Dukung Hemat Energi, ASN dan Guru di Lamongan Kompak Bersepeda hingga Batasi Penggunaan AC
Satu, ingin sehat. Yang kedua, mengurangi BBM, hemat energi. Jarak dari rumah ke sekolah kurang lebih 6 kilo. Harapannya kalau bisa ya Bapak/Ibu guru juga mengikuti sedikit demi sedikit, supaya untuk kesehatan bisa, untuk menghemat juga bisa. Mendukung pemerintah untuk mengadakan hemat energi," ujarnya.
Lamongan, (afederasi.com) – Langkah nyata mendukung program efisiensi energi mulai ditunjukkan oleh kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan tenaga pendidik di Kabupaten Lamongan. Bukan sekadar wacana, aksi penghematan ini dilakukan mulai dari perubahan gaya hidup sehat dengan bersepeda ke kantor hingga membatasi penggunaan penyejuk ruangan (AC) di lingkungan instansi.
Langkah ini diambil sebagai bentuk dukungan terhadap instruksi pemerintah terkait penghematan energi dampak eskalasi konflik di timur tengah. Menariknya, perubahan ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada kesehatan dan penghematan biaya operasional.
Kasduni, salah satu guru di MAN 1 Lamongan, mencuri perhatian karena konsisten menggunakan sepeda menuju sekolah. Baginya, bersepeda bukan sekadar mengikuti aturan, melainkan bentuk kesadaran untuk menjaga kebugaran di tengah rutinitas mengajar.
"Satu, ingin sehat. Yang kedua, mengurangi BBM, hemat energi. Jarak dari rumah ke sekolah kurang lebih 6 kilo. Harapannya kalau bisa ya Bapak/Ibu guru juga mengikuti sedikit demi sedikit, supaya untuk kesehatan bisa, untuk menghemat juga bisa. Mendukung pemerintah untuk mengadakan hemat energi," ujarnya.
Senada dengan upaya tersebut, pihak sekolah juga menerapkan kebijakan ketat terkait penggunaan energi di area belajar mengajar. Kepala MAN 1 Lamongan, Nur Endah Mahmudah, mengungkapkan bahwa sekolah kini mulai membatasi penggunaan AC dan mendorong guru yang bertempat tinggal dekat untuk bersepeda.
Meskipun awalnya memerlukan adaptasi bagi para siswa, kebijakan ini terbukti efektif dalam menekan biaya rutin sekolah.
"Guru-guru kami itu sudah yang dekat-dekat bolehlah memakai sepeda. Selain itu kita sudah mulai mengurangi tempat-tempat yang memakai AC, kecuali ruangan-ruangan yang memang dibutuhkan untuk bersama. Tapi kalau ruang-ruang yang kira-kira kelas, itu sudah tanpa AC sekarang. Biaya operasional tentunya sudah turun, betul-betul turun," jelasnya.
Tak hanya di lingkungan sekolah, efisiensi energi juga merambah ke instansi pemerintahan. Kabid P2P Dinas Kesehatan Lamongan, dr. Yany Khoirurakhmawati, menjelaskan bahwa pihaknya menerapkan aturan ketat terkait sirkulasi udara alami sebelum menggunakan pendingin ruangan.
"Di bidang P2P itu ada aturan bahwa ketika pagi hari semua jendela harus dibuka, AC tidak boleh dinyalakan. Nanti AC baru menyala kira-kira jam 09.30 siang. Karena kita tidak dapat WFH, jadi akhirnya kita harus hemat energinya di sana," terangnya.
Aksi yang dimulai dari lingkungan pendidikan dan kesehatan ini diharapkan mampu menjadi pemantik bagi instansi lain di Lamongan untuk lebih bijak dalam menggunakan energi demi keberlangsungan lingkungan di masa depan. (yan)
What's Your Reaction?

