Bukan Sekadar Dipulangkan, Pemkab Gresik Selamatkan Masa Depan Anak Pekerja Migran Indonesia
""Yang kami harapkan sederhana, anak-anak diterima di Indonesia, memiliki identitas, dan bisa sekolah tanpa dipersulit administrasi. Gresik memberikan harapan itu," katanya.
Gresik, (afederasi.com) – Kepulangan anak-anak pekerja migran Indonesia (PMI) dari Malaysia bagi Pemerintah Kabupaten Gresik bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Justru dari titik itulah upaya menyelamatkan masa depan mereka dimulai.
Di balik proses pemulangan, ada misi yang lebih besar: memastikan setiap anak kembali memiliki identitas sebagai warga negara, dapat bersekolah, memperoleh layanan kesehatan, perlindungan sosial, dan tumbuh dengan kesempatan yang sama untuk meraih cita-cita.
Komitmen itu kembali dibuktikan Pemkab Gresik saat menyambut sembilan anak pekerja migran di Pendopo Kabupaten Gresik, Jumat (10/07/2026). Enam di antaranya merupakan anak asal Gresik, sementara tiga lainnya berasal dari daerah lain yang turut difasilitasi dalam proses pemulangan dari Malaysia.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menegaskan, negara tidak boleh berhenti setelah anak-anak berhasil dipulangkan. Tugas yang lebih besar adalah memastikan mereka tidak lagi kehilangan hak-haknya hanya karena persoalan administrasi kependudukan.
"Menyelamatkan satu anak sama saja menyelamatkan satu generasi. Mereka harus memiliki identitas, memperoleh pendidikan, mendapatkan layanan kesehatan, serta perlindungan sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Perlindungan Anak. Ketika identitas mereka tidak ada, maka akses terhadap seluruh hak hidupnya ikut terputus," tegas Gus Yani.
Karena itu, Pemkab Gresik langsung bergerak sejak anak-anak tiba di tanah kelahirannya. Mereka menjalani perekaman biometrik dan penerbitan dokumen kependudukan, menerima perlengkapan sekolah, bantuan sembako, hingga pendampingan psikososial agar mampu beradaptasi dengan lingkungan baru.
Tak berhenti di situ, Dinas Pendidikan memastikan tidak ada satu pun anak yang kehilangan kesempatan belajar. Bagi yang masih memenuhi usia sekolah akan dimasukkan ke sekolah formal, sedangkan yang telah melewati jenjang tertentu akan difasilitasi melalui pendidikan kesetaraan.
"Kami tidak ingin masa depan mereka berhenti hanya karena tidak memiliki dokumen. Mereka harus kembali punya harapan, bisa sekolah, dan menggapai cita-citanya," ujar Gus Yani.
Upaya tersebut merupakan bagian dari skema perlindungan terpadu hasil kerja sama Pemkab Gresik dengan KBRI Kuala Lumpur melalui nota kesepahaman yang ditandatangani pada Oktober 2025. Kolaborasi itu memastikan perlindungan anak pekerja migran berlangsung sejak proses pendataan di Malaysia hingga mereka kembali menjalani kehidupan di Indonesia.
Bagi Shoheh, perwakilan KBRI Kuala Lumpur, langkah yang dilakukan Pemkab Gresik memiliki makna yang sangat dalam. Pria asal Bawean itu pernah merasakan hidup terpisah dari orang tuanya yang bekerja sebagai pekerja migran di Malaysia, sehingga memahami beratnya perjuangan anak-anak tersebut.
"Yang kami harapkan sederhana, anak-anak diterima di Indonesia, memiliki identitas, dan bisa sekolah tanpa dipersulit administrasi. Gresik memberikan harapan itu," katanya.
Apresiasi juga datang dari Kepala Bidang Perlindungan Anak DP3AK Provinsi Jawa Timur, Chandra. Menurutnya, Gresik telah menunjukkan bahwa perlindungan anak pekerja migran tidak berhenti pada seremoni pemulangan, tetapi diwujudkan melalui langkah nyata yang menjamin keberlangsungan hidup dan masa depan mereka.
Program ini merupakan pemulangan tahap kedua. Sebelumnya, tiga anak pekerja migran asal Gresik telah lebih dulu difasilitasi kembali ke Indonesia. Kini, enam anak lainnya kembali menginjakkan kaki di kampung halaman dengan satu kepastian baru: mereka tidak hanya pulang, tetapi juga mendapatkan kembali haknya sebagai anak Indonesia.
Bagi Pemkab Gresik, keberhasilan bukan diukur dari berapa banyak anak yang berhasil dipulangkan. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika mereka kembali memiliki identitas, duduk di bangku sekolah, tumbuh dalam lingkungan yang aman, dan mampu menatap masa depan dengan harapan yang sama seperti anak-anak Indonesia lainnya.(frd)
What's Your Reaction?

