Ning Ika Tegaskan Peran Kartini Masa Kini Jadi Benteng Keluarga dari Hoaks
Jombang, (afederasi.com) – Peringatan Hari Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April bukan sekadar seremoni mengenang jasa pahlawan emansipasi perempuan.
Lebih dari itu, momen ini menjadi pengingat akan peran krusial seorang ibu dalam membangun peradaban bangsa, terutama di tengah gempuran era digital dan banjir informasi.
Sosok ibu dinilai sebagai benteng utama keluarga dalam menyaring hoaks hingga mendidik karakter anak. Pernyataan ini mengemuka dari pengasuh Pondok Pesantren Putri Mambaul Hikam Jombang, Hj. Ika Maftuhah Mustiqowati yang akrab disapa Ning Ika.
Ning Ika menyatakan bahwa esensi perjuangan Kartini masa kini bertumpu pada pemberdayaan perempuan sebagai arsitek sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan melek digital.
"Kartini dulu berjuang dengan pena untuk menerangi pikirannya. Ibu-ibu sekarang harus berjuang dengan ponsel pintar untuk melindungi anak-anaknya dari bahaya dunia maya," ujar Ning Ika saat ditemui di pondok pesantren Putri Mambaul Hikam Jombang, Sabtu (25/4/2026).
Menurutnya, tema ini sangat relevan dengan kondisi saat ini di mana anak-anak terpapar gawai sejak usia dini. Peringatan Hari Kartini di tahun 2026 harus menjadi momentum nyata, bukan sekadar peringatan tahunan.
"Jangan sampai ibu-ibu justru sibuk dengan ponselnya sendiri sehingga lupa mengawasi anak. Peran ibu sebagai pendidik pertama dan utama tidak bisa digantikan oleh siapa pun, termasuk kecerdasan buatan atau gawai," tegasnya.
Ia mengingatkan kembali pemikiran Maria Walanda Maramis yang menekankan bahwa ibu adalah pendidik awal bagi anak-anaknya. Seorang ibu tidak hanya bertugas mengurus rumah tangga, tetapi juga menjadi sekolah pertama bagi generasi penerus bangsa.
Tiga Pilar Utama Ibu di Era Digital
Ning Ika menjabarkan tiga pilar utama yang harus dikuatkan oleh para ibu di Jombang pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya, untuk mewujudkan cita-cita Kartini:
1. Garda Terdepan Literasi Digital
Ning Ika mengajak para ibu untuk menjadi 'filter' informasi bagi keluarga. Di era banjir hoaks dan disinformasi, ibu harus cakap digital dan mampu melakukan fact-checking sebelum membagikan informasi.
"Seorang ibu yang baik adalah kiper ulung. Dia harus bisa menangkal berita bohong, penipuan online, hingga konten negatif sebelum masuk ke dalam rumah," ujarnya.
2. Pelindung dari Ancaman Siber dengan Pendampingan Aktif
Ning Ika menyoroti maraknya kasus perundungan siber (cyberbullying) dan eksploitasi anak di media sosial. Ia menekankan pentingnya pengawasan orang tua (parental control), bukan hanya melalui aplikasi, tetapi melalui komunikasi yang hangat antara ibu dan anak.
"Anak-anak sekarang butuh teman curhat, bukan hanya teman virtual. Di situlah peran ibu dibutuhkan. Ajak anak bicara, batasi durasi bermain ponsel, dan jadilah influencer terbaik bagi anak Anda sendiri," pesannya.
3. Menjadi Teladan, Bukan Hanya Penonton
Ning Ika mengkritik kebiasaan oversharing atau membagikan aktivitas secara berlebihan di media sosial, terutama yang melibatkan anak.
"Tidak semua momen anak perlu diunggah untuk konten. Lindungi privasi mereka. Itu adalah bentuk cinta dan perlindungan paling nyata," katanya.
Kabupaten Jombang sendiri menunjukkan bukti nyata pemberdayaan perempuan. Bertepatan dengan Hari Kartini, berbagai elemen masyarakat menggelar pawai budaya yang meriah, mulai dari pelajar hingga organisasi wanita.
Hal ini menunjukkan bahwa perempuan Jombang tidak lagi terdiam di ranah domestik, tetapi juga berperan aktif dalam melestarikan budaya dan membangun masyarakat.
Ning Ika berharap semangat Kartini tidak padam setelah tanggal 21 April berlalu. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergotong royong melindungi anak-anak Indonesia.
"Selamat Hari Kartini untuk semua Kartini di Jombang. Mari kita kobarkan semangat 'Habis Gelap Terbitlah Terang'," pungkasnya.(san)
What's Your Reaction?

