Catat Tanggalnya! Kontes Bonsai Nasional di Lamongan Dibuka Gratis untuk Umum
"Harapan kami, petani bonsai di Lamongan bisa mencontoh kualitas bonsai yang dipamerkan, kemudian mengembangkannya dengan karya sendiri hingga memiliki nilai jual tinggi," ujar Suwanto saat ditemui di lokasi pameran, Senin (29/6/2026) siang
Lamongan, (afederasi.com) – Alun-Alun Lamongan mendadak dipenuhi pesona tanaman kerdil bernilai fantastis. Sebanyak 682 bonsai dari berbagai penjuru Nusantara unjuk gigi dalam ajang Kontes dan Pameran Bonsai Nasional yang digelar oleh Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Lamongan. Senin, (29/6/2026).
Bukan sekadar tanaman hias biasa, pameran ini menyuguhkan deretan karya seni hidup bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah bonsai jenis Santigi yang sempat ditawar seharga Rp1 miliar, namun sang pemilik bersikeras hanya akan melepasnya di angka Rp2 miliar.
Ketua PPBI Lamongan, Suwanto, mengungkapkan bahwa gelaran skala nasional ini bukan hanya panggung pamer kemewahan, melainkan pelecut semangat bagi para petani dan pehobi lokal agar mampu menaikkan kelas produk mereka ke taraf ekonomi tinggi.
"Harapan kami, petani bonsai di Lamongan bisa mencontoh kualitas bonsai yang dipamerkan, kemudian mengembangkannya dengan karya sendiri hingga memiliki nilai jual tinggi," ujar Suwanto saat ditemui di lokasi pameran, Senin (29/6/2026) siang.
Suwanto menjelaskan, tingginya nilai sebuah bonsai tidak ditentukan secara instan. Ada proses panjang, dedikasi, dan nilai seni mendalam yang tertanam di setiap lekukannya. Umur tanaman yang dipamerkan pun bervariasi, bahkan beberapa di antaranya telah dirawat selama setengah abad.
"Ada bonsai yang usianya mencapai 40 hingga 50 tahun. Nilainya terus meningkat seiring bertambahnya usia dan kualitas bentuk yang dihasilkan. Harga ditentukan oleh berbagai faktor, seperti usia tanaman, karakter batang, tingkat kesulitan pembentukan, hingga nilai seni yang dimiliki," tambahnya.
Ia juga membeberkan bahwa jenis Santigi saat ini menjadi buruan utama para kolektor, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Karakter batangnya yang eksotis menjadikan tanaman endemik Indonesia ini primadona yang bernilai investasi tinggi.
Tak ingin pameran ini terkesan eksklusif, PPBI Lamongan juga mengusung misi edukasi dengan berencana mengundang para pelajar ke lokasi acara.
"Kami ingin mengenalkan bonsai kepada generasi muda sejak dini. Bonsai bukan hanya tanaman hias, tetapi karya seni yang nilainya dapat terus meningkat dan berpotensi menjadi sumber penghasilan," tegas Suwanto.
Sementara itu, Ketua Panitia Pameran, Munawi, menegaskan bahwa seluruh rangkaian pameran ini dapat dinikmati oleh masyarakat luas tanpa dipungut biaya sepeser pun alias gratis setelah proses penjurian selesai.
"Selama proses penjurian memang sementara ditutup untuk umum. Setelah pembukaan, masyarakat dipersilakan masuk tanpa dipungut biaya. Kami ingin menghilangkan anggapan bahwa pameran bonsai itu eksklusif. Justru kami ingin masyarakat datang, melihat, dan semakin mencintai seni bonsai," kata Munawi.
Acara ini rencananya akan dibuka secara resmi pada Selasa malam, 30 Juni 2026, yang dihadiri langsung oleh pengurus PPBI Pusat, Bupati Lamongan beserta jajaran Forkopimda. Melalui pameran ini, PPBI Lamongan berharap dapat melahirkan regenerasi pebonsai baru yang mampu mendongkrak roda perekonomian daerah melalui industri kreatif tanaman hias. (yan)
What's Your Reaction?

