Jelang Idul Adha, Penjualan Kambing Kurban di Lamongan Anjlok Drastis

"Daya beli masyarakat memang merosot tajam tahun ini. Tak hanya sepi pembeli, kami bahkan terpaksa memangkas harga jual kambing hingga Rp500 ribu per ekornya. Langkah ini terpaksa diambil agar kami tidak merugi bandar," ujar Sulistiono saat ditemui di area peternakan, Sabtu (23/5/2026).

23 May 2026 - 13:29
Jelang Idul Adha, Penjualan Kambing Kurban di Lamongan Anjlok Drastis
Peternak saat mengecek kondisi kambing kurban di kandang Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih, Desa Tambakploso, Kecamatan Turi, Lamongan, Sabtu (23/5/2026). Imbas gagal panen dan tren patungan sapi, penjualan kambing di wilayah tersebut anjlok hingga peternak terpaksa memangkas harga Rp500 ribu per ekor. (Iyan Farikh/afederasi.com

Lamongan, (afederasi.com) – Iduladha tinggal menghitung hari, namun geliat aktivitas perdagangan hewan kurban di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, justru menunjukkan tren lesu. Para pedagang dan peternak lokal mengeluhkan merosotnya omzet penjualan secara drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Lemahnya daya beli masyarakat ditengarai menjadi pemicu utama. Kondisi ini diduga kuat merupakan dampak berantai dari bencana gagal panen yang melanda petani setempat, serta beralihnya tren masyarakat yang kini lebih memilih berkurban sapi secara patungan.

Pantauan di lapangan, suasana sepi sangat terasa di salah satu kandang peternakan kambing yang dikelola oleh Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Desa Tambakploso, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan. Di kandang ini, sebenarnya terdapat sedikitnya 120 ekor kambing siap jual yang sudah memenuhi syarat syariat untuk dijadikan hewan kurban. Namun, mendekati hari H Lebaran Kurban, transaksi jual beli justru sepi peminat.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan situasi tahun lalu. Jika pada musim kurban sebelumnya seluruh stok hewan kurban sudah habis terjual sepekan sebelum lebaran, kini baru sekitar 60 persen saja kambing yang laku dari kandang.

Pengurus KDKMP sekaligus peternak kambing setempat, Sulistiono, membenarkan bahwa daya beli masyarakat pada tahun ini merosot tajam. Demi menyiasati keadaan dan agar modal bisa berputar, peternak terpaksa memutar otak, termasuk menurunkan harga jual.

"Daya beli masyarakat memang merosot tajam tahun ini. Tak hanya sepi pembeli, kami bahkan terpaksa memangkas harga jual kambing hingga Rp500 ribu per ekornya. Langkah ini terpaksa diambil agar kami tidak merugi bandar," ujar Sulistiono saat ditemui di area peternakan, Sabtu (23/5/2026).

Menurut Sulistiono, lesunya penjualan hewan kurban kali ini dipicu oleh bencana banjir yang menyebabkan gagal panen massal di kawasan pertanian Lamongan beberapa waktu lalu. Akibatnya, kondisi finansial warga pedesaan terganggu.

Selain faktor ekonomi akibat gagal panen, pergeseran minat masyarakat juga menjadi faktor penentu. Warga kini dinilai lebih memilih sistem patungan (kolektif) untuk membeli sapi, karena dianggap jauh lebih ekonomis secara hitungan biaya per orang dibandingkan membeli satu ekor kambing secara individu.

Tak mau pasrah begitu saja dengan keadaan ekonomi yang sulit, para peternak di Desa Tambakploso kini mulai memutar strategi pemasaran. Mereka mulai memanfaatkan ekosistem digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Saat ini, pemasaran hewan kurban mulai gencar dilakukan secara daring (online) melalui media sosial hingga memanfaatkan fitur live streaming.

Meski kondisi di lapangan cukup menantang, para peternak lokal tetap menaruh harapan besar. Mereka berharap akan ada lonjakan permintaan yang signifikan pada hari-hari terakhir menjelang Hari Raya Idul Adha mendatang. (yan)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow