Ancam Program Nasional, Satgas MBG Situbondo Evaluasi Khusus 41 Titik Dapur yang Tak Jalan
Pembangunan 41 dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Situbondo mandek total. Satgas MBG mengancam akan memutus kontrak mitra yang tidak serius.
Situbondo, (afederasi.com) – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Situbondo kini berada dalam bayang-bayang kegagalan. Sebanyak 41 titik pembangunan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diproyeksikan menjadi tulang punggung program tersebut dilaporkan mandek total tanpa perkembangan signifikan.
Kondisi ini memicu respons keras dari Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Situbondo. Ketua Satgas MBG Situbondo, Akhmad Yulianto, menyatakan bahwa keterlambatan ini merupakan kendala serius yang dapat menghambat distribusi asupan gizi bagi para pelajar di wilayah tersebut.
"Hingga saat ini masih ada 41 titik pembangunan SPPG yang belum jelas progresnya. Bisa dikatakan tidak ada perkembangan sama sekali di lapangan," ujar Yulianto saat memberikan keterangan resmi, Selasa (12/5/2026).
Menyikapi kebuntuan tersebut, Satgas MBG telah menjadwalkan pemanggilan seluruh mitra pelaksana pembangunan pada Selasa, 19 Mei mendatang. Pertemuan ini bertujuan untuk menuntut penjelasan teknis serta komitmen nyata dari para kontraktor terkait kelanjutan proyek strategis nasional ini.
Yulianto menegaskan, pihaknya tidak akan segan mengambil langkah ekstrem jika mitra pelaksana terbukti tidak serius. "Kalau tidak ada keseriusan, tentu kami siapkan langkah tegas, termasuk kemungkinan cut-off atau penghentian kerja sama secara sepihak," tegasnya.
Ia menambahkan, percepatan pembangunan ini sangat krusial karena program MBG dirancang untuk memberikan dampak ekonomi berantai bagi masyarakat lokal. Satgas pun membuka peluang untuk menggandeng mitra baru yang dinilai lebih kompeten secara finansial maupun operasional.
Senada dengan itu, Koordinator Wilayah MBG Situbondo, M. Haikal Rizky, mengungkapkan bahwa kemandekan proyek ini terjadi merata di 17 kecamatan. Berdasarkan hasil identifikasi awal, hambatan utama bersumber dari masalah logistik material dan ketidaksiapan modal dari pihak investor.
"Rata-rata kendalanya ada pada material, karena sebagian bahan harus didatangkan dari luar negeri. Selain itu, kemampuan finansial investor di beberapa titik memang belum memadai," jelas Haikal.
Haikal menyatakan, pihaknya kini telah berkoordinasi dengan unsur Forkopimda dan Forkopimcam untuk melakukan pengawasan ketat. Jika evaluasi pekan depan tidak menunjukkan itikad baik dari pengelola, Satgas MBG Situbondo akan membawa persoalan ini ke tingkat pemerintah pusat.
"Jika mereka tidak hadir atau tidak bisa menyelesaikan persoalan ini, kami laporkan ke pimpinan pusat. Opsi penghentian kerja sama sangat mungkin dilakukan demi kelancaran program," pungkasnya.(vya/dn)
What's Your Reaction?

