Antisipasi Kekeringan di 100 Desa, Pemkab Trenggalek Optimalkan Teknologi Kondensasi
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin perkenalkan teknologi kondensasi uap dingin jadi air. Solusi inovatif atasi kekeringan di 100 desa terdampak krisis air
Trenggalek, (afederasi.com) – Pemerintah Kabupaten Trenggalek mengambil langkah revolusioner untuk menghadapi ancaman kekeringan ekstrem tahun ini. Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, memperkenalkan inovasi teknologi kondensasi sederhana yang mampu menangkap uap dingin di udara dan mengubahnya menjadi air bersih siap guna.
Inovasi ini lahir sebagai jawaban atas kian merosotnya ketersediaan air akibat rusaknya siklus alam. Berkurangnya kawasan hutan dan rusaknya tandon air bawah tanah di kawasan kars menjadi pemicu utama sulitnya mendapatkan sumber air saat musim kemarau tiba.
“Bicara masalah pangan, komponen penentu terbesarnya adalah air. Sementara saat ini, siklus air alami kita sudah tereduksi,” ujar Bupati yang akrab disapa Mas Ipin tersebut saat meninjau alat tersebut di lapangan.
Menyadari tantangan tersebut, Mas Ipin menggerakkan Dinas Pertanian dan para inovator lokal untuk menciptakan solusi mandiri. Teknologi kondensasi ini diharapkan mampu memutus ketergantungan warga terhadap distribusi air bersih dari pemerintah daerah yang kerap terkendala jarak dan waktu.
Berdasarkan data BMKG, potensi kekeringan tahun ini diprediksi meningkat tajam. Di Trenggalek sendiri, sebanyak 92 hingga 100 desa tercatat sebagai daerah rawan krisis air yang setiap tahunnya sangat bergantung pada pengiriman bantuan dari BPBD.
“Selama ini BPBD sering kewalahan karena harus bolak-balik kirim air setiap hari. Dengan teknologi ini, warga diharapkan bisa memproduksi air sendiri,” tegas Mas Ipin.
Secara strategis, Pemerintah Kabupaten Trenggalek mulai menggeser pola anggaran dari belanja konsumtif menuju investasi teknologi berkelanjutan. Mas Ipin menilai, pengadaan alat produksi air jauh lebih efisien dan memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat desa dibandingkan sekadar solusi sementara.
Saat ini, sistem kondensasi yang dikembangkan masih bergantung pada tenaga listrik. Namun, ke depan kapasitas alat tersebut akan ditingkatkan dan dialihkan menggunakan energi terbarukan berupa tenaga surya.
“Kami rencanakan penggunaan tenaga surya agar lebih ramah lingkungan dan menekan biaya operasional masyarakat,” pungkasnya.(pb/dn)
What's Your Reaction?

