Gus Bahar: Rasulullah Memilih Jalan yang Berat untuk Selamatkan Umat
Jombang, (afederasi.com) – Di tengah arus modernitas yang serba instan, Pengasuh Pesantren Salafiyah Seblak Jombang, Gus Bahar, menyampaikan sebuah renungan mendalam tentang makna perjuangan Rasulullah SAW. Dalam tausiyahnya, ia mengungkap bahwa di balik kemudahan yang dirasakan umat Islam saat ini, tersimpan beban berat yang sengaja dipikul oleh Nabi Muhammad SAW.
Gus Bahar menjelaskan bahwa pilihan Nabi untuk menempuh jalan yang berat bukanlah tanpa alasan. Hal ini merupakan wujud kasih sayang beliau kepada umatnya yang datang di akhir zaman.
"Rasulullah memilih jalan yang sulit agar kita yang lemah ini mendapatkan kemudahan. Beliau memikul beban yang seharusnya menjadi tanggungan kita," ujar Gus Bahar dalam kajiannya, Jumat (10/07/2026).
Makna Thoha dan Yasin
Dalam tausiyahnya, Gus Bahar mengupas makna dua nama suci Nabi yang sering dilantunkan dalam sholawat, yaitu Thoha dan Yasin. Menurutnya, kedua nama ini menyimpan rahasia spiritual tentang turunnya kebenaran langit ke bumi.
"Thoha adalah transformator ilahi, di mana ilmu Allah yang maha tinggi diturunkan menjadi kenyataan yang membumi. Sedangkan Yasin adalah jantung kebenaran yang murni, bersumber langsung dari singgasana Allah," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa perpaduan antara Thoha (metode yang membumi) dan Yasin (prinsip yang murni) dalam diri Rasulullah menjadikan beliau lentera penerang bagi umat manusia. Namun, membawa obor di tengah badai moralitas bukanlah perkara mudah.
"Ada harga mahal yang harus dibayar, dan Rasulullah menebusnya dengan seluruh sisa napas beliau," tegas Gus Bahar.
Punggung yang Memikul Badai
Mengutip metafora Al-Quran, Gus Bahar menggambarkan beban dakwah Rasulullah seperti memikul gunung sendirian. Beliau menahan hantaman cacian, fitnah, dan penolakan sistemik demi menyampaikan kebenaran.
"Mengapa beliau kuat bertahan? Karena beliau sangat mencintai kita. Beliau melihat masa depan kita dengan kacamata batin, dan tidak rela jika kelak anak cucunya terlempar ke jurang penderitaan," ungkap Gus Bahar.
Manifestasi cinta ini terwujud dalam regulasi ibadah malam. Dalam fiqih, shalat Tahajjud dihukumi wajib bagi Rasulullah, namun bagi umatnya menjadi sunnah. Gus Bahar mengibaratkannya seperti seorang pemimpin kafilah yang memikul ransel paling berat agar rombongannya bisa beristirahat dengan tenang.
"Rasulullah rela berdiri berjam-jam di kegelapan malam, hingga kaki sucinya membengkak dan dadanya bergemuruh karena menangis. Beliau mengemis keselamatan untuk umatnya," tuturnya.
Menjemput Hadiah Cinta di Jam Dua Malam
Gus Bahar mengajak umat untuk meneladani Rasulullah secara substantif, bukan sekadar simbolik. Menurutnya, meneladani beliau adalah tentang keberanian mengambil jalan hidup yang jujur meski sepi peminat, serta menolak menjual agama demi kepentingan duniawi.
"Ketika kita mampu bangun di jam dua malam dan bersujud di atas sajadah yang sunyi, kita sedang melangkah ke ruang sakral. Air mata di sepertiga malam adalah hadiah cinta yang diwariskan Rasulullah berabad-abad lalu," ujarnya.
Ritual malam itu, lanjut Gus Bahar, akan mengisi ulang energi spiritual dan bertransformasi menjadi kekuatan konkret di siang hari. Ia membentuk pribadi yang tangguh, tidak mudah goyah oleh badai ujian, dan mampu memancarkan kedamaian bagi sesama.
"Jalan yang dipilih Rasulullah memang berat, namun beliau meretas jalan setapak itu agar kita tidak tersesat di kegelapan. Kini, pilihannya kembali kepada kita: maukah kita terbangun dan menjemput hadiah cinta itu?" pungkasnya. (san)
What's Your Reaction?

