Perlintasan KA Cerme Lor Gresik Dikeluhkan Warga, Macet Parah Tiap Jam Sibuk

12 Feb 2026 - 13:23
Perlintasan KA Cerme Lor Gresik Dikeluhkan Warga, Macet Parah Tiap Jam Sibuk
Situasi perlintasan KA Cerme Lor yang macet parah ketika jam-jam sibuk jam berangkat dan pulang kerja. (Fahrudin/afederasi.com)

Gresik, (afederasi.com) – Perlintasan Kereta Api Indonesia (KAI) di Jalan Raya Cerme Lor, Kabupaten Gresik, dikeluhkan warga karena kerap memicu kemacetan panjang, terutama saat jam berangkat dan pulang kerja. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik kini menyiapkan dua opsi solusi, yakni pelebaran jalan dan pembangunan flyover.

Kemacetan di titik tersebut terjadi hampir setiap hari. Antrean kendaraan bahkan bisa mengular hingga ratusan meter, khususnya saat palang pintu kereta api ditutup untuk memberi jalan kereta melintas.

Kondisi kemacetan diperparah dengan adanya penyempitan badan jalan di sekitar perlintasan rel. Hal ini membuat arus kendaraan dari dua arah tersendat hingga menimbulkan penumpukan panjang.

Salah satu pengendara, Putra, warga Benjeng yang rutin melintas setiap pagi dan sore hari, mengaku sering terjebak macet saat berangkat maupun pulang kerja.

“Kalau pagi sekitar jam enam sampai jam delapan pasti padat. Sore juga, paling parah sekitar jam empat sampai petang. Begitu palang pintu tertutup, kendaraan langsung menumpuk panjang. Apalagi jalannya menyempit pas di rel kereta api,” ujar Putra, Rabu (11/02/2026).

Ia menambahkan, kemacetan sering berlangsung cukup lama, terlebih ketika kendaraan besar seperti truk tetap melintas di jam padat. Kondisi semakin parah saat dua kereta atau lebih melintas dalam waktu berdekatan.

“Kadang sudah buka, belum lama tutup lagi karena ada kereta susulan. Itu yang bikin antrean makin panjang,” tambahnya.

Keluhan serupa disampaikan Ismanto, warga Cerme. Menurutnya, kondisi perlintasan saat ini sudah tidak sebanding dengan volume kendaraan yang terus meningkat setiap hari, terutama kendaraan pekerja dan truk industri.

“Sekarang kendaraan makin banyak, apalagi jam berangkat dan pulang kerja. Jalan di sekitar rel terasa sempit, jadi arus dari dua arah saling berebut. Apalagi truk-truk besar, jadi makin bikin macet,” kata Ismanto.

Ia berharap pemerintah dan instansi terkait segera menghadirkan solusi konkret untuk mengurai kemacetan di lokasi tersebut. Selain itu, ia menilai keberadaan Tol Krian–Bunder belum berdampak signifikan terhadap pengurangan kemacetan di jalur Cerme.

“Tol mahal, tapi keluarnya sebelum perlintasan kereta api. Harusnya bisa keluar di daerah Boboh atau Domas,” keluhnya.

Sebelumnya pada bulan September 2026 lalu, Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Gresik, Mahfud Ahmadi, telah menyampaikan bahwa perlintasan Cerme memiliki intensitas kereta yang cukup tinggi. 

Dalam kurun waktu 1,5 hingga 2 jam, sekitar 10 kereta melintas di jalur tersebut, dengan lonjakan tertinggi terjadi pada jam sibuk pagi pukul 06.00 hingga 09.00 WIB.

Pemkab Gresik, lanjut Mahfud, bahkan telah tiga kali mengajukan permohonan pelebaran jalan kepada Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan sebagai pemegang kewenangan perlintasan.

Pengajuan tersebut bertujuan menambah lebar jalan sekitar dua meter di titik perlintasan sebagai langkah awal untuk mengurangi kepadatan kendaraan.

Meski demikian, Pemkab Gresik menilai pelebaran jalan belum menjadi solusi jangka panjang. Saat ini pemerintah daerah juga membuka opsi pembangunan flyover untuk mengatasi kemacetan secara permanen.

“Ini sedang dibuat tim untuk kajian. Memang muncul opsi pelebaran dan flyover, karena intensitas kereta yang lewat cukup banyak,” ujar Mahfud.

Warga pun berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera mengambil langkah nyata agar perlintasan Cerme Lor tidak terus menjadi titik kemacetan kronis yang merugikan pengguna jalan.(frd)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow