PUPR Pacitan Ungkap Biang Kerok Debit Air Meluap Wilayah Kota
Pacitan, (afederasi.com) - Masalah banjir perkotaan di Kabupaten Pacitan tak lagi semata soal drainase yang dangkal.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pacitan mengungkapkan, penggundulan hutan dan masifnya alih fungsi lahan di wilayah hulu sungai diduga kuat turut menjadi pemicu membesarnya debit air yang mengalir ke jantung kota setiap kali hujan deras mengguyur.
Fenomena ini disebut makin terasa dalam beberapa tahun terakhir.
Aliran air dari kawasan hulu menuju Drainase Area Kota Pacitan kini jauh lebih besar dibandingkan kondisi sebelumnya.
Kepala Bidang Bangunan dan Lingkungan Air Minum (BLAM) PUPR Pacitan, Tonny Setyo Nugroho, menyebut perubahan tutupan lahan di kawasan hulu telah mempercepat limpasan air sekaligus membawa sedimentasi dalam jumlah besar.
“Setiap tiga tahun tiap titik drainase area kota di Kabupaten Pacitan ini harus dikeruk karena sedimentasi yang terbawa air. Kalau dulu mungkin tidak ada banjir kota,” ujar Tonny, Selasa, 30 Desember 2025.
Ia memaparkan, wilayah hulu saat ini banyak berubah menjadi lahan hujan milik warga yang didominasi tanaman sengon dan jenis tanaman cepat tumbuh lainnya.
Vegetasi semacam itu dinilai tak mampu menahan tanah secara optimal.
“Daya ikat tanahnya terbatas. Begitu hujan intensitas tinggi turun, sedimentasi langsung ikut terbawa aliran air,” ungkapnya.
Tak berhenti di situ, PUPR Pacitan juga mencatat maraknya pembangunan rumah warga di kawasan hulu sungai.
Alih fungsi lahan tersebut kian memperparah kondisi karena menggerus daya resap tanah.
“Di area hulu sekarang mulai banyak berdiri bangunan rumah-rumah warga. Resapan tanahnya otomatis berkurang,” lanjut Tonny.
Dampaknya terasa nyata. Debit air yang masuk ke sistem drainase kota melonjak drastis.
Saat hujan deras mengguyur Pacitan pada Jumat, 26 Desember 2025, setidaknya tiga titik drainase dilaporkan meluap.
Tiga lokasi itu meliputi Drainase Gerdon di Kelurahan Pucang Sewu, drainase di depan Kantor Kecamatan Pacitan, serta kawasan Blumbang di Kelurahan Sidoharjo.
PUPR menilai, perubahan tutupan lahan di wilayah hulu kini menjadi tantangan paling krusial dalam pengendalian banjir perkotaan Pacitan.
Tanpa penanganan menyeluruh dari hulu ke hilir, banjir kota dikhawatirkan akan menjadi kejadian berulang.
Sebagai langkah antisipasi, PUPR Pacitan menyiapkan sejumlah strategi.
Salah satunya pembangunan Saluran Kanal Barat Kota Pacitan untuk membelokkan aliran dari Hulu Kali Tani agar tidak seluruhnya masuk ke drainase kota.
Selain itu, pembangunan kolam retensi juga telah masuk dalam agenda review master plan PUPR Pacitan.
Kolam tersebut dirancang sebagai penahan debit air sebelum mengalir ke kawasan padat penduduk.
“Penanganan banjir ini tidak bisa instan. Akan kami lakukan bertahap, menyesuaikan kemampuan anggaran daerah dan dinamika tata ruang yang terus berubah,” tutup Tonny. (Feri)
What's Your Reaction?


