Produksi Padi di Jombang Diprediksi Meningkat

10 Feb 2026 - 18:53
Produksi Padi di Jombang Diprediksi Meningkat
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Ir. Moch Rony.M.M saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (10/02/2026). (Foto: Santoso/ afederasi.com)

Jombang, (afederasi.com) – Optimisme menyelimuti sektor pertanian Kabupaten Jombang menyambut musim panen mendatang

Dinas Pertanian (Disperta) setempat memproyeksikan peningkatan produksi padi pada Musim Tanam (MT) pertama tahun 2026. Prediksi ini dikuatkan oleh luasan tanam yang luas dan kondisi tanaman yang baik di hampir semua kecamatan.

Ditemui di ruang kerjanya, Kepala Disperta Jombang, Ir. M. Rony, mengungkapkan, luas panen padi pada MT1 tahun 2026 ini ditargetkan mencapai 35.000 hektare, dengan puncak panen raya diperkirakan terjadi pada pertengahan Maret hingga awal April mendatang.

"Dengan luasan panen yang cukup besar dan sebarannya hampir merata, kami optimistis produksi padi tahun ini akan lebih tinggi," kata Rony kepada Afederasi.com, Selasa (10/2/2026).

Dari sisi produktivitas, Disperta memproyeksikan hasil Gabah Kering Panen (GKP) rata-rata mencapai 7,5 ton per hektare. Angka ini menunjukkan tren peningkatan.

"Jika dikonversi menjadi gabah kering giling, hasilnya bisa di kisaran 6,24 ton per hektare. Ini menandakan adanya perbaikan produktivitas," jelas Rony.

Ia menekankan, peningkatan ini tak hanya memperkuat ketahanan pangan daerah, tetapi juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani. Pendampingan teknis akan terus dilakukan untuk memastikan proses hingga panen berjalan optimal.

Rony mengungkapkan capaian yang memberi sinyal positif. Dengan luas lahan panen rata-rata 70.000 hektare per tahun, Jombang sebenarnya memiliki potensi besar sebagai pendukung tercapainya swasembada pangan nasional.

"Merujuk tahun 2025 lalu, di mana iklim cukup mendukung, dari target pemerintah pusat 81.000 hektare, kita bisa mencapai 86.000 hektare dengan produktivitas GKG 6,24 ton/hektare. Produksi kita di atas 446.715 ton gabah kering giling atau setara 257.942 ton beras," paparnya.

Sementara, kebutuhan konsumsi beras Kabupaten Jombang hanya sekitar 149.237 ton per tahun. Data 2025 menunjukkan surplus beras mencapai sekitar 108.705 ton.

"Artinya, kita memiliki kelebihan produksi yang signifikan untuk ketahanan pangan," tambah Rony.

Menyongsong musim tanam berikutnya, Rony menyebut ramalan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) cukup mendukung.

"Informasi BMKG, tahun 2026 diperkirakan normal. Musim kemarau mulai akhir April/awal Mei, dan musim hujan kembali pada pertengahan Oktober. Ini memungkinkan petani merencanakan tanam dengan baik," ujarnya.

Kondisi iklim yang diprediksi normal ini dinilai sangat menguntungkan, tidak hanya untuk padi pada periode tertentu, tetapi juga untuk komoditas unggulan lain seperti tembakau, serta palawija seperti jagung, kedelai, dan semangka.

"Bisa jadi untuk tanaman tembakau cukup mendukung dan aman. Untuk palawija, ramalan BMKG juga cukup mendukung karena sudah masuk musim kemarau," pungkas Rony. (san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow