Harga Telur Terjun Bebas, Peternak Ayam Petelur Pacitan Menjerit di Tengah Kerugian
Pacitan, (afederasi.com) - Harga telur ayam ras di tingkat peternak di Kabupaten Pacitan anjlok dalam tiga pekan terakhir.
Di saat biaya pakan terus merangkak naik, harga jual justru terjun hingga di bawah Rp20 ribu per kilogram.
Kondisi ini membuat banyak peternak kehilangan margin keuntungan, bahkan mulai terancam merugi berkepanjangan.
Penurunan harga mulai dirasakan sejak masa libur sekolah.
Berkurangnya permintaan pasar membuat stok telur menumpuk di kandang maupun pedagang.
Agar tidak membusuk, sebagian telur akhirnya dilepas dengan harga jauh di bawah harga pokok produksi.
Peternak ayam petelur asal Kecamatan Pringkuku, Bayu Sukma, mengatakan situasi saat ini menjadi salah satu yang paling berat dalam beberapa waktu terakhir.
Harga jual telur kepada pedagang kini berada di bawah Rp20 ribu per kilogram, padahal agar usaha tetap berjalan peternak membutuhkan harga sedikitnya Rp25 ribu per kilogram.
"Harga telur hancur. Banyak peternak bangkrut. Pedagang maunya beli di bawah harga standar. Selisih Rp500 saja kadang sudah tidak mau membeli," ujarnya, Rabu (8/7/2026).
Bayu mengaku kerugian yang dialami peternak sudah sulit dihitung.
Pendapatan dari penjualan telur tidak lagi mampu menutup tingginya biaya operasional, terutama kebutuhan pakan yang terus meningkat.
"Biasanya harga masih di atas Rp25 ribu per kilogram. Sekarang di bawah Rp20 ribu. Harusnya minimal Rp25 ribu supaya masih ada untung. Sekarang bukan untung, malah buntung," katanya.
Di sisi lain, biaya pakan ayam terus membebani peternak.
Dalam sehari, ia harus mengeluarkan lebih dari Rp400 ribu hanya untuk membeli pakan, sementara jumlah tersebut masih belum mencukupi seluruh kebutuhan ternaknya.
Kondisi serupa dialami peternak ayam petelur asal Kecamatan Kebonagung, Nisa Fauzia.
Ia mengatakan harga telur di pasar grosir maupun toko besar terus turun sehingga ikut menekan harga di tingkat peternak.
Saat ini, telur eceran hanya dijual sekitar Rp22 ribu per kilogram. Bahkan, menurutnya, ada pedagang yang berani melepas telur dengan harga Rp19.500 per kilogram.
"Pakannya sekarang sekitar Rp375 ribu per sak, tetapi harga telur semakin murah. Ya jelas peternak rugi karena biaya pakan terus naik," katanya.
Nisa menuturkan penurunan harga mulai terjadi sejak libur sekolah sekitar tiga pekan lalu.
Berkurangnya permintaan membuat banyak telur tidak segera terserap pasar.
Ia menduga berhentinya sementara distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah turut memengaruhi penyerapan telur dari peternak.
"Sejak libur sekolah harga mulai turun. Kemungkinan karena MBG juga berhenti sementara, jadi telur banyak yang menumpuk. Daripada busuk akhirnya dijual murah," tambahnya.
Para peternak berharap harga telur segera kembali stabil agar usaha mereka tetap bertahan.
Mereka juga meminta pemerintah mencarikan solusi agar harga di tingkat peternak tidak terus tertekan biaya produksi, terutama pakan yang masih berada pada level yang tinggi.(fer)
What's Your Reaction?

