Disdikbud Jombang Kenalkan Wayang Kulit ke Siswa
Jombang, (afederasi.com) – Pemerintah Kabupaten Jombang, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), kembali menggelar program "Wayang Masuk Sekolah" untuk memperkenalkan warisan budaya tak benda kepada generasi muda.
Gelaran ketiga ini diselenggarakan di di halaman Sekolah SDN Pulorejo, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada Selasa (10/02/2026).
Acara yang dihadiri oleh Forkopimcam Tembelang, kepala desa, kepala sekolah, wali murid, dan siswa ini menghadirkan pertunjukan wayang kulit oleh Ki Dalang Yudistira Bayu Pamungkas dengan lakon "Lahirnya Gatotkaca".
Sebelum pementasan, diselingi dengan tari-tarian dan penampilan dongeng oleh Qurota Ayun, siswa SMPN 2 Jombang peraih juara nasional mendongeng.
Dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Disdikbud Jombang, Dra. Wor Windari, M.Si, Bupati Jombang H. Warsubi menyatakan apresiasi setinggi-tingginya atas program ini.
"Program wayang masuk sekolah adalah gerakan yang bertujuan memperkenalkan dan melestarikan seni wayang sebagai budaya bangsa kepada generasi muda di lingkungan sekolah," terang Wor Windari.
Dia menegaskan bahwa wayang, yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia, mengandung nilai seni, filosofi, dan ajaran moral yang sangat tinggi.
"Dalam kisah-kisah pewayangan, ada banyak pelajaran tentang budi pekerti, keberanian, persaudaraan, pengorbanan, dan cinta tanah air," ungkapnya.
Wor Windari menekankan pentingnya keseimbangan antara kemajuan teknologi dan pelestarian akar budaya. Generasi muda, menurutnya, harus maju menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, namun tetap mencintai budaya sendiri.
"Alangkah baiknya, apabila kemajuan itu tetap diiringi dengan pemahaman dan kecintaan terhadap budaya sendiri," tegasnya.
Wor Windari menyatakan harapan besarnya agar program ini berkelanjutan dan meluas ke lebih banyak sekolah. Tujuannya tidak hanya agar siswa menjadi penonton, tetapi juga terinspirasi untuk terlibat lebih dalam.
"Saya berharap agar para peserta didik tidak hanya menjadi penonton. Mari kita dorong agar lahir dalang-dalang cilik maupun dalang muda dari Kabupaten Jombang," harapnya.
Dia menambahkan, pengenalan budaya sejak dini adalah ikhtiar penting agar warisan luhur tidak hilang ditelan zaman atau tergeser budaya asing.
"Harapannya, anak-anak kita tetap membumi dengan budaya sendiri sebelum mengenal budaya bangsa lain," pungkasnya.
Imam Ghozali, selaku narasumber kegiatan, menjelaskan bahwa siswa tidak hanya menonton tetapi juga diajarkan secara langsung tentang pertunjukan wayang kulit, mulai dari apresiasi cerita hingga pengenalan alat-alatnya, sebagai bentuk penguatan literasi budaya di sekolah.
Sementara itu, Deny Sparingga, Kepala Desa Pulorejo, sangat mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, pengenalan wayang kulit sejak dini akan mencegah adat dan budaya Jawa dari kepunahan.
"Dengan kegiatan ini, anak-anak kita mempunyai pengalaman yang membekas. Harapannya mereka tidak hanya bisa bercerita dan meneruskan kebudayaan ini tetapi bisa juga menjadi generasi penerus, " tuturnya.
Kegiatan Wayang Masuk Sekolah ketiga ini menjadi bukti komitmen Pemerintah Kabupaten Jombang dalam melestarikan warisan budaya Indonesia dan membentuk karakter generasi muda yang berakhlak, kreatif, serta bangga akan identitas budayanya sendiri. (san).
What's Your Reaction?



