Kisah Inspiratif Joko Nursiyanto, Asisten 1 Pemkab Lamongan yang Sudah Donor 124 Kali
"Alhamdulillah, sampai saat ini kita semua diberi kesehatan. Pada hari ini, yaitu Hari Donor Darah Sedunia, saya bersyukur masih bisa mendonorkan darah secara rutin di PMI. Awal saya donor itu sejak muda, tepatnya 22 September 1994, dan sampai sekarang sudah yang ke-124 kali," ungkap Joko Nursiyanto, Minggu (14/6/2026) pagi.
Lamongan, (afederasi.com) – Peringatan Hari Donor Darah Sedunia tahun ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian antar sesama. Di tengah geliat aksi kemanusiaan tersebut, sebuah kisah luar biasa datang dari lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan. Sabtu, (14/6/2026).
Joko Nursiyanto, yang kini menjabat sebagai Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten 1) Pemkab Lamongan, menjadi salah satu sosok teladan nyata. Di balik kesibukannya sebagai pejabat daerah, ia sukses menjaga konsistensi kemanusiaan dengan mendonorkan darahnya sejak usia muda. Tepatnya, langkah awal tersebut ia mulai pada 22 September 1994, dan kini catatannya telah menyentuh angka 124 kali di Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Lamongan.
"Alhamdulillah, sampai saat ini kita semua diberi kesehatan. Pada hari ini, yaitu Hari Donor Darah Sedunia, saya bersyukur masih bisa mendonorkan darah secara rutin di PMI. Awal saya donor itu sejak muda, tepatnya 22 September 1994, dan sampai sekarang sudah yang ke-124 kali," ungkap Joko Nursiyanto, Minggu (14/6/2026) pagi.
Hari Donor Darah Sedunia ini sekaligus menjadi pengingat bagi Joko akan sebuah moto mendalam dari PMI yang selalu tertanam kuat di sanubarinya. Moto inilah yang terus memotivasi dirinya untuk mengulurkan tangan tanpa pamrih melalui tetesan darah.
"Karena sesuai moto PMI yang luar biasa: 'Setetes darah Anda, nyawa bagi sesama.' Itu yang memotivasi saya sehingga sampai saat ini saya tetap dengan kerelaan hati untuk mendonorkan darah saya melalui PMI Kabupaten Lamongan," tuturnya.
Menanggapi catatan donornya yang telah melampaui angka seratus, Joko menyebutkan bahwa apresiasi berupa penghargaan tertinggi dari Presiden bagi para pendonor sukarela sepenuhnya dikembalikan pada kuota dan mekanisme terjadwal yang diatur oleh PMI.
"Tiap tahun itu mesti ada beberapa, mungkin yang antara 100 ke atas itu dijatah berapa orang di tiap kabupaten/kota. Kita tidak tahu pastinya, apakah jadwalnya tahun kemarin, tahun ini, atau tahun berikutnya," kata Joko menambahkan.
Lebih lanjut, dalam perjalanan panjangnya sebagai pendonor sejak dekade 90-an, Joko juga menjadi saksi bagaimana perkembangan ilmu medis ikut memengaruhi regulasi durasi aman atau periodisasi antar-donor darah.
"Saya donor darah itu mulai yang awal dulu periodisasinya 3 bulan sekali. Habis itu berubah menjadi 2 bulan setengah, sampai dengan aturan yang berlaku sekarang yaitu per 2 bulan sudah bisa mendonorkan darah kembali. Durasi waktu yang berganti-ganti itu tentu disesuaikan dengan perkembangan ilmu kesehatan," bebernya.
Mengambil esensi dari momentum peringatan ini, Asisten 1 Pemkab Lamongan tersebut menutup pesannya dengan ajakan hangat bagi masyarakat, khususnya generasi muda Lamongan, agar memastikan kondisi fisik tetap prima saat hendak menolong sesama.
"Kalau pendonor itu dinilai tidak sehat, pasti akan ditolak oleh PMI. Karena yang semula donor darah itu untuk membantu, kalau ada penyakit kan nantinya bisa menyebarkan penyakit. Untuk itu, saya memohon kepada seluruh teman-teman, baik yang muda yang sudah waktunya donor, maupun yang sehat-sehat, marilah kita donorkan darah kita untuk kemanusiaan. Apa pun yang kita lakukan demi kebaikan, insyaallah nanti kembalinya kepada diri kita juga," pungkas Joko Nursiyanto. (yan)
What's Your Reaction?

