanya rumah, jalan, terus sawah (tambak) ya sudah tenggelam semua. Jadi ya tidak ada pemasukan," keluh Sutono dengan nada lirih.
Ia menambahkan bahwa kondisi ini sangat mengganggu aktivitas ibadah warga. Meski bangunan masjid tidak terendam, akses jalan dari kampung menuju masjid maupun ke jalan poros utama semuanya tertutup air. Hal ini menyebabkan jumlah jamaah yang datang ke masjid menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Menghadapi lebaran yang tinggal menghitung hari, warga Dusun Gendol hanya bisa pasrah. Harapan untuk merayakan hari kemenangan dengan meriah seolah pupus oleh genangan air yang menetap di halaman rumah mereka.
"Ya ini yang susah, orang-orang banyak yang khawatir. Banjir hari raya, ya jadi sekadar untuk merayakan saja. Jajannya mungkin tidak banyak tahun ini. Harapannya ya banjir cepat surut," pungkasnya. (yan)
What's Your Reaction?



