Merayakan "Bacaan Buruk": Nyonya Rissa dan Katup Pelepas Tekanan Sosial
Jombang, (afederasi.com) – Di tengah hiruk-pikuk jagat sastra Indonesia yang kerap terpaku pada karya-karya kanonik, sebuah diskusi menarik digelar di Mojag Coffe, yang ada di Desa Gambiran, Kecamatan Mojoagung, Jombang, Jawa Timur, Jumat (10/07/2026).
Acara yang mengusung tema "bacaan buruk" dan tokoh fiktif Nyonya Rissa ini menjadi ajang perbincangan hangat tentang bagaimana masyarakat di masa lalu menemukan ruang bernapas di tengah tekanan sosial dan politik yang ketat melalui karya-karya sastra populer yang kerap dianggap "sampah" oleh elit kebudayaan.
Diskusi yang menghadirkan sejumlah pegiat sastra ini menempatkan buku esai Mahfud Ikhwan sebagai pusat perbincangan. Dalam narasi yang dibangun, "bacaan buruk" dan tokoh fiktif bernama Nyonya Rissa mengemuka sebagai dokumen kemanusiaan yang merekam denyut nadi masyarakat pada periode tertentu.
Nyonya Rissa dan Klaim Epistemologis "Bacaan Buruk"
"Nyonya Rissa" boleh jadi adalah sebuah 'artefak budaya' yang merekam bagaimana jutaan orang biasa menemukan ruang untuk bernapas, merasa, dan bertahan hidup melalui medium yang sering dihakimi sebagai "sampah" oleh elit kebudayaan.
Ada keberanian dalam buku ini untuk menormalisasi pengalaman membaca yang selama ini disembunyikan di balik rak-rak buku sastra kanonik.
Istilah "bacaan buruk" yang dipilih Mahfud Ikhwan bukanlah provokasi murahan, melainkan sebuah klaim epistemologis. Ia menegaskan bahwa literasi tidak pernah bersifat tunggal atau hierarkis.
Bagi banyak generasi yang tumbuh di era Orde Baru hingga awal Reformasi, roman picisan, cerita silat, dan majalah remaja bukanlah pilihan kedua karena ketiadaan akses ke sastra tinggi. Mereka adalah pintu masuk pertama menuju imajinasi, empati, dan pemahaman tentang kompleksitas manusia.
Pengakuan ini penting karena ia membongkar mitos elitis bahwa nilai sebuah teks hanya ditentukan oleh struktur bahasa atau kedalaman filosofisnya. Bacaan picisan memiliki fungsionalitas emosional yang tidak bisa digantikan oleh teks-teks akademis.
Ia mengajarkan tentang kerinduan, pengkhianatan, gairah, dan kekecewaan dengan bahasa yang langsung menyentuh tubuh dan perasaan pembaca, bukan hanya inteleknya.
Untuk memahami mengapa bacaan picisan bisa begitu populer dan berpengaruh, kita harus menempatkannya dalam konteks sosio-politik zamannya. Era kejayaan roman picisan di Indonesia bertepatan dengan periode represi sosial yang intensif.
Di bawah rezim yang mengontrol moralitas publik, menyensor ekspresi seksual, dan menekan kebebasan individu, bacaan-bacaan ini berfungsi sebagai mekanisme pertahanan psikologis kolektif.
Bacaan itu ibarat katup pelepas yang memungkinkan hasrat dan emosi yang dilarang di ruang nyata untuk hidup subur di ruang imajinasi. Ini bukan sekadar soal pelarian. Ada dimensi resistensi halus di dalamnya.
Dengan mengonsumsi bacaan yang dianggap "tidak senonoh", pembaca secara tidak sadar mengklaim otonomi atas tubuh dan pikiran mereka sendiri. Mereka menolak untuk sepenuhnya dibentuk oleh norma-norma resmi yang kaku.
Sejarah mencatat, pada masa kolonial Belanda, karya-karya yang diterbitkan di luar lembaga penerbitan resmi seperti Balai Pustaka kerap dicap sebagai "bacaan liar" .
Stigma serupa juga melekat pada roman Medan yang oleh para pengamat digolongkan sebagai "roman picisan" . Peminggiran ini bukan tanpa kepentingan—ia adalah alat kontrol atas wacana dan moralitas publik.
Mahfud Ikhwan, melalui esai-esainya, menangkap nuansa transgresi ini. Ia tidak menggambarkan pembaca bacaan picisan sebagai korban pasif dari industri hiburan murah, melainkan sebagai agen aktif yang menggunakan teks tersebut untuk menegosiasikan keberadaan mereka di tengah keterbatasan .
Dalam karya-karyanya, Mahfud kerap mengkritik realitas sosial, termasuk soal jenis bacaan anak muda yang melewatkan karya-karya penulis terkemuka Indonesia .
Nostalgia Kritis di Era Digital
Salah satu jebakan terbesar dalam membahas budaya pop masa lalu adalah kecenderungan untuk meromantisasikannya secara berlebihan. Mahfud Ikhwan menyadari hal ini. Nostalgia yang ia tawarkan bukanlah nostalgia buta, melainkan nostalgia yang reflektif. Kita bisa mencintai roman picisan masa kecil kita sambil tetap kritis terhadap pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.
Dalam konteks masa kini, kemampuan untuk melakukan nostalgia kritis ini sangat relevan. Kita hidup di era di mana konten digital sering kali dikemas dalam estetika retro yang dikosongkan dari konteks sejarahnya, mengubah penderitaan masa lalu menjadi sekadar hal yang bisa dikonsumsi dan dijual.
Pertanyaan saat ini adalah apakah kita masih perlu membicarakan bacaan picisan di abad ke-21? Jawabannya terletak pada krisis eksistensial yang dihadapi masyarakat modern.
Di tengah gempuran algoritma media sosial serta tuntutan produktivitas yang toksik, kemampuan untuk menikmati sesuatu yang "tidak berguna" secara instrumental justru menjadi bentuk ketahanan mental yang vital.
Bacaan pop menawarkan jeda kognitif yang diperlukan untuk kewarasan, memvalidasi emosi kita tanpa menuntut kita untuk selalu rasional atau produktif. Ini adalah bentuk self-care yang sering diabaikan dalam wacana kesejahteraan mental yang terlalu terfokus pada optimasi diri.
Pada akhirnya, "Nyonya Rissa" dan esai-esai Mahfud Ikhwan mengingatkan kita bahwa kita adalah makhluk yang utuh. Bisa serius sekaligus santai, bisa kritis sekaligus menikmati, bisa terdidik sekaligus tetap terhubung dengan akar-akar pengalaman manusiawi yang paling dasar.
Diskusi yang digelar Mojag Coffe di Mojoagung Jombang ini menjadi momen penting untuk merayakan keberagaman literasi manusia.
Sebuah undangan untuk mengakui kompleksitas pengalaman membaca kita, dan berani mempertanyakan asumsi-asumsi yang selama ini kita pegang tentang apa yang layak dan tidak layak dibaca.
Karena pada akhirnya, tujuan tertinggi dari literasi, baik itu 'sastra tinggi' maupun bacaan picisan, adalah untuk membuat kita lebih paham akan diri sendiri dan lebih empatik terhadap orang lain.
Kegiatan seperti ini sejalan dengan semangat komunitas literasi di Jombang yang terus menghidupkan diskusi sastra.
Seperti yang diungkapkan Haris Muhtadi, pengelola perpustakaan umum setempat, para pegiat sastra di Jombang selalu terbuka dengan ide atau gagasan para penulis dari luar Jombang untuk dapat didiskusikan secara hangat dalam bincang sastra.
Mojag Coffe Mojoagung sendiri telah menjadi ruang yang konsisten menyelenggarakan diskusi literasi dengan menghadirkan narasumber dari berbagai daerah, termasuk Mahfud Ikhwan sendiri.(san)
What's Your Reaction?

