Ramadan di Ponpes Attahdzib Jombang : Ngaji 52 Kitab Kuning Kilatan hingga Belajar Budidaya Ikan

25 Feb 2026 - 02:44
Ramadan di Ponpes Attahdzib Jombang : Ngaji 52 Kitab Kuning Kilatan hingga Belajar Budidaya Ikan
Santriwati Pondok Pesantren At Tahzib Ngoro Jombang saat mengaji kitab kuning di waktu bulan suci Ramadan, Selasa (24/02/2026). (Foto: Santoso/afederasi.com)

Jombang, (afederasi.com) – Bulan Ramadan di Pondok Pesantren Attahdzib (PA) Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, tidak hanya diisi dengan ibadah ritual, tetapi juga gemblengan ilmu dan keterampilan hidup. 

Tradisi mengaji kitab kuning yang sudah berlangsung puluhan tahun ini dikemas dalam program "ngaji kilatan" dengan target 52 kitab kuning selama bulan suci.

Berlokasi di perbatasan tiga wilayah (Jombang–Malang–Kediri), pesantren yang didirikan oleh Romo KH Insan Mahin pada tahun 1964 ini memiliki rutinitas khas Ramadan.

Para santri memulai aktivitas sejak selepas Subuh dan baru berakhir sekitar pukul 23.00 WIB. Yang menarik, di sela-sela padatnya pengajian, para santri juga disibukkan dengan kerja nyata: merawat kolam ikan, bertani, hingga belajar pertukangan.

Pengasuh Pondok Pesantren Attahdzib, KH Ahmad Masruh, menjelaskan bahwa Ramadan adalah momentum terbaik untuk memperdalam ilmu agama sekaligus membentuk kemandirian santri.

"Ngaji kitab kuning istilahnya kilatan. Sehari penuh, mulai setelah Subuh sampai jam 11 malam. Ada 52 kitab yang dikaji, santri boleh memilih sesuai minatnya," ujar KH Ahmad Masruh kepada awak media, Selasa (24/2/2026).

Konsep "kilatan" berarti para santri diajak untuk menuntaskan kajian kitab dalam tempo cepat selama Ramadan, tanpa mengurangi esensi pemahaman. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri yang membuat para santri antusias menanti datangnya bulan penuh berkah.

Saat pelajar lain menikmati liburan sekolah, santri dan santri di Ponpes At-tahdzib justru menjalani jadwal padat tanpa hari libur. Seluruh santri, putra dan putri, terlibat dalam rangkaian kegiatan pondok di bawah bimbingan para asatidz dan pengasuh.

Namun, kegiatan di pesantren ini tidak hanya berkutat pada kitab kuning. Pada siang hari, sebagian santri turun ke kolam untuk mengelola budidaya ikan. Mereka terlibat langsung dalam siklus penuh perikanan, mulai dari membersihkan kolam, memilah indukan, melakukan pemijahan, hingga merawat benih dan panen. Ikan yang dibudidayakan beragam, seperti nila, patin, bawal, tombro, dan koi.

Abdul Latif, santri asal Banten, menuturkan bahwa seluruh proses dikelola secara mandiri oleh para santri. "Dari pembibitan sampai panen kami urus sendiri. Ada yang panen dua bulan, ada yang sampai enam bulan, tergantung jenis ikannya," jelasnya.

Aktivitas produktif ini tetap berjalan meskipun para santri sedang berpuasa, terutama untuk pekerjaan seperti perawatan benih ikan dan tanaman yang tidak bisa ditunda. Selain perikanan, para santri juga dibekali keterampilan pertanian, berkebun, dan pertukangan.

KH. Ahmad Masruh menegaskan bahwa model pendidikan terpadu ini adalah wujud dari visi pesantren untuk mencetak generasi yang tangguh. Ketika para santri kelak kembali ke masyarakat, mereka tidak hanya membawa bekal keilmuan agama, tetapi juga keterampilan usaha yang aplikatif.

"Mereka pulang tidak bingung mencari pekerjaan. Sudah punya pengalaman bertani, perikanan, atau keterampilan lain. Bisa langsung terjun di masyarakat," tegasnya.

Ramadan di Pondok Pesantren Attahdzib pun menjelma menjadi madrasah kehidupan yang sesungguhnya. Di tempat ini, memperdalam ilmu, mengasah etos kerja, dan menanamkan kemandirian berpadu dalam satu tarikan ibadah.

Tradisi ngaji kitab kuning yang berpadu dengan kewirausahaan ini menjadi bukti bahwa pesantren mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya. (san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow