Sering Dikeluhkan Keruh, PDAM Tulungagung Ungkap Penyebab dan Strategi Perbaikan Layanan
Tulungagung, (afederasi.com) – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tulungagung memberikan klarifikasi terbuka menyusul sejumlah keluhan pelanggan terkait kualitas air yang kerap keruh di beberapa wilayah layanan. PDAM mengakui kondisi tersebut sebagai fakta lapangan yang dipengaruhi oleh kombinasi faktor alamiah dan kendala teknis di sistem distribusi.
Kepala Seksi Pelayanan Pelanggan PDAM Tulungagung, Sasongko, menjelaskan bahwa tantangan utama bermula dari sumber air baku di wilayah Jatiwekas, Kecamatan Pagerwojo, yang mengandalkan aliran Sungai Song. Saat cuaca ekstrem atau terjadi banjir, debit air yang masuk ke instalasi pengolahan kerap membawa lumpur pekat sehingga memengaruhi kualitas air baku.
“Ketika hujan deras atau banjir, air Sungai Song membawa sedimen cukup tinggi. Meski demikian, karena itu satu-satunya sumber air baku, tetap kami olah dengan proses penjernihan khusus. Namun dalam kondisi tertentu, hasilnya belum bisa maksimal,” terang Sasongko, Kamis (8/1/2026).
Ia menjelaskan, sisa endapan lumpur yang tidak sepenuhnya terurai kerap tertahan di dalam sistem perpipaan. Saat debit air menurun akibat gangguan di pusat pengolahan, endapan tersebut ikut terseret aliran air menuju rumah pelanggan, sehingga air yang keluar tampak keruh.
Fenomena tersebut paling banyak dirasakan pelanggan di wilayah ujung layanan atau daerah dengan kontur rendah, seperti Kecamatan Boyolangu, Sumbergempol, Tamanan, serta sejumlah kelurahan di Kecamatan Kedungwaru. Hal ini diperparah karena sistem distribusi PDAM Tulungagung masih menggunakan sistem gravitasi, bukan pompa, sehingga sedimen cenderung mengendap di titik-titik tertentu.
“Di wilayah dekat sumber air, kualitas relatif lebih jernih. Namun di wilayah ujung, endapan yang terbawa aliran sering membuat air menjadi keruh. Itu sebabnya komplain paling banyak datang dari pelanggan di daerah tersebut,” paparnya.
Selain faktor alam, Sasongko juga menyoroti usia jaringan pipa yang sudah tergolong tua sebagai persoalan serius. Kondisi ini menyebabkan tingkat kebocoran cukup tinggi dan rentan terganggu aktivitas pembangunan pihak ketiga. Tak jarang, proyek drainase, gorong-gorong, maupun pemasangan paving memutus jalur pipa tanpa koordinasi terlebih dahulu.
“Seperti kejadian di depan Bravo beberapa waktu lalu, pipa utama kami terkena alat berat saat pembangunan drainase. Akibatnya, kotoran masuk ke sistem, debit air menurun, dan proses normalisasi membutuhkan waktu cukup lama,” imbuhnya.
Sebagai langkah penanganan, PDAM Tulungagung telah menyiapkan sejumlah strategi perbaikan layanan pada tahun ini. Di antaranya melakukan pengurasan atau flushing secara berkala di titik-titik ujung jaringan, dengan petugas yang siaga setiap hari berdasarkan laporan warga.
Selain itu, PDAM juga merencanakan revitalisasi jaringan pipa melalui penggantian secara bertahap, dimulai dari wilayah pusat seperti Pagerwojo, mengingat pipa berdiameter besar memiliki dampak teknis yang luas. Upaya lainnya adalah pemasangan valve atau katup pembuangan baru guna mempermudah pembersihan endapan di dalam jalur distribusi.
“Memang dibutuhkan anggaran yang tidak sedikit untuk memaksimalkan kualitas air. Namun sebagai Perumda yang menjual air, kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan secara bertahap,” tegas Sasongko.
Atas berbagai kendala tersebut, PDAM Tulungagung menyampaikan permohonan maaf kepada sekitar 28.407 pelanggan yang tersebar di 14 kecamatan di Kabupaten Tulungagung atas pelayanan yang belum optimal.
“Kami menyadari kualitas air belum sepenuhnya prima. Keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia memang ada, namun setiap pengaduan pasti kami respons dan tindak lanjuti. Kami mengimbau masyarakat segera melapor jika terjadi gangguan agar bisa segera ditangani di lapangan,” pungkasnya.(riz/dn)
What's Your Reaction?



