Polemik Harga Daging Sapi di Lamongan Meroket, Ini Pemicunya
"Kemungkinan harga daging sapi bisa turun dua sampai 3 bulan kedepan, menunggu stok dan populasi ke angka yang lebih ideal," pungkasnya
Lamongan, (afederasi.com) – Lonjakan harga daging sapi pasca-Hari Raya Idul Adha mulai dikeluhkan oleh para pedagang pasar hingga pelaku usaha kuliner di Kabupaten Lamongan. Saat ini, harga komoditas protein tersebut meroket hingga menyentuh angka Rp 130.000 per kilogram. Dampaknya, sejumlah pedagang memilih untuk meliburkan diri sembari menunggu kondisi harga kembali stabil. Kamis, (16/7/2026).
Menyikapi fenomena ini, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Lamongan angkat bicara. Kenaikan harga yang terjadi saat ini dinilai sebagai dampak dari 'anomali' siklus tahunan perayaan Idul Adha, di mana aktivitas penyembelihan dan transaksi keluar daerah meningkat tajam sehingga menguras stok sapi siap potong di tingkat lokal.
Kepala Disnakeswan Lamongan, Shofiah Nur Hayati menjelaskan bahwa selama momen Idul Adha kemarin, volume pemotongan hewan kurban terbilang sangat masif. Berdasarkan basis data yang dihimpun instansinya, ribuan ekor sapi telah dipotong untuk kebutuhan kurban maupun didistribusikan ke luar wilayah Lamongan.
"Idul adha stok-stok sapi banyak yang dipotong, dari data kita 5.678 ekor dan yang dijual ke luar daerah ada sekitar 5.000 ekor," beber Shofiah saat ditemui pada Kamis (16/7/2026) pagi.
Selain dipicu oleh menipisnya pasokan pasca-kurban, Shofiah menambahkan bahwa fluktuasi harga di tingkat hilir juga dipengaruhi oleh naiknya harga sapi hidup di pasar-pasar hewan regional. Rata-rata harga sapi di pasaran terpantau mengalami kenaikan sekitar Rp 1 juta per ekor.
Kondisi ini, lanjut dia, di satu sisi menunjukkan sisi positif dari pulihnya sektor peternakan pasca-keberhasilan penanggulangan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), yang berdampak pada peningkatan kualitas dan nilai jual sapi.
"Faktor kenaikan harga sapi dipengaruhi besarnya konsumsi masyarakat dan perbaikan kualitas sapi karena tidak Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) bisa ditanggulangi," tuturnya.
Untuk mengatasi gejolak harga ini, Disnakeswan Lamongan tengah menginisiasi program penambahan populasi di tingkat peternak. Langkah strategis ini diambil guna memastikan rantai pasok kembali normal dan harga daging di pasaran dapat berangsur turun.
Pihaknya menegaskan bahwa ketersediaan populasi sapi di Lamongan sebenarnya berada dalam kategori aman, hanya saja sebagian besar komoditas ternak yang tersisa saat ini memerlukan waktu pembesaran dan belum memasuki fase siap potong.
"Sebenarnya stok sapi aman tapi belum siap untuk dipotong, ya karena itu idul adha. Sedangkan sapi yang siap dipotong dari data Puskeswan ada 16.109," urai Shofiah.
Pemerintah daerah memproyeksikan stabilitas harga daging sapi di pasar-pasar tradisional Lamongan baru akan pulih secara bertahap dalam beberapa bulan ke depan, seiring dengan pemulihan jumlah populasi ternak yang siap masuk ke rumah pemotongan hewan.
"Kemungkinan harga daging sapi bisa turun dua sampai 3 bulan kedepan, menunggu stok dan populasi ke angka yang lebih ideal," pungkasnya. (yan)
What's Your Reaction?

