Perkuat Rantai Pasok MBG, Pemkab Situbondo Larang Praktik Calo dalam Penyerapan Telur Lokal
Pemerintah Kabupaten Situbondo menggandeng APLS untuk menyerap telur peternak lokal bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan harga di atas rata-rata pasar untuk perkuat ekonomi daerah.
Situbondo, (afederasi.com) – Pemerintah Kabupaten Situbondo mulai mematangkan rantai pasok lokal untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah strategis ini diawali melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Asosiasi Peternak Layer Situbondo (APLS) dan Asosiasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Pendopo Rakyat Situbondo.
Kesepakatan ini dirancang sebagai solusi untuk menciptakan kepastian pasar bagi peternak lokal. Selain itu, pemerintah ingin memastikan seluruh kebutuhan bahan pangan dapur MBG dipasok langsung dari hasil produksi masyarakat setempat.
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, mengungkapkan bahwa mulai pekan depan, SPPG akan menyerap telur produksi peternak lokal dengan harga tetap Rp27.500 per kilogram. Angka ini dipastikan lebih tinggi dari Harga Acuan Pemerintah (HAP).
"MoU ini memberikan banyak manfaat. Mulai Senin pekan depan, SPPG menyerap telur dari peternak kita dengan harga di atas HAP, yakni Rp27.500 per kilogram," ujar Bupati yang akrab disapa Mas Rio tersebut.
Mas Rio menegaskan, penerapan harga tersebut bertujuan memberikan kepastian bagi peternak sekaligus memacu produktivitas. Ia pun melarang keras adanya praktik percaloan dalam rantai distribusi ini.
"Ada kepastian harga, produktivitas peternak meningkat, kebutuhan SPPG juga aman. Yang terpenting, tidak boleh ada praktik percaloan atau broker," tegasnya.
Skema ini diyakini mampu menjadi model baru agar program MBG tidak hanya menyasar pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi lokomotif penggerak ekonomi daerah. Mas Rio menambahkan, pihaknya berencana memperluas pola ini ke sektor lain, seperti kerja sama dengan nelayan untuk pasokan ikan dan pengelolaan limbah organik menjadi pupuk cair.
"Tujuan MBG dari Presiden adalah memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar, bukan mengambil dari luar daerah. Dengan begitu, manfaat ekonominya benar-benar dirasakan masyarakat Situbondo," kata dia.
Ketua Asosiasi SPPG, Roni Sugiharto Susiawan, menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia berharap kerja sama yang direncanakan berjalan selama tiga bulan ini dapat memberi dampak nyata bagi kesejahteraan peternak.
"Kami sangat mendukung program pemerintah daerah. Kerja sama ini diharapkan memberikan manfaat nyata bagi peternak lokal karena harga pembelian sudah ditetapkan Rp27.500 per kilogram," jelas Roni.
Saat ini, kerja sama tersebut melibatkan sekitar 25 anggota yayasan yang mengelola kurang lebih 30 dapur SPPG di Situbondo. Jumlah tersebut diproyeksikan akan terus bertambah seiring masuknya dapur-dapur baru ke dalam ekosistem ini.
Di sisi lain, Plt Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Situbondo, Abdul Rahman, memastikan kapasitas produksi peternak lokal mampu memenuhi kebutuhan SPPG. Kebutuhan telur untuk seluruh dapur yang telah bergabung mencapai sekitar 20 ton setiap pekan.
"Permintaan SPPG sekitar 20 ton per minggu dan APLS siap memenuhinya. Produksi harian peternak anggota saat ini sekitar lima ton, sehingga kebutuhan tersebut bisa dipenuhi," jelas Rahman.
Rahman menjamin penyerapan telur untuk program MBG ini tidak akan memicu kelangkaan di pasar umum. Masyarakat tetap dapat memperoleh telur melalui jalur distribusi yang selama ini berjalan di Situbondo.
"Telur untuk SPPG berasal dari peternak lokal, sedangkan kebutuhan masyarakat tetap dipenuhi dari pasokan luar daerah yang selama ini masuk ke Situbondo. Jadi tidak akan terjadi gejolak atau kelangkaan di pasaran," pungkasnya.(vya/dn)
What's Your Reaction?

