Gus Bahar: Kaya Materi Tanpa Ilmu Adalah Kapal Mewah Tanpa Navigasi

03 Jul 2026 - 14:56
Gus Bahar: Kaya Materi Tanpa Ilmu Adalah Kapal Mewah Tanpa Navigasi
Gus Bahar, pengasuh Pesantren Salafiyah Seblak, Jombang. (Foto:Istimewa)

Jombang, (afederasi.com) - Ada sebuah salah kaprah yang belakangan ini dirayakan secara berjamaah di ruang publik kita: penyederhanaan arti kata "selesai dengan diri sendiri". Frasa yang seharusnya bermakna kedalaman batin telah menyusut maknanya menjadi sekadar ukuran materi belaka.

Jika kita membuka media sosial atau mendengarkan obrolan di kedai kopi urban, frasa tersebut telah mengalami penyusutan makna yang luar biasa tragis. Gus Bahar, pengasuh Pesantren Salafiyah Seblak, Jombang, menyampaikan kegelisahannya melihat fenomena ini dalam sebuah pernyataan yang menggugah kesadaran publik.

Ketika "Selesai" Diukur dari Rekening
Gus Bahar mengatakan bahwa seseorang dianggap telah "selesai dengan dirinya" apabila ia telah mencapai titik puncak dalam urusan materi. Indikatornya serba seragam: saldo rekening yang melimpah, kepemilikan aset yang berjejer, status sosial yang mapan, hingga kemampuan untuk membeli apa saja tanpa perlu melihat label harga.

"Sukses hari ini telah berubah menjadi urusan angka-angka lahiriah," ujar Gus Bahar dengan nada prihatin.

Sebagai orang yang tumbuh dan hidup di lingkungan pesantren—sebuah institusi yang secara historis didirikan oleh para leluhur bukan untuk menumpuk angka, melainkan untuk menyemai cahaya—Gus Bahar merasakan kegelisahan yang mendalam melihat fenomena ini.

"Kita sedang menyaksikan sebuah generasi yang silau oleh kilau harta, namun rabun terhadap pentingnya ilmu sebagai kompas pengemudi harta tersebut. Kita sedang merayakan kemakmuran finansial, sembari abai pada kemiskinan akal dan jiwa," tegasnya.

Ketika Harta Jadi Tujuan, Bukan Alat
Mengapa fenomena "dewa materi" ini bisa terjadi? Menurut Gus Bahar, akar masalahnya adalah pergeseran akut dalam cara kita memandang fungsi dunia. Harta hari ini tidak lagi dipandang sebagai alat (wasilah), melainkan sebagai tujuan akhir (ghayah).

"Banyak orang mengira bahwa begitu materi telah tergenggam, maka kebahagiaan, ketenangan, dan kehormatan otomatis akan mengikuti. Ini adalah sebuah cacat logika yang fatal," jelasnya kepada media afederasi.com, Jumat (03/07/2026)

Gus Bahar memberikan analogi mendalam tentang kapal pesiar mewah. Kapal itu terbuat dari bahan terbaik, mesinnya paling mutakhir, dan fasilitas di dalamnya serba mewah. Pemilik kapal itu merasa bangga karena kapal miliknya adalah yang terbaik di dermaga. Namun, ia lupa satu hal: tidak membekali dirinya dengan ilmu navigasi, tidak membawa peta, dan enggan memasang kompas.

"Ketika kapal mewah itu didorong ke tengah samudra luas, apa yang terjadi? Sebanyak apa pun bahan bakar yang dimiliki, semewah apa pun kabinnya, kapal itu hanya sedang menunggu waktu untuk menghantam karang atau tenggelam digulung ombak. Keindahan fisik kapal tidak akan pernah bisa menyelamatkannya dari kebutaan arah sang nakhoda," paparnya.

Itulah analogi terdekat bagi harta yang berdiri sendiri tanpa topangan ilmu. Harta adalah energi mentah yang cair dan tidak punya arah. Ia bisa menjadi berkah, tetapi ia juga bisa berubah menjadi bahan bakar ego yang destruktif jika tidak dikendalikan oleh kebijaksanaan ilmu.

Kekayaan Jiwa: Parameter yang Terlupakan
Di dalam tradisi pemikiran klasik yang diwariskan oleh para ulama dan leluhur di pesantren, parameter "selesai dengan diri sendiri" sama sekali tidak ada hubungannya dengan volume materi. Seseorang yang benar-benar selesai dengan dirinya adalah mereka yang jiwanya telah mencapai titik ketenangan (tuma'ninah), di mana dorongan nafsu egoisnya telah ditundukkan oleh kejernihan ilmunya.

Ada sebuah pesan bijak mendalam yang sering digaungkan di selasar-selasar pesantren: Bukanlah kekayaan itu diukur dari banyaknya perhiasan dan harta benda yang kasat mata, melainkan kekayaan yang sejati adalah ketika jiwa seseorang merasa cukup dan tidak lagi diperbudak oleh keinginan duniawi.

"Orang yang jiwanya kaya tidak akan pernah merasa kekurangan meski hidup dalam kesederhanaan. Sebaliknya, orang yang jiwanya miskin akan tetap merasa kelaparan meskipun seluruh isi bumi ini telah runtuh ke dalam pangkuannya," ungkap Gus Bahar.

Ilmu berfungsi sebagai penata keinginan. Ia mendidik kita untuk tahu kapan harus menekan pedal gas ego, dan kapan harus menginjak rem moral.

Kontras Harta dan Ilmu
Gus Bahar mengajak kita menelaah secara kontras sifat dasar keduanya. Harta adalah sesuatu yang menuntut untuk dijaga. Ketika Anda memiliki banyak uang atau aset, Anda harus menyewa satpam, membangun brankas, atau membayar konsultan hukum untuk melindunginya. Harta melelahkan pemiliknya secara fisik dan mental.

Sementara itu, ilmu memiliki sifat yang sebaliknya: ia adalah sesuatu yang justru menjaga pemiliknya. Ilmu menjaga kita dari salah melangkah, melindungi kita dari keputusan yang merugikan, dan menuntun kita di kegelapan masalah hidup.

"Harta akan berkurang saat dibagi, sedangkan ilmu justru melipatganda saat disebarkan," tegasnya.

Lalu, bagaimana kita harus bersikap di tengah arus zaman yang terlanjur mengagungkan kebendaan ini? Gus Bahar menegaskan bahwa jawabannya bukan dengan membenci harta atau memilih hidup dalam kemiskinan yang disengaja.

"Pesantren tidak pernah mengajarkan manusia untuk antipati terhadap dunia. Menjadi kaya itu baik, bahkan bisa menjadi mulia jika digunakan di jalan yang tepat. Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika harta tersebut masuk dan menguasai hati, sementara pikiran dibiarkan kosong tanpa pencerahan ilmu," jelasnya.

Adab Sebagai Pembersih Jiwa
Kita perlu mengembalikan ilmu sebagai panglima. Pesan ini harus disampaikan secara lantang dan gamblang kepada generasi hari ini: Jangan mengejar bayangan sampai lupa pada benda aslinya.

"Harta tanpa ilmu adalah bayangan semu yang akan hilang begitu matahari tenggelam. Sedangkan ilmu adalah cahaya internal yang akan tetap bersinar bahkan ketika kita sudah berada di dalam kegelapan liang lahat," tutur Gus Bahar.

Namun, lanjutnya, ilmu yang suci tidak akan pernah sudi bersemayam di dalam jiwa yang kotor. Di sinilah adab memegang peran krusial sebagai pembersih bagi qolbu (hati) yang ingin meraih ilmu Allah. Sebelum wadah hati diisi oleh cahaya Allah SWT, ia harus disucikan terlebih dahulu dari penyakit pamer, sombong, dan kerak materialisme melalui jalur adab.

"Tanpa adab, ilmu hanya akan menjadi alat pemuas ego dan kesombongan baru yang tidak membawa keberkahan. Sebaliknya, adab yang digunakan untuk kepentingan tertentu, apalagi kepentingan menguasai atas manusia maupun yang lain, akan menjadi menakutkan karena berpotensi untuk meraih kekuasaan buta yang menghalalkan agama ini untuk dijual dengan harga murah," peringatannya.

Kembali ke Jalan yang Waras
Sebagai penutup, Gus Bahar mengajak kita merenungkan sebuah analogi: harta adalah sepasang kaki yang melangkah, memberikan kita daya jangkau dan kecepatan di dunia. Namun, tanpa mata yang melihat, kaki yang cepat hanya akan membawa kita melompat ke dalam jurang kehancuran.

"Ilmu adalah mata itu—ia yang mendeteksi bahaya dan memastikan setiap langkah kaki tertuju ke arah yang aman," ujarnya.

Sudah saatnya kita berhenti merasa silau dengan mereka yang hanya berlimpah materi namun miskin etika. Mari kita bangun kembali standar sosial baru yang lebih waras: bahwa orang yang benar-benar selesai dengan dirinya adalah ia yang menata qolbu-nya dengan adab, mengisi dadanya dengan ilmu, lalu menggunakan hartanya sebagai pelayan iman.

"Inilah warisan nilai keilmuan sejati yang dirawat oleh para leluhur pesantren. Sebuah kompas hidup yang mendidik kita untuk menggenggam dunia di tangan, bukan menyimpannya di dalam hati, demi menyelamatkan akal sehat bangsa dari kepungan materialisme yang dangkal," pungkas Gus Bahar. (san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow