Gus Bahar Peringatkan Krisis Akhlak di Era Media Sosial

22 May 2026 - 10:59
Gus Bahar Peringatkan Krisis Akhlak di Era Media Sosial
Gus Bahar dari Pesantren Salafiyyah Seblak Jombang, Jumat (22/05/2026). (Foto: Istimewa)

Jombang, (afederasi.com) – Di tengah hiruk-pikuk informasi yang meledak di era digital, seorang tokoh muda pesantren, Gus Bahar, melontarkan kritik sosial yang tajam. Ia menyoroti fenomena umat yang saat ini "kaya dalil" tetapi "kering makna".

Menurut Gus Bahar, modernisasi dan kemajuan teknologi justru melahirkan kondisi ironis. Semua orang merasa paling benar dengan mengutip ayat dan hadis, namun di sisi lain, akhlak mulia semakin menipis.

"Ayat dibaca di mana-mana, hadis dikutip setiap saat, tetapi kita justru menyaksikan akhlak yang perlahan hilang. Agama kerap dipakai sebagai tameng pembenaran diri, bukan penerang hati," ujar Gus Bahar, Jumat (22/05/2026).

Gus Bahar menggambarkan fenomena ini sebagai "kaya dalil, kering makna" . Ironisnya, kekeringan makna ini terjadi bukan karena manusia jauh dari agama, melainkan karena cara beragama yang salah kaprah.

Lidah fasih menyebut dalil, jari cepat mengetik ayat, dan debat agama berlangsung siang malam di media sosial. Namun, hati terasa semakin keras, persaudaraan mudah retak, dan orang begitu ringan mencela serta menghakimi atas nama kebenaran.

"Karena agama perlahan dipindahkan dari ruang penghambaan menuju ruang pembenaran. Dalil tidak lagi dipakai untuk menundukkan ego, tetapi untuk memenangkan ego," tegasnya.

Gus Bahar mengingatkan bahwa Rasulullah SAW tidak hanya datang membawa teks (Al-Qur'an), tetapi membawa keteladanan hidup. Akhlak beliau adalah Al-Qur'an yang berjalan .

"Ketika agama dipisahkan dari akhlak, yang hilang bukan hanya etika sosial, tetapi ruh agama itu sendiri," imbuhnya.

Ia menyayangkan maraknya sikap mudah menuduh sesat, kafir, bid'ah, dan munafik hanya karena perbedaan pandangan. Media sosial, menurutnya, memperparah keadaan karena algoritma lebih menyukai kemarahan daripada kebijaksanaan.

Di titik inilah, Gus Bahar menegaskan bahwa pesantren memiliki tanggung jawab besar. Pesantren bukan hanya tempat belajar kitab, melainkan tempat menempa jiwa.

Santri dididik bukan hanya memahami hukum (fiqih), tetapi juga memahami adab. Sebab, ulama terdahulu sadar bahwa kerusakan terbesar bukan pada kebodohan, melainkan pada ilmu yang kehilangan keberkahan.

Pesantren harus hadir sebagai pusat pembentukan manusia utuh: kuat ilmunya, lembut hatinya, luas pandangannya, dan kokoh akhlaknya.

Gus Bahar juga menyoroti bahaya budaya instan dalam memahami agama. Banyak orang ingin memahami agama secara cepat tanpa proses pendalaman (talaqqi).

Potongan video pendek dianggap cukup menggantikan kajian bertahun-tahun. Akibatnya, lahirlah cara beragama yang dangkal: semangatnya besar, tetapi kedalaman ilmunya rapuh.

"Padahal memahami agama tidak cukup hanya dengan teks. Dibutuhkan kejernihan hati dan keluasan pandangan. Sejarah telah membuktikan, kelompok Khawarij dulu rajin ibadah dan kuat baca Al-Qur'an, tapi pemahaman sempit mereka melahirkan tragedi besar," jelasnya.

Di akhir pernyataannya, Gus Bahar mengajak umat untuk merenung. Jika agama hanya berhenti pada dalil tanpa melahirkan kasih sayang, maka ada yang salah dalam cara memahaminya. Jika ilmu hanya melahirkan kebencian dan kesombongan, maka ilmu itu kehilangan cahaya.

"Sebab di hadapan Allah, yang akan menyelamatkan manusia bukan panjangnya perdebatan, melainkan kebersihan hati dan amal yang diridhai-Nya. Kita butuh hati yang takut kepada Allah, mencintai Rasul, dan menghormati sesama manusia," pungkasnya.

Karena agama yang sejati tidak hanya membuat manusia pandai berbicara tentang Tuhan, tetapi juga membuat manusia lebih manusiawi. (san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow