Pakar UMM Ingatkan Bahaya 'Kapitalisasi' Ekowisata: Jangan Biarkan Alam Dikorbankan demi Bisnis Semata
Malang, (afederasi.com) – Tren wisata alam yang melonjak pasca-pandemi membawa angin segar bagi sektor pariwisata Indonesia. Namun, di balik euforia tersebut, muncul kekhawatiran serius dari kalangan akademisi. Pengembangan ekowisata dinilai mulai bergeser dari tujuan mulia konservasi menjadi sekadar komoditas bisnis berorientasi keuntungan semata.
Ketua Program Studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Awan Setia Dharmawan, S.Sos., M.Si., secara tegas mengingatkan agar para pemangku kepentingan tidak terjebak pada kepentingan bisnis jangka pendek. Menurutnya, ekowisata harus dikembalikan pada ruh utamanya: keberlanjutan lingkungan, pendidikan ekologis, dan pemberdayaan masyarakat lokal.
"Ekowisata memiliki keterkaitan yang erat dengan keberlanjutan lingkungan, pendidikan lingkungan, serta pengelolaan destinasi yang berbasis pada kearifan lokal. Ketiga unsur tersebut merupakan fondasi yang tidak boleh diabaikan," ujar Awan saat dihubungi awak media di Malang, Senin (13/7/2026).
Marwah Ekowisata: Bukan Sekadar Proyek Ekonomi
Awan menyoroti fenomena maraknya pengembangan kawasan wisata alam yang justru mengabaikan daya dukung lingkungan. Ia menilai, saat ini ekowisata mulai rentan terhadap praktik kapitalisasi, di mana keberhasilan suatu destinasi hanya diukur dari tingginya angka kunjungan dan pendapatan daerah, tanpa memperhatikan dampak kerusakan ekosistem yang ditimbulkan.
"Ekowisata tidak hanya berbicara mengenai keindahan alam atau meningkatnya jumlah wisatawan. Hindari ekowisata dari praktik kapitalisasi. Marwah ekowisata harus dikembalikan pada esensinya, yakni menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus menjadi media pendidikan lingkungan bagi masyarakat dan wisatawan," tegasnya.
Lebih lanjut, dosen Sosiologi UMM ini menjelaskan bahwa indikator keberhasilan sebuah kawasan ekowisata seharusnya tidak bersifat moneter semata. Parameter keberhasilan yang ideal mencakup:
1. Terpeliharanya kualitas lingkungan dan keanekaragaman hayati.
2. Meningkatnya partisipasi aktif masyarakat lokal dalam pengelolaan dan pengawasan.
3. Tumbuhnya kesadaran kolektif di kalangan wisatawan dan warga tentang pentingnya menjaga sumber daya alam.
Sinergi dengan Pemerintah: Pengembangan Desa Wisata Berkelanjutan
Pandangan kritis dari akademisi UMM ini sejalan dengan arah kebijakan Pemerintah Kota Batu. Melalui Dinas Pariwisata, Pemkot Batu terus mendorong pengembangan sektor pariwisata berbasis eco-tourism yang mengedepankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Program pengembangan desa wisata di wilayah Batu diarahkan untuk memperkuat empat pilar utama: konservasi alam, pengelolaan sampah terpadu, edukasi lingkungan bagi pengunjung, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat. Tujuannya agar manfaat pariwisata dapat dirasakan secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kelestarian alam di kawasan wisata unggulan seperti Kota Batu dan sekitarnya.
Masa Depan Ekowisata Indonesia
Kesamaan pandangan antara kalangan akademisi dan pemerintah menunjukkan bahwa masa depan ekowisata tidak hanya ditentukan oleh tingginya angka kunjungan wisatawan. Keberhasilan sektor ini sangat bergantung pada kemampuan seluruh pemangku kepentingan—mulai dari pengelola, wisatawan, hingga pemerintah—untuk menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan ekologi.
Dengan menjaga konsistensi prinsip, ekowisata diharapkan mampu menjadi instrumen pembangunan yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di Indonesia. (san)
What's Your Reaction?

