Sepi Pembeli, Omzet Pedagang Arang di Lamongan Anjlok pada Iduladha Tahun Ini
"Penjualan merosot tajam sampai 50 persen mas. Sepertinya karena faktor penjualan hewan kurban pada Idul Adha kali ini tidak seramai tahun-tahun lalu, jadi warga yang beli arang buat nyate di rumah juga ikutan sepi," keluh Fiva saat ditemui di lapaknya, Rabu (27/5/2026) pagi.
Lamongan, (afederasi.com) – Perayaan Hari Raya Iduladha yang biasanya menjadi berkah melimpah bagi para pedagang arang kayu, kini justru menyisakan cerita pilu. Di Pasar Tradisonal Sidoharjo Lamongan, para pedagang harus gigit jari lantaran penjualan arang bakar mereka merosot tajam hingga 50 persen dibanding momen Iduladha tahun-tahun sebelumnya.
Lesunya aktivitas penyembelihan dan penjualan hewan kurban pada lebaran kali ini disinyalir menjadi faktor utama sepinya warga yang berburu arang untuk keperluan membakar daging kurban atau nyate.
Fiva, salah satu pedagang arang kayu di Pasar Sidoharjo Lamongan mengungkapkan, penurunan omzet yang terjadi selama perayaan Idul Adha tahun ini terasa sangat memukul usahanya. Ia menduga kuat berkurangnya pembelian hewan kurban oleh masyarakat berdampak domino pada sirkulasi dagangannya.
"Penjualan merosot tajam sampai 50 persen mas. Sepertinya karena faktor penjualan hewan kurban pada Idul Adha kali ini tidak seramai tahun-tahun lalu, jadi warga yang beli arang buat nyate di rumah juga ikutan sepi," keluh Fiva saat ditemui di lapaknya, Rabu (27/5/2026) pagi.
Fiva membeberkan perbandingan kontras penjualannya. Untuk penjualan skala eceran atau per bungkus yang biasanya melonjak drastis saat hari raya hingga tembus 600 bungkus, kini ia hanya mampu menyuplai setengahnya saja ke tangan konsumen.
"Untuk penjualan eceran per bungkus, biasanya di momen Idul Adha seperti ini bisa tembus sampai 600 bungkus. Sekarang saya hanya mampu menjual sekitar 300 bungkus saja," imbuhnya.
Kondisi lesu ini juga merembet pada penjualan skala besar atau per sak (karung). Padahal, demi mengantisipasi lonjakan permintaan selama hari raya dan hari tasyrik, Fiva sudah telanjur menyiapkan stok hingga 400 sak arang bakar kayu di gudangnya. Sayangnya, hingga perayaan berlangsung, stok tersebut masih menumpuk.
"Tahun lalu untuk penjualan per sak saat momen kurban saya mampu menjual 200 sak lebih. Tapi sekarang, jangankan segitu, menjual di bawah 100 sak saja susahnya minta ampun. Padahal tahun ini saya sudah menyetok sampai 400 sak arang," jelas Fiva dengan nada lesu.
Selain dihantam penurunan volume penjualan di hari raya, para pedagang juga dihadapkan pada kenaikan harga modal dari produsen. Fiva menyebutkan, kenaikan harga ini dipicu oleh beberapa faktor, mulai dari meroketnya harga kantong plastik pembungkus, naiknya harga bahan baku kayu, hingga faktor cuaca yang sempat mengganggu proses produksi pengarangan.
Untuk menyiasatinya, Fiva terpaksa menyesuaikan harga jual, baik untuk kemasan eceran maupun grosir per sak.
"Untuk harga eceran kemasan bungkus hitam sekarang saya jual Rp6.000, itu naik seribu rupiah dari sebelumnya. Isinya setengah kilogram lebih. Sementara untuk kemasan bungkus putih harganya Rp12.000, naik dua ribu rupiah dengan isi satu kilogram lebih," urai Fiva merinci.
Kenaikan paling signifikan dirasakan pelanggan pada penjualan arang karungan. "Lalu untuk harga arang per sak, sekarang harganya Rp90.000 mas. Kalau dulu sebelum ada kenaikan bahan baku dan plastik, harganya hanya Rp70.000 rupiah per sak," pungkasnya. (yan)
What's Your Reaction?

