Santriwati Didiga Korban Cabul Pengasuh Ponpes Mulai Berani Buka Suara

29 Dec 2023 - 19:19
Santriwati Didiga Korban Cabul Pengasuh Ponpes Mulai Berani Buka Suara
Ilustrasi: Korban alami trauma berat. (Istimewa)

Gresik, (afederasi.com) - Pasca ditetapkan tersangka pengasuh ponpes di pulau Bawean yang diduga melakukan perbuatan cabul pada sejumlah santriwatinya. Terbaru korban pencabulan yang dilakukan oleh oknum kiai Bawean Gresik bernisial NS mulai berani angkat bicara dan jumlahnya terus bertambah. 

Salah satu diantaranya korban bernisial RA yang merupakan mantan santri di Ponpes Tahfidz Hidayatul Qur’an As Syafi’i mulai berani buka suara terkait peristiwa tak sesonoh yang dialaminya.

RA mengaku mengalami trauma hingga menderita sakit stroke ringan karena depresi. Bahkan santriwati tersebut tidak mau kembali ke pesantren, setelah mengalami tindakan tak senonoh dari pelaku.

Gadis berusia 16 tahun itu kini fokus pada penyembuhan sakit yang diderita. Setelah 17 hari keluar dari pondok, RA mengalami sakit kepala hingga menjalar sakit di bagian tangan dan kaki kirinya. Dokter memfonisnya stroke ringan karena depresi.

RA sendiri termasuk gadis yang rajin. Ia bahkan telah menghafal 4 juz Al-Quran. Kini cita-cita nya sejak kecil sebagai penghafal Al-Quran terancam sirna. Trauma atas kasus yang dialami masih menghantui pikirannya. RA bahkan terngiang dengan ucapan pelaku saat dirinya menolak perintah pelaku.  

“Memang NS ini sering menyuruh pijat santriwati. Biasanya siang atau malam hari. Diluar jam pelajaran. Biasanya di ruang kamar bu Nyai lantai 2. Kadang juga di rumah lantai dasar. Karena memang rumah Kiai hanya disekat Mushola dengan asrama putri,” ungkap RA, Kamis (28/12 /2023). 

Jumlah santriwati, sebut RA, yang mondok ada sebanyak 38 anak. Tidak semua santri menjadi korban pelecehan seksual. Hanya santriwati yang berparas cantik saja mendapatkan perlakuan buruk dari pelaku.

“Kalau santri yang wajahnya biasa saja, biasanya ditugaskan menjadi petugas sampah pondok,” ujar RA.

Dalam melancarkan aksinya modus yang digunakan pelaku ialah dengan meminta para santrinya untuk memijat. Biasanya, kata RA, ada tiga sampai lima santri untuk dimintai memijat pelaku. Namun ada juga satu santri yang diminta secara khusus memijat, sampai ada paksaan melakukan ciuman hingga memijat alat vital pelaku.

Santriwati yang sudah mondok sekitar dua tahun lebih itu, mengaku trauma berat  dan dibayangi rasa takut. Tindakan tipu daya NS sangat membekas dan hingga kini masih terngiang+ngiang dan mehantui ingatanya. RA pun akhirnya memutuskn keluar dan berhenti mondok.

“Setelah satu bulan mondok disana, sudah dapat giliran pijat Kiai. Dengan dalih kalau tidak mau, kamu tidak taat sama Kiainya. Kamu tidak akan selamat dunia akhirat,” tutur RA lirih, menahan airmatanya jatuh. (frd)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow