Empat Bulan Terendam Banjir, Warga Bojoasri Lamongan Rayakan Idul fitri dalam Keterisolasian
"Banjir kali ini sangat parah dibanding tahun sebelumnya. Kejadiannya mulai akhir November 2025 sampai sekarang Maret 2026 belum juga surut. Ekonomi warga lumpuh total karena akses jalan sama sekali tidak bisa dilalui," ujar Madekur dengan nada getir.
Lamongan, (afederasi.com) – Suasana Hari Raya Idul Fitri yang seharusnya penuh sukacita, terasa kelabu bagi warga di dua dusun di Desa Bojoasri, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan. Hingga Senin (23/03/2026), banjir akibat luapan Sungai Bengawan Jero yang telah merendam kawasan tersebut selama lebih dari empat bulan tak kunjung surut.
Intensitas hujan yang tinggi serta ketidakmampuan anak sungai Bengawan Solo tersebut menampung debit air membuat akses jalan, fasilitas umum, hingga pemukiman warga lumpuh total. Kondisi ini memaksa warga merayakan lebaran di tengah kepungan air.
Madekur, salah satu warga Bojoasri, mengungkapkan bahwa banjir kali ini merupakan yang terparah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, air mulai naik sejak akhir November 2025 dan bertahan hingga Maret 2026 ini.
"Banjir kali ini sangat parah dibanding tahun sebelumnya. Kejadiannya mulai akhir November 2025 sampai sekarang Maret 2026 belum juga surut. Ekonomi warga lumpuh total karena akses jalan sama sekali tidak bisa dilalui," ujar Madekur dengan nada getir.
Dampak banjir ini juga memutus tradisi mudik yang dinanti-nantikan. Madekur mengaku sedih karena sanak saudaranya dari luar desa tidak bisa berkunjung, bahkan anak kandungnya pun terpaksa urung pulang kampung.
"Anak saya tidak bisa pulang kampung karena akses masuk desa cukup sulit. Lebaran saat ini kami tidak bisa merayakan sepenuhnya," imbuhnya.
Hal senada dirasakan oleh Sunan, warga setempat lainnya. Momen Idul Fitri yang identik dengan kumpul keluarga besar terpaksa dilewati dengan kesunyian. Tingginya genangan air di jalan utama membuat kendaraan bermotor tidak mungkin melintas.
"Lebaran tahun ini anak saya tidak pulang kampung karena akses jalan tidak bisa dilewati kendaraan. Tidak bisa kumpul keluarga seperti biasanya," keluh Sunan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, akses jalan yang menghubungkan Desa Bojoasri menuju Desa Waruk, Kecamatan Karangbinangun, terendam sepanjang lebih dari 500 meter. Ketinggian air bervariasi antara 60 hingga 80 sentimeter, atau setinggi lutut hingga paha orang dewasa di titik-titik tertentu.
Demi menjaga asa silaturahmi antar tetangga, warga secara swadaya membangun jembatan darurat yang terbuat dari bambu (sesek). Jembatan ini menjadi satu-satunya jalur alternatif yang hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki dan sepeda motor secara bergantian.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih berharap adanya langkah konkret dari pemerintah daerah untuk menangani luapan Sungai Bengawan Jero agar aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat tidak terus terbelenggu oleh banjir tahunan yang kian memburuk. (yan)
What's Your Reaction?



