"Pancasila Jiwa Kami!" Gema Santri Ponpes Al Ihsan Bareng Bakesbangpol Madiun dan BIN Lawan Radikalisme

Pengasuh Ponpes Al Ihsan, Ustadz Joko Supriyanto, mengapresiasi kehadiran pemerintah dan BIN yang memberikan pembekalan ini, mengingat ini adalah pertama kalinya kegiatan formal serupa digelar di lingkungan pesantren tersebut. "Ini adalah pertama kalinya tema pencegahan radikalisme secara spesifik hadir di sini," ujarnya.

25 Apr 2026 - 12:27
"Pancasila Jiwa Kami!" Gema Santri Ponpes Al Ihsan Bareng Bakesbangpol Madiun dan BIN Lawan Radikalisme
Sinergi Bakesbangpol Kabupaten Madiun dan BIN dalam membekali santri Ponpes Al Ihsan Kebonsari dengan wawasan kebangsaan guna mencegah paham radikalisme, Sabtu (25/4/2026). (Hendry Wahyu/AF)

Madiun, (afederasi.com) - Gemuruh suara puluhan santri memecah keheningan di Pondok Pesantren Islam Al Ihsan, Desa Mojorejo, Kecamatan Kebonsari, Sabtu (25/04/2026). Dipandu langsung oleh moderator Hendri Wahyu Wijaya, para santri serentak berdiri dan meneriakkan yel-yel kebangsaan dengan penuh energi: *"MADIUN BERSAHAJA! PANCASILA JIWA KAMI! RADIKALISME TOLAK! TERORISME LAWAN! NKRI HARGA MATI! AL IHSAN HEBAT!"*

Pekikan semangat yang diprakarsai oleh moderator ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol ketegasan sikap keluarga besar Ponpes Al Ihsan dalam melawan segala bentuk paham radikal. Aksi ini menjadi pembuka kegiatan Fasilitasi Pencegahan Paham Radikalisme yang diselenggarakan oleh Bakesbangpol Kabupaten Madiun bekerja sama dengan Posda Badan Intelijen Negara (BIN) Kabupaten Madiun.

Pengasuh Ponpes Al Ihsan, Ustadz Joko Supriyanto, mengapresiasi kehadiran pemerintah dan BIN yang memberikan pembekalan ini, mengingat ini adalah pertama kalinya kegiatan formal serupa digelar di lingkungan pesantren tersebut. "Ini adalah pertama kalinya tema pencegahan radikalisme secara spesifik hadir di sini," ujarnya.


Sebagai sosok yang memahami dinamika gerakan Islam, ia dengan tegas mengingatkan para santrinya untuk menjauhi pemahaman agama yang ekstrem yang dapat menjerumuskan pada radikalisme. 

"Kami ingin santri kami tholabul ilmi yang benar, bukan yang tersesat dalam pemikiran kaku seperti halnya golongan khawarij. Kita harus menjadi Ummatan Wasathan, umat pertengahan yang kokoh pada aqidah namun mencintai tanah air," tegas Ustadz Joko di depan para santrinya.

Kepala Bakesbangpol Kabupaten Madiun, Hestu Wiradriawan, menekankan bahwa santri adalah aset vital bagi kedaulatan NKRI. Ia menyebut pesantren sebagai "pabrik moral" yang memproduksi karakter bangsa.

"Kami hadir untuk memastikan visi Kabupaten Madiun yang Bersahaja (Bersih, Sehat, Sejahtera, Aman, Harmonis, dan Berakhlak) tercapai. Santri harus punya 'imunitas' terhadap hoaks dan paham radikal yang sering menyusup lewat media sosial. Kedepankan prinsip tabayyun (klarifikasi) kepada para kyai dan asatidz," ujar Hestu.

Islam dan Pancasila: Simbiosis Harmonis

Puncak acara diisi dengan paparan mencerahkan dari akademisi UIN Ponorogo, Ibu Anjar Kususiyanah, M.Hum, yang membedah tema "Empat Nilai Wawasan Kebangsaan Dalam Perspektif Islam" dengan menegaskan landasan teologis yang kuat bagi instrumen kenegaraan Indonesia. Dalam penjelasannya, ia mengupas tuntas kedudukan Pancasila sebagai Kalimatun Sawa atau titik temu yang selaras dengan nilai Tauhid, serta UUD 1945 sebagai Dustur atau kontrak sosial tertinggi.

​"NKRI adalah Darul ‘Ahdi wa as-Syahadah, sebuah negara konsensus dan tempat pembuktian kontribusi umat Islam, bukan negara perang. Oleh karena itu, mencintai tanah air adalah bagian dari iman atau Hubbul Wathan Minal Iman, di mana mempertahankan kedaulatan negara merupakan kewajiban semua orang," tegas Anjar.

Ia juga menambahkan bahwa keberagaman di Indonesia merupakan Sunnatullah untuk saling berkolaborasi, sehingga NKRI adalah bentuk final secara teologis maupun politis yang kini diakui dunia internasional sebagai model peradaban Islam moderat yang ideal. (Adv/hen)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow