Berawal dari Jualan Lewat WhatsApp, UMKM Jamu Temulawak Binaan Petrokimia Gresik Kini Kebanjiran Pesanan

Kalau tidak ada pendampingan seperti ini, kami sulit berkembang. Untuk alat, bahan, sertifikasi sampai berbagai tes produk itu biayanya tidak sedikit," ungkap ibu dua anak tersebut.

11 Jun 2026 - 21:24
Berawal dari Jualan Lewat WhatsApp, UMKM Jamu Temulawak Binaan Petrokimia Gresik Kini Kebanjiran Pesanan
UMKM lokal Jamu Temulawak Binaan Petrokimia Gresik alami peningkatan penjualan hingga kebanjiran pesanan (Komkor Petrokimia Gresik/afederasi.com)

Gresik, (afederasi.com) – Lima tahun lalu, Siti Nur Afidah hanya mengandalkan status WhatsApp dan promosi dari mulut ke mulut untuk menjual jamu temulawak buatannya. Produksi masih terbatas, penjualan berjalan lambat, dan pasar yang dijangkau pun hanya lingkungan sekitar rumah.

Kini, kondisi itu berubah drastis. Berkat pendampingan melalui program Kelompok Jajanan Masyarakat Sekitar (Lontar) yang digagas PT Petrokimia Gresik, usaha rumahan miliknya berkembang pesat hingga mampu memproduksi 100 botol jamu temulawak per hari.

"Kalau dulu jualannya hanya lewat WA dan grup lapak, lakunya lama sekali. Sekarang alhamdulillah jauh berbeda," ujar Afidah saat ditemui, Selasa (9/6/2026).

Perempuan 47 tahun asal Kelurahan Ngipik, Kecamatan Gresik itu mulai merintis usaha jamu temulawak sejak 2019. Meski memiliki semangat besar untuk berwirausaha, keterbatasan modal dan sarana produksi menjadi tantangan yang tidak mudah dilalui.

Titik balik usahanya terjadi ketika bergabung dalam program Lontar, salah satu program pemberdayaan masyarakat ring satu PT Petrokimia Gresik. Melalui program tersebut, Afidah tidak hanya memperoleh bantuan modal, tetapi juga pendampingan usaha secara menyeluruh.

Mulai dari bantuan peralatan produksi, pelatihan pengemasan produk, pengurusan perizinan, hingga sertifikasi produk, semuanya menjadi bekal penting untuk meningkatkan kualitas dan daya saing usahanya.

"Kalau tidak ada pendampingan seperti ini, kami sulit berkembang. Untuk alat, bahan, sertifikasi sampai berbagai tes produk itu biayanya tidak sedikit," ungkap ibu dua anak tersebut.

Saat ini, Afidah mampu memproduksi sekitar 100 botol jamu temulawak setiap hari. Produk tersebut biasanya disimpan dalam freezer dan habis terjual dalam waktu dua hingga tiga hari. Namun saat momentum bazar atau bulan Ramadan, permintaan melonjak tajam.

"Waktu Ramadan kemarin, sekali produksi 100 botol langsung habis dalam sehari. Malamnya bikin lagi untuk dijual besok. Begitu terus selama beberapa hari," tuturnya sambil tersenyum.

Tak hanya jamu temulawak, berbagai produk lain seperti kacang goreng, kacang telur kemasan, kolak kacang hijau, hingga jajanan pasar basah juga menjadi andalan yang selalu diminati pelanggan.

Perluasan pasar menjadi salah satu manfaat terbesar yang dirasakan Afidah. Jika sebelumnya pembeli hanya berasal dari sekitar tempat tinggalnya, kini pesanan datang dari berbagai pihak, termasuk kebutuhan kegiatan internal perusahaan.

"Alhamdulillah sekarang pembelinya lebih banyak. Bahkan sering mendapat pesanan dari kegiatan perusahaan," katanya.

Peningkatan omzet tersebut membawa dampak nyata bagi perekonomian keluarganya. 

Dari hasil usaha yang dijalankan, Afidah mampu membantu membiayai pendidikan kedua anaknya. Saat ini satu anaknya telah bekerja, sementara satu lainnya sedang menempuh pendidikan tinggi.

Selain aspek produksi, program Lontar juga membantu para pelaku UMKM meningkatkan kualitas kemasan agar lebih menarik dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

"Dulu kemasannya sederhana. Sekarang kami diajari membuat kemasan yang lebih bagus dan profesional sehingga produk terlihat lebih menarik," ujarnya.

Kisah Afidah menjadi salah satu bukti nyata bagaimana program pemberdayaan yang tepat sasaran mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Dari usaha rumahan sederhana yang dipasarkan melalui WhatsApp, kini berkembang menjadi UMKM produktif dengan pasar yang terus meluas.

Terpisah, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Gresik, Darmawan, mengapresiasi kontribusi program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Petrokimia Gresik dalam mendukung pengembangan UMKM daerah.

Menurut Darmawan, pelatihan, akses permodalan, serta pendampingan pemasaran yang diberikan mampu meningkatkan kapasitas pelaku usaha sekaligus memperkuat daya saing mereka di tengah perkembangan ekonomi digital.

"Melalui pelatihan yang terstruktur, pelaku UMKM dibekali kemampuan manajemen usaha, literasi keuangan, hingga strategi pemasaran digital. Dukungan ini sangat penting untuk mendorong pertumbuhan usaha mereka," ujarnya

Darmawan menyebut, Pemerintah Kabupaten Gresik berharap manfaat program serupa dapat diperluas sehingga semakin banyak pelaku UMKM dari berbagai sektor yang merasakan dampak positifnya.

"Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, perusahaan, dan pelaku usaha, kita berharap tercipta ekosistem UMKM yang semakin inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan," pungkasnya. (frd)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow