Diskusi Buku Berkesenian di Tengah Segala Cuaca Hadirkan Seniman dan Budayawan
Jombang, (afederasi.com) – Suasana intelektual dan artistik menyelimuti Bait Kata Library and School yang terletak di Balongbesuk, Kecamatan Diwek, Jombang, dalam acara diskusi buku "Berkesenian di Tengah Segala Cuaca" karya Selvi Agnesia. Kegiatan yang digelar "Kegiatan diskusi ini didukung oleh Bait Kata Library bekerjasama dengan Andhi Setyo Wibowo, pimpinan penerbit Boenga Ketcil yang dihadiri oleh puluhan peserta lintas kalangan, mulai dari seniman teater, budayawan, sejarawan, guru, hingga pegiat seni di Kabupaten Jombang, Jumat (19/07/2026) malam
15 Tahun Perjalanan Seni dalam Sehimpun Reportase
Buku Berkesenian di Tengah Segala Cuaca merupakan himpunan reportase perjalanan seniman dan budayawan yang ditulis Selvi Agnesia selama kurun waktu 2011 hingga 2026. Penulis yang bermukim di Yogyakarta dan berprofesi sebagai penulis seni budaya serta pekerja seni lepas ini dikenal memiliki kedekatan mendalam dengan dunia kesenian Indonesia.
Dalam buku setebal 206 halaman yang diterbitkan Penerbit JBS ini, Selvi Agnesia mendokumentasikan pengalaman, pergulatan, dan dedikasi para seniman dalam berkarya di tengah berbagai tantangan. Judul buku ini merefleksikan semangat seniman yang tetap berkarya apa pun kondisi yang dihadapi—sebuah metafora dari "cuaca" yang senantiasa berubah dalam kehidupan kesenian.
Mengupas Isi Buku: Jurnalisme Budaya yang Autentik
Buku nonfiksi ini mengusung pendekatan jurnalisme budaya yang ditulis berdasarkan pengalaman panjang dan keterlibatan mendalam penulis yang menemui langsung para seniman, baik secara individu maupun kelompok. Buku ini menghadirkan "suara sendiri" serta potret kehidupan di balik karya mereka.
Fokus utama buku ini memotret bagaimana ekosistem seni bertahan dan tetap hidup melewati dinamika sosial-politik hingga pergantian "cuaca" zaman selama 15 tahun terakhir. Beberapa tokoh yang diulas dalam buku ini antara lain:
1. Alit Ambara – seniman grafis dan aktivis kemanusiaan
2. Afrizal Malna – sastrawan dan teoretikus teater
3. Hanafi – pelukis kontemporer
4. Faisal Kamandobat – budayawan dan peneliti
5. Dodong Kodir, Fitri Setyaningsih, J.J Kusni, hingga Jatnika Nangamihardja
Buku ini menjadi referensi penting bagi siapa pun yang ingin memahami sejarah kebudayaan Indonesia kontemporer di luar arsip resmi negara. Melalui laporan mendalam, buku ini menyajikan gambaran utuh tentang rekaman pandangan, cara berpikir, konteks sosial, dan praktik langsung para seniman Indonesia dalam merespons perubahan zaman.
Menciptakan Ruang: Ketika Seni Menjadi Tempat Bertemu, Bertumbuh, dan Menggerakkan
Dalam diskusi yang berlangsung hangat, Riris D. Nugrahini menyampaikan pemikiran mendalam tentang pentingnya ruang bagi para seniman. Ia mengawali dengan sebuah pertanyaan reflektif yang kerap menghantui seniman muda: "Bagaimana caranya mendapatkan ruang untuk berkarya?"
Menurut Riris, pengalamannya di Cemeti Art House Yogyakarta dan Studio Residensi Cemeti mengajarkan bahwa ruang bukan sekadar bangunan atau fasilitas. Nilai terbesar dari tempat-tempat tersebut justru terletak pada kemampuannya mempertemukan orang-orang dengan latar belakang, disiplin, pengalaman, dan cara berpikir yang berbeda.
"Dari pertemuan itulah ruang sebenarnya tercipta. Ruang bukan hanya soal tempat. Ruang adalah kemungkinan," tegasnya.
Ia mencontohkan bagaimana di Studio Residensi Cemeti, seniman tidak datang hanya untuk menghasilkan karya. Mereka datang membawa pertanyaan, kegelisahan, pengalaman hidup, dan cara pandang masing-masing. Percakapan sederhana sering kali berkembang menjadi ide yang sama sekali baru. Sebuah karya visual bisa terinspirasi dari diskusi tentang lingkungan, atau sebuah pertunjukan lahir dari perjumpaan dengan cerita warga.
Kolaborasi Bukan Sekadar Bekerja Sama
Riris menekankan bahwa kolaborasi bukan sekadar bekerja bersama agar pekerjaan menjadi lebih ringan. "Kolaborasi adalah kesediaan untuk melihat dunia melalui mata orang lain. Ketika seorang penari bekerja dengan musisi, mereka sedang belajar menerjemahkan gerak menjadi bunyi. Ketika perupa berdialog dengan penulis, gagasan visual bertemu kekuatan narasi," paparnya.
Di era sekarang, batas antar bidang semakin cair. Seni rupa dapat berpadu dengan film, sastra dengan teknologi digital, musik dengan sains, bahkan tradisi dengan kecerdasan buatan. Justru di wilayah pertemuan itulah sering muncul karya-karya yang segar dan relevan.
"Yang menarik, kolaborasi semacam ini tidak selalu membutuhkan anggaran besar atau ruang yang megah. Yang dibutuhkan justru keterbukaan, kemauan untuk mendengar, kesediaan menerima kritik, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman," tambahnya.
Seni sebagai Bahasa Realitas Sosial
Riris juga menyoroti kemampuan unik seni dalam membaca sekaligus menyampaikan realitas sosial. Ketika sebuah laporan penelitian mungkin hanya dibaca oleh kalangan tertentu, karya seni mampu menyentuh orang dari berbagai latar belakang. Ketika data statistik berbicara kepada logika, seni berbicara kepada emosi, ingatan, dan pengalaman manusia.
"Seni dapat mengangkat isu lingkungan tanpa harus berkhotbah. Seni dapat mengkritik ketidakadilan tanpa kehilangan keindahan. Seni mampu berbicara tentang identitas, sejarah, perempuan, anak, migrasi, perubahan iklim, hingga persoalan-persoalan kemanusiaan dengan bahasa yang mudah dipahami sekaligus menyentuh," ujarnya.
Baginya, tugas seorang seniman bukan hanya membuat karya yang indah. "Seniman sesungguhnya sedang menciptakan ruang dialog. Sebuah ruang tempat masyarakat sejenak berjeda dari hiruk-pikuk kehidupan, melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda, lalu menemukan makna baru.", ungkapnya.
Berani Menciptakan Ruang Sendiri
Riris mengkritik pola pikir banyak seniman yang masih menunggu kesempatan—menunggu galeri mengundang, festival membuka pendaftaran, atau pemerintah menyediakan panggung. Padahal, sejarah seni justru menunjukkan bahwa banyak gerakan seni besar lahir dari ruang-ruang kecil: garasi rumah, pendapa desa, halaman sekolah, warung kopi, gudang kosong, bahkan teras rumah warga.
Hari ini, dengan teknologi digital, makna ruang menjadi semakin luas. Diskusi daring dapat mempertemukan seniman lintas negara. Sebuah karya dapat dipamerkan melalui media sosial dan menjangkau ribuan orang dalam hitungan jam.
"Artinya, ruang tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh lokasi geografis. Ruang ditentukan oleh relasi yang kita bangun," tegasnya.
Ia mengajak para seniman untuk mengubah cara berpikir. Jangan lagi bertanya, "Siapa yang akan memberikan ruang bagi saya?" Mulailah bertanya, "Ruang seperti apa yang bisa saya ciptakan?"
Menciptakan ruang bisa dimulai dari hal-hal sederhana: mengadakan diskusi kecil, mengundang seniman dari disiplin lain untuk berkolaborasi, mengajak warga kampung terlibat dalam proses kreatif, atau menjadikan media digital sebagai ruang belajar bersama.
"Bahkan percakapan santai di sebuah angkringan pun bisa menjadi awal lahirnya gerakan kebudayaan yang besar. Sebab ruang sejatinya bukanlah bangunan. Ruang adalah hubungan antarmanusia," pungkasnya.
Bait Kata Library: Rumah Diskusi Seni dan Literasi
Bait Kata Library and School yang menjadi lokasi diskusi memang telah dikenal sebagai pusat kegiatan literasi dan seni di Jombang. Lembaga pendidikan berbasis perpustakaan yang diprakarsai oleh keluarga Iffa Suraiya-Haris Muhtadi ini kerap menjadi tuan rumah berbagai diskusi buku dan acara seni budaya.
Sebelumnya, Bait Kata Center juga pernah menggelar diskusi bedah buku bersama sastrawan Mahfud Ikhwan yang membahas buku Kepikiran Dangdut dan Hal-Hal Pop Lainnya pada 2024 lalu. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang menarik para pegiat sastra Jombang untuk terus menjaga aktivitas literasi di era digital.
Sambutan Hangat Komunitas Seni Jombang
Kehadiran buku Berkesenian di Tengah Segala Cuaca mendapat respons antusias dari para peserta diskusi. Para seniman teater dan budayawan yang hadir mengapresiasi upaya penulis dalam mendokumentasikan perjalanan seni di Indonesia secara jurnalistik dan mendalam.
Diskusi yang berlangsung di Bait Kata Library ini menjadi ruang dialog antargenerasi, mempertemukan pengalaman para seniman senior dengan antusiasme generasi muda pegiat seni di Jombang. Kehadiran sejarawan dan guru dalam diskusi turut memperkaya perspektif tentang peran seni dalam membentuk kesadaran sejarah dan pendidikan karakter.
Komitmen Bait Kata untuk Literasi dan Apresiasi Seni
Iva Dwi Nurhayati, pendiri sekaligus penggerak di komunitas dan Yayasan Bait Kata Library and School, dalam sambutannya menyampaikan komitmen lembaganya untuk terus menjadi ruang inklusif bagi pengembangan literasi dan apresiasi seni di Jombang.
"Bait Kata akan selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar, berdiskusi, dan mengembangkan diri melalui buku dan seni," ujarnya.
Membangun Ekosistem Literasi di Kota Santri
Acara diskusi buku ini menjadi bukti bahwa ekosistem literasi di Jombang terus berkembang dengan hadirnya ruang-ruang diskusi yang mempertemukan penulis, penerbit, dan masyarakat pecinta seni. Semangat "berkesenian di tengah segala cuaca" yang diangkat dalam buku ini selaras dengan upaya Bait Kata dalam menghidupkan aktivitas seni dan literasi di Kota Santri.
Bagi masyarakat yang ingin mendalami lebih jauh tentang perjalanan seni Indonesia kontemporer, buku Berkesenian di Tengah Segala Cuaca karya Selvi Agnesia terbitan Penerbit JBS ini dapat menjadi jendela pengetahuan yang membuka wawasan tentang ketangguhan seniman dalam menghadapi dinamika zaman. (san)
What's Your Reaction?

