Dewan Keamanan PBB Gagal Mengamankan Bantuan Kemanusiaan untuk Gaza: Krisis Kemanusiaan Terus Meningkat
Di tengah meningkatnya jumlah korban tewas dan penderitaan yang dialami warga sipil Palestina di Jalur Gaza, Dewan Keamanan PBB mengalami kegagalan dalam upaya menyepakati bantuan kemanusiaan untuk mereka.
Gaza, (afederasi.com) - Di tengah meningkatnya jumlah korban tewas dan penderitaan yang dialami warga sipil Palestina di Jalur Gaza, Dewan Keamanan PBB mengalami kegagalan dalam upaya menyepakati bantuan kemanusiaan untuk mereka. Sementara itu, utusan Israel dan Palestina terlibat dalam pertukaran tuduhan.
Kepala bantuan kemanusiaan PBB, Martin Griffiths, dari Mesir, mengirim pesan kepada peserta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB. Griffiths berusaha menjembatani pembukaan akses untuk bantuan kemanusiaan ke Gaza, sambil menyatakan bahwa "laju kematian, penderitaan, penghancuran, pelanggaran hukum internasional sangatlah luar biasa."
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, yang mendesak "gencatan senjata kemanusiaan segera" untuk memfasilitasi pembebasan sandera dan memberikan akses tak terbatas ke bantuan kemanusiaan bagi seluruh penduduk Gaza. Guterres akan mengadakan lebih banyak pembicaraan setibanya di Kairo pada Kamis (19/10).
Presiden AS, Joe Biden, dalam kunjungannya ke Tel Aviv pada Rabu, menyatakan bahwa Israel telah setuju untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza melalui Mesir, dengan syarat bahwa bantuan tersebut akan melewati pemeriksaan dan diberikan kepada warga sipil, bukan kepada Hamas.
Gaza telah mengalami isolasi penuh oleh Israel sejak terjadinya serangan teror yang mematikan oleh militan Hamas ke wilayah Israel pada 7 Oktober, yang menewaskan 1.400 warga Israel dan menculik hampir 200 orang, membawa mereka ke Jalur Gaza yang dikuasai oleh kelompok militan tersebut. Israel kemudian mendeklarasikan perang terhadap Hamas, menyebabkan tewasnya paling sedikit 3.000 warga Palestina selama 11 hari serangan terakhir. Lebih dari satu juta warga Gaza saat ini mengalami kesulitan mendapatkan bahan bakar, makanan, dan air bersih, serta mendapatkan instruksi untuk pergi ke selatan Jalur Gaza demi keselamatan mereka.
Meskipun sejumlah lembaga bantuan telah menyiapkan sekitar 3.000 ton pasokan untuk dikirim melalui perbatasan Rafah yang menghubungkan Mesir dengan selatan Gaza, belum ada bantuan yang tiba di Gaza hingga hari Rabu. Di sisi AS, saat Presiden Biden berbicara dari Israel, AS menggunakan hak veto dalam Dewan Keamanan PBB untuk menghalangi resolusi kemanusiaan yang diajukan oleh Brazil. Resolusi tersebut mendapatkan dukungan dari 12 dari 15 anggota Dewan Keamanan, yang mengutuk kekerasan dan menyerukan pembebasan sandera serta gencatan senjata untuk memungkinkan bantuan bagi warga sipil Gaza.
Duta Besar AS untuk PBB, Linda Thomas-Greenfield, menyatakan bahwa mereka berusaha menjadikan diplomasi sebagai sarana utama dalam menangani situasi ini. Meskipun Brazil berupaya untuk mendorong proposalnya, AS berpendapat bahwa diplomasi harus diberi kesempatan untuk berjalan, terutama dengan adanya dialog yang intensif yang melibatkan Sekjen PBB Guterres, Presiden Biden, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, serta pemimpin regional lainnya.
Sebelum pertemuan Dewan Keamanan, Menteri Luar Negeri Israel mengatakan bahwa utusannya akan menyajikan "bukti nyata" di hadapan anggota Dewan Keamanan yang menunjukkan bahwa kelompok militan yang menyerang rumah sakit di Gaza adalah Hamas. Namun, Duta Besar Israel Gilad Erdan tidak menyajikan bukti konkret selain tuduhan terhadap Hamas. (mg-1/jae)
What's Your Reaction?



