Sosiologi UMM Hadirkan Perludem, Mahasiswa Belajar Jejaring Sosial dan Demokrasi

10 Jul 2026 - 21:47
Sosiologi UMM Hadirkan Perludem, Mahasiswa Belajar Jejaring Sosial dan Demokrasi
Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan narasumber dari Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) dalam perkuliahan Manajemen Jejaring Sosial Masyarakat Sipil, Jumat (10/7/2026).(Foto: Santoso/afederasi. com)

Malang, (afederasi.com) – Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan narasumber dari Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) dalam perkuliahan Manajemen Jejaring Sosial Masyarakat Sipil, Jumat (10/7/2026). 

Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium Sosiologi UMM ini bertujuan memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai peran masyarakat sipil dalam membangun jejaring kolaboratif serta mendorong praktik demokrasi di Indonesia.

Perkuliahan menghadirkan Heroik Mutaqin Pratama, M.IP, praktisi dari Perludem. Kehadiran lembaga yang aktif mengawal isu kepemiluan dan demokrasi tersebut diharapkan mampu memberikan perspektif praktis kepada mahasiswa mengenai pengelolaan jejaring masyarakat sipil di tengah dinamika sosial-politik yang terus berkembang.

Dalam pemaparannya, Heroik menjelaskan bahwa masyarakat sipil merupakan kelompok yang bekerja secara mandiri, sukarela, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Menurutnya, organisasi masyarakat sipil memiliki posisi strategis sebagai mitra kritis pemerintah dalam mengawal kebijakan publik, memperjuangkan hak-hak warga negara, serta mendorong nilai-nilai demokrasi, kesetaraan, dan keadilan sosial.

"Demokrasi yang sehat tidak hanya bergantung pada negara atau penyelenggara pemilu, tetapi juga membutuhkan masyarakat sipil yang kuat, independen, serta mampu membangun jejaring kolaboratif dalam mengawal kepentingan publik," ujar Heroik.

Ia menjelaskan bahwa jejaring sosial tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas di media digital, melainkan hubungan antarinvidu, komunitas, dan organisasi yang saling terhubung melalui pertukaran informasi, sumber daya, pengetahuan, dan dukungan.

Jejaring yang kuat dinilai mampu meningkatkan efektivitas advokasi, memperluas dukungan publik, serta memperkuat posisi tawar masyarakat sipil dalam proses pengambilan kebijakan.

Selain membahas konsep dasar jejaring sosial, Heroik menguraikan berbagai aktor yang terlibat dalam ekosistem masyarakat sipil, mulai dari organisasi masyarakat sipil, komunitas akar rumput, akademisi, media massa, lembaga donor, hingga pemerintah sebagai mitra kolaborasi.

Mahasiswa juga diperkenalkan pada strategi membangun jejaring melalui penguatan kepercayaan (trust building), penyusunan tujuan bersama, komunikasi yang efektif, serta pengelolaan keberagaman kepentingan dalam sebuah koalisi.

Materi perkuliahan juga mengulas perkembangan gerakan sosial di era digital. Menurut Heroik, media sosial telah menjadi instrumen penting dalam mempercepat penyebaran informasi, memperluas jangkauan kampanye sosial, dan meningkatkan partisipasi masyarakat.

Namun, ia mengingatkan bahwa ruang digital juga menghadirkan tantangan berupa disinformasi, polarisasi politik, ujaran kebencian, serta ancaman keamanan digital yang perlu diantisipasi oleh organisasi masyarakat sipil.

Pada sesi berikutnya, mahasiswa mempelajari konsep social mapping atau pemetaan sosial dalam konteks penyelenggaraan pemilu.

Metode ini digunakan untuk memahami struktur sosial masyarakat, mengidentifikasi aktor-aktor berpengaruh, memetakan jaringan komunikasi, serta mengetahui pola penyebaran informasi politik di tingkat komunitas.

Pemetaan sosial dinilai penting sebagai dasar penyusunan strategi komunikasi publik yang lebih efektif, partisipatif, dan sesuai dengan karakteristik masyarakat.

Sementara itu, dosen pengampu Mata Kuliah Jejaring Sosial, Ahmad Mujahid Arrozy, M.Sos., mengatakan bahwa kolaborasi dengan praktisi merupakan bagian dari upaya Program Studi Sosiologi UMM menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan berbasis pengalaman lapangan.

"Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori jejaring sosial. Mereka juga harus melihat bagaimana konsep tersebut diterapkan dalam praktik, khususnya dalam membangun kolaborasi, memperkuat partisipasi masyarakat, dan mengawal proses demokrasi.

 Kehadiran Perludem memberikan pengalaman belajar yang sangat relevan dengan tantangan sosial-politik saat ini," ujarnya.

Ia berharap mahasiswa mampu mengintegrasikan teori sosiologi dengan praktik pemberdayaan masyarakat sehingga memiliki kompetensi dalam membangun jejaring lintas sektor, melakukan analisis sosial, serta merancang strategi kolaborasi yang berdampak bagi masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Sosiologi UMM kembali menegaskan komitmennya menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan isu-isu kontemporer.

Kolaborasi dengan Perludem menjadi salah satu bentuk penguatan kapasitas akademik mahasiswa agar tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki pengalaman praktis dalam mengelola jejaring masyarakat sipil, memperkuat demokrasi, dan meningkatkan partisipasi publik dalam pembangunan sosial.(san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow