Menguak Misteri Gunung Pucangan Jombang: 13 Makam Keramat, Sendang Widodaren serta Sendang Ndermo dan Kisah Pertapaan Dewi Kilisuci

01 May 2026 - 19:16
Menguak Misteri Gunung Pucangan Jombang: 13 Makam Keramat, Sendang Widodaren serta Sendang Ndermo dan Kisah Pertapaan Dewi Kilisuci
Pendopo Makam Dewi Kilisuci yang ada di Gunung Pucangan di Desa Cupak, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang Jawa Timur, Jumat (01/05/2026). (Foto: Santoso/afederasi.com)

Jombang, (afederasi.com) – Kabupaten Jombang yang dikenal sebagai Kota Santri ternyata menyimpan satu lagi permata wisata religi yang sarat nilai sejarah dan spiritual. Di ujung timur laut, tepatnya di Desa Cupak, Kecamatan Ngusikan, terdapat sebuah bukit yang disakralkan bernama Gunung Pucangan.

Bukan sekadar hamparan alam hijau yang asri, Gunung Pucangan adalah lokasi peristirahatan terakhir sekaligus tempat pertapaan putri bangsawan dari era Kerajaan Kediri.

Perpaduan antara keindahan alam, nuansa mistis, dan peninggalan sejarah kuno menjadikan destinasi ini incaran para peziarah maupun wisatawan yang haus akan cerita legenda.

Daya tarik utama Gunung Pucangan terletak pada sosok Dewi Kilisuci, putri dari Raja Airlangga, penguasa legendaris Kerajaan Kediri. Berbeda dengan kisah bangsawan pada umumnya yang haus kekuasaan, Dewi Kilisuci justru memilih mengasingkan diri.

"Dewi Kilisuci adalah nama julukan karena beliau seorang pertapa suci. Beliau belum pernah menikah," jelas Agus, juru kunci makam Dewi Kilisuci, saat ditemui afederasi.com pada Jumat (01/05/2026).

Menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat setempat, sang putri dijodohkan dan ditetapkan untuk menjadi ratu. Namun, ia menolak takdir tersebut. "Dewi Kilisuci lebih memilih mengasingkan diri atau bertapa daripada meneruskan tahta kerajaan. 

Beliau memilih mendoakan kesejahteraan rakyatnya dan melakukan perjalanannya di Gunung Pucangan atau Alas Pugawat," tambah Agus.

Di sanalah ia menghabiskan sisa hidupnya dengan bertapa, menjadikan gunung tersebut sebagai tempat suci penuh berkah hingga akhir hayatnya.

Tidak hanya satu, kompleks Gunung Pucangan menyimpan 13 makam keramat yang hingga kini masih dijaga dengan khidmat. Makam Dewi Kilisuci menjadi yang paling utama, berada di dalam bangunan tertutup dan terpisah dari makam lainnya.

Berikut daftar lengkap 13 makam yang ada di Gunung Pucangan menurut penuturan Agus:

1. Eyang Dewi Kili Suci

2. Eyang Rogo Wali Suci

3. Eyang Sunuwun Wali

4.Eyang Joyo Kuoso

5.Eyang Sayid Sulaiman

6.Eyang Siti

7.Eyang Sundari

8.Eyang Ambarsari

9.Eyang Ambarwati

10.Eyang Sakti

11.Eyang Agono

12.Eyang Cerobo

13.Pengeran Said

"Makam Dewi Kilisuci berada di dalam bangunan tertutup dan terpisah dari makam lainnya. Ini menunjukkan betapa penting dan mulianya posisi beliau di mata masyarakat sekitar," ujar Agus.

Dua Sendang Sakral: Widodaren dan Ndermo

Keunikan lain dari wisata religi ini adalah keberadaan dua sendang (telaga kecil) yang terletak di kaki Gunung Pucangan. Konon, air di sendang ini dipercaya sebagai tempat mandi para bidadari sejak zaman dahulu.

Agus menjelaskan secara rinci, "Sebelum naik ke Gunung Pucangan, di bawah ada dua sendang. Sendang Widodaren di sebelah kanan jalan, yang dulunya dibuat untuk mandi para bidadari dan sampai sekarang masih dilestarikan. Kebanyakan yang mandi di sana adalah para wanita."

Kemudian, lanjut Agus, "Naik lagi ke atas, di sebelah kiri jalan ada Sendang Ndermo. Sendang itu memiliki dua sumber mata air, yaitu Sendang Drajat dan Sendang Kamulyan."

Ia memerinci fungsi kedua sendang tersebut:

Sendang Drajat: Khusus untuk mandi atau bersuci sebelum naik ke Gunung Pucangan.

Sendang Kamulyan: Airnya biasa dibawa pulang, diminum oleh peziarah, atau dijadikan sarana sesuai keyakinan masing-masing individu.

Malam Jumat Legi: Puncak Keramaian hingga 500 Peziarah

Bagi masyarakat sekitar, Gunung Pucangan bukan sekadar objek wisata, melainkan pusat kehidupan spiritual. Banyak pengunjung datang tidak hanya untuk berlibur, tetapi berziarah dengan tujuan khusus, seperti memohon berkah, ketentraman hati, atau jawaban atas hajat tertentu.

Meskipun akses jalannya menanjak dan cukup menantang, medan tersebut masih bisa dijangkau dengan sepeda motor. Kunjungan harian terbilang bervariasi, namun puncak keramaian terjadi pada malam Jumat Legi.

"*Pada malam-malam sakral tersebut, jumlah peziarah bisa mencapai 500 orang lebih yang datang dari berbagai daerah di Jawa Timur. Kalau hari biasa, di atas 25 peziarah,*" terang Agus.

Keberadaan makam-makam kuno dan artefak sejarah di Gunung Pucangan tidak hanya memikat peziarah. Para akademisi, peneliti sejarah, serta pecinta budaya lokal juga kerap datang untuk mengkaji keterkaitan situs ini dengan Kerajaan Airlangga.

Gunung Pucangan berhasil menyuguhkan paket wisata lengkap: petualangan alam di bukit hijau, wisata religi yang menyejukkan hati, serta edukasi sejarah dari warisan cerita rakyat Jawa Timur yang masih lestari hingga kini.

Bagi Anda yang berkunjung ke Jombang, jangan lewatkan kesempatan untuk merasakan sensasi mistis sekaligus teduhnya Wisata Religi Gunung Pucangan. Sebuah destinasi yang membuktikan bahwa sejarah, alam, dan keyakinan dapat bersatu dalam harmoni. (san).

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow