Syukuri Kemerdekaan dan Berdirinya NKRI, Shiddiqiyyah Salurkan Santunan Ratusan Juta Rupiah

27 Feb 2026 - 13:27
Syukuri Kemerdekaan dan Berdirinya NKRI, Shiddiqiyyah Salurkan Santunan Ratusan Juta Rupiah
Santunan anak yatim dan fakir miskin dalam rangka Tasyakuran Nikmat Kemerdekaan Bangsa Indonesia ke-83 berdasarkan kalender Hijriyah, 9 Ramadan dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 10 Ramadan 1364 H di Ballroom Hotel Yusro, Jombang, Jawa Timur, Jumat (27/02/2026). (Foto: Santoso/afederasi.com)

Jombang, (afederasi.com) – Bulan suci Ramadan 1447 H menjadi momentum penuh berkah bagi keluarga besar Thoriqoh Shiddiqiyyah. Mursyid dan warga Shiddiqiyyah menggelar acara buka bersama sekaligus penyaluran santunan kepada fakir miskin dan anak yatim piatu serentak se-Indonesia. Total nilai santunan lebih dari seratus juta rupiah dibagikan di pusat acara  di Ballroom Hotel Yusro, Jombang, Jawa Timur, Jumat (27/02/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Tasyakuran Nikmat Kemerdekaan Bangsa Indonesia ke-83 berdasarkan kalender Hijriyah, 9 Ramadan dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 10 Ramadan 1364 H.

Tidak hanya dihadiri oleh ribuan warga Thoriqoh Shiddiqiyyah, tetapi juga mendapatkan apresiasi dari berbagai elemen masyarakat dan pemerintah. Hadir sebagai tamu undangan, perwakilan PKK Kabupaten Jombang, Forum Komunikasi Masyarakat Jombang, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), serta Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Jombang.

Dalam kegiatan pusat ini, santunan disalurkan kepada 300 penerima yang terdiri dari 170 fakir miskin dan 130 anak yatim piatu yang tersebar di Kabupaten Jombang. Setiap penerima mendapatkan paket lengkap berupa uang tunai dan sembako dengan total nilai mencapai Rp 110 juta secara keseluruhan. 

Penyaluran santunan dilakukan dengan teliti oleh Organisasi Dhilaal Berkat Rohmat Alloh (DHIBRA) Shiddiqiyyah Pusat berkolaborasi dengan warga Shiddiqiyyah di setiap daerah untuk melakukan survei dan verifikasi data.

"Ada penerima yang sama dari tahun sebelumnya dan ada pula yang baru. Misalnya, untuk anak yatim ada batas maksimal usia 13 tahun. Jika sudah di atas itu, maka tidak masuk kriteria. Kondisi fakir miskin juga bisa berubah. Jika tahun ini tergolong tidak mampu, tahun depan sudah memiliki pekerjaan yang layak, otomatis tidak masuk kriteria. Jadi penerima santunan harus sesuai dengan kriteria," terang Nurhadi, Pengurus DHIBRA Pusat.

Nurhadi menambahkan, dana santunan berasal dari shodaqoh seluruh organisasi di lingkungan Thoriqoh Shiddiqiyyah serta para donatur yang berpartisipasi. Ia menegaskan bahwa program ini adalah implementasi dari ajaran agama untuk menjauhi golongan pendusta.

"Kita sebagai manusia, sebagai orang Islam, dan warga Shiddiqiyyah jangan sampai menjadi pendusta agama, yaitu orang-orang yang menghardik anak yatim dan enggan memberi makan fakir miskin. Jika belum menyantuni dan memperhatikan kaum dhuafa, maka termasuk pendusta agama. Karena itu, DHIBRA mengelola dan menyampaikan santunan secara rutin," tegasnya.

Suasana haru dan bahagia semakin terasa saat anak-anak yatim diajak mengikuti kuis berhadiah menjelang waktu berbuka. Pertanyaan seputar tema kemerdekaan dan puasa Ramadan sukses membuat mereka riang gembira, menambah keberkahan di bulan suci.

Dalam sambutannya, Ketua Umum DHIBRA, Ibu Nyai Shofwatul Ummah, mengingatkan tentang pentingnya mensyukuri nikmat kemerdekaan, baik dalam hitungan tahun Masehi maupun Hijriyah.
"Hitungan masehi, hitungan hijriyyah, itu juga harus kita syukuri.

Itu petunjuk dari Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah supaya kita selalu menjadi orang yang bersyukur. Jika kita bersyukur, nikmatnya akan ditambah oleh Allah. Nikmat perdamaian, nikmat persatuan, nikmat kesejahteraan, nikmat kesehatan untuk bangsa Indonesia semuanya," terangnya.

Lebih lanjut, Ibu Nyai menekankan pentingnya kelestarian amal, bukan hanya besaran nominalnya.
"Berapa pun yang kita salurkan kepada saudara-saudara kita, anak yatim dan fakir miskin, itu tidak masalah. Yang penting itu lestarinya, Ahabbul a'maali ilallahi adwamuha wa in qalla: Amal yang paling disukai Allah adalah yang lestari, meskipun sedikit," tegas Ibu Nyai.

Ia berharap santunan ini membawa kegembiraan yang menjadi pintu keberkahan. "Harapannya mereka gembira, kegembiraan itu membawa keberkahan, apalagi di bulan Ramadan. Menggembirakan fakir miskin dan yatim adalah perintah Rasulullah, bukan sekadar berbagi materi, tetapi juga keberkahan. Semoga hidup mereka lebih berkecukupan dan anak yatim tumbuh menjadi pribadi yang sholeh dan sholehah," harapnya.

Ibu Nyai Shofwatul Ummah menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan wujud syukur atas dua peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadan.

"Dari Shiddiqiyyah ada kegiatan yaitu buka bersama dan santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa dalam rangka karena ini kan tanggalnya tanggal 9 dan 10. Tanggal 9 itu ada sebuah peristiwa besar yaitu kemerdekaan bangsa Indonesia dan tanggal 10 itu berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia di bulan Ramadan dalam perhitungan kalender Hijriyah.

Dalam hal ini dari Bapak Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syekh Muchammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu'thi. Mengatakan hal ini adalah nikmat besar. Jadi acara santunan ini dalam rangka silaturahmi dan menyantuni dalam rangka mensyukuri nikmat kemerdekaan Bangsa Indonesia dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia versi Hijriyah yang ke-83.  

Dari kami, untuk di sini 300 paket dengan nilai total 110 juta. Harapannya dengan kegiatan ini Indonesia tetap jaya dan lestari dalam ridho Allah.Harapannya pemerintahnya juga menjadi amanah yang berpihak kepada rakyat tentunya untuk menjaga Indonesia supaya tetap jaya dan lestari. Karena itu perjuangan dari para pahlawan dahulu yang harus kita isi dengan cara-cara yang baik. 

Masyarakatnya juga baik, miskin, anak yatim, dan fakir miskin. Harapannya kita semua menjadi orang-orang yang amanah untuk Indonesia Raya," pungkasnya.

Hadir mewakili Bupati Jombang Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten 1) Sekretariat Daerah Kabupaten Jombang, Drs.Purwanto, M.KP menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya. Ia mengaku bangga dengan terselenggaranya acara yang memadukan silaturahmi, santunan, dan rasa syukur ini.

"Saya menyambut baik dan mengapresiasi terselenggaranya acara silaturahmi, santunan, dan tasyakuran atas nikmat besar kemerdekaan bangsa Indonesia dan berdirinya NKRI. 

Saya mohon doa, terutama kepada Romo Kyai, mohon doa restu, doakan semoga Jombang ini semakin lama semakin baik dan sejahtera," pungkasnya.

Kegiatan ini juga menjadi simbol solidaritas nasional, karena secara serentak warga Thoriqoh Shiddiqiyyah di berbagai daerah seperti Bali, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Sumatra turut melaksanakan aksi sosial serupa, menebar kebahagiaan di seluruh penjuru tanah air.

Perlu diketahui bahwa Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia berpusat di Pesantren Majma'ul Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah berlokasi di Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.(san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow