Disdagnaker Pacitan Benarkan Libur SPPG Ikut Tekan Harga Telur, Pasokan Melimpah Jadi Pemicu
Pacitan, (afederasi.com) - Dinas Perdagangan dan Ketenagakerjaan (Disdagnaker) Kabupaten Pacitan membenarkan berhentinya sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat libur sekolah turut memengaruhi anjloknya harga telur ayam ras di tingkat peternak.
Namun, kondisi tersebut bukan menjadi satu-satunya penyebab karena tingginya pasokan telur dan mahalnya biaya produksi juga ikut menekan harga.
Kepala Bidang Perdagangan dan Kemetrologian Disdagnaker Pacitan, Sukanto Solikin, mengatakan kesimpulan tersebut diperoleh dalam rapat koordinasi yang melibatkan Polres Pacitan, Dinas terkait, pedagang besar telur, peternak ayam petelur, hingga pihak SPPG.
"Dari hasil rapat, penurunan harga telur dipengaruhi tingginya pasokan, berhentinya sementara kegiatan MBG atau SPPG, serta biaya produksi yang masih tinggi akibat harga pakan," ujarnya, Kamis (9/7/2026).
Sukanto menjelaskan, dampak kondisi tersebut terlihat dari harga telur ayam ras di tingkat peternak yang kini merosot hingga di bawah Rp20 ribu per kilogram.
Padahal, dalam kondisi normal peternak membutuhkan harga jual sekitar Rp25 ribu per kilogram agar masih memperoleh keuntungan.
Sementara itu, harga telur di tingkat eceran di Pasar Minulyo masih berkisar Rp21 ribu hingga Rp22 ribu per kilogram.
Ia menambahkan, kebutuhan telur ayam ras di Kabupaten Pacitan hingga kini masih didominasi pasokan dari luar daerah yang mencapai sekitar 30 ton per hari.
Kondisi tersebut membuat persaingan di pasar semakin ketat ketika permintaan menurun selama masa libur sekolah.
Untuk mengurangi tekanan terhadap peternak lokal, seluruh pihak dalam rapat sepakat memperkuat koordinasi antara peternak, pedagang besar, dan SPPG.
Langkah itu diharapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus menjamin keberlangsungan usaha peternak ayam petelur di Pacitan.
Menurut Sukanto, SPPG juga telah menyampaikan komitmennya untuk memprioritaskan pembelian telur dari peternak lokal sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam perencanaan menu MBG, telur dijadwalkan disajikan sebanyak tiga kali dalam sepekan sehingga diharapkan dapat membantu meningkatkan penyerapan hasil produksi peternak.
Selain memperkuat koordinasi pemasaran, Pemerintah Kabupaten Pacitan akan terus memantau perkembangan harga telur di lapangan.
Pemkab juga mendorong pemanfaatan Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Jagung guna membantu menekan biaya pakan yang selama ini menjadi beban terbesar peternak.
"Pemerintah akan terus memfasilitasi komunikasi antara peternak, pedagang, dan SPPG agar tercipta harga yang wajar, menguntungkan peternak, pedagang, maupun masyarakat sebagai konsumen," tambahnya.
Sebelumnya, sejumlah peternak ayam petelur di Pacitan mengeluhkan harga telur yang turun hingga di bawah Rp20 ribu per kilogram.
Di sisi lain, harga pakan tetap tinggi sehingga keuntungan peternak tergerus dan sebagian mengaku mengalami kerugian selama beberapa pekan terakhir. (fer)
What's Your Reaction?

