Warkop Makju Gresik, Aroma Khas Kopi Hitam Legendaris yang Racikannya Dibawa Jamaah Haji ke Mekkah
Saya sengaja membawa empat ikat kopi racik dari Warkop Mak Ju, karena setiap hari sudah terbiasa ngopi di situ setiap pagi,” kata Shodiq saat dikonfirmasi, Rabu (06/05/2026).
Gresik, (afederasi.com) – Di antara hiruk pikuk keberangkatan jamaah haji asal Gresik menuju Tanah Suci, ada satu barang yang tak pernah lupa masuk koper. Bukan sekadar pakaian atau oleh-oleh keluarga, melainkan racikan kopi hitam pekat dari warung kopi legendaris di Desa Ngawen, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik.
Namanya Warkop Makju. Warung sederhana di tikungan Jembatan Ngawen itu bukan hanya tempat ngopi biasa bagi warga Gresik Utara. Bagi sebagian orang, kopi Makju sudah menjadi bagian dari rutinitas hidup, bahkan pengobat rindu ketika berada ribuan kilometer jauh di Mekkah maupun Madinah.
Ahmad Shodiq, jamaah haji asal Desa Pegundan, Kecamatan Bungah, mengaku sengaja membawa empat ikat kopi racikan Warkop Makju ke Tanah Suci. Bukan tanpa alasan. Pria itu merasa belum lengkap menjalani hari tanpa menyeruput kopi favoritnya tersebut.
“Saya sengaja membawa empat ikat kopi racik dari Warkop Mak Ju, karena setiap hari sudah terbiasa ngopi di situ setiap pagi,” kata Shodiq saat dikonfirmasi, Rabu (06/05/2026).
Bagi Shodiq, kopi Makju bukan hanya soal rasa. Ada kenangan, kebiasaan, sekaligus suasana kampung halaman yang ikut terbawa dalam setiap seduhan. Aroma kopi hitam kental dengan perpaduan pahit dan gurih khas racikan turun-temurun itu menjadi pengingat rumah saat berada di negeri orang.
“Rasanya khas, ngangenin. Makanya saya bawa bekal biar tetap bisa menikmati kopi Gresik selama di Tanah Suci,” ucapnya.
Warkop Makju memang bukan kafe modern dengan pendingin ruangan atau dekorasi estetik ala anak muda. Bangunannya sederhana. Berdiri di pinggir jalan desa, ditemani hamparan tambak dan rerimbunan pohon yang membuat suasana terasa teduh dan akrab.
Namun justru dari kesederhanaan itulah, Warkop Makju bertahan lintas generasi dan menjadi legenda di kalangan pecinta kopi Gresik Utara.
Setiap pagi hingga sore, warung itu nyaris tak pernah sepi. Para petani, nelayan, pekerja proyek, sopir, hingga anak muda bercampur dalam satu meja obrolan sambil menikmati kopi seharga Rp 6 ribu. Bahkan tidak sedikit pelanggan dari luar kota sengaja mampir hanya untuk merasakan racikan kopi khas Makju.
Pengelola Warkop Makju, Neng Nur, mengatakan warung kopi tersebut sudah berdiri sejak dirinya masih kecil. Warung itu pertama kali dirintis oleh sang ibu yang akrab dipanggil Makju.
“Sudah ada dari dulu. Sejak saya kecil warung ini sudah ada dan sampai sekarang diteruskan anak-anak Makju,” ujarnya.
Menurut Neng Nur, resep dan cita rasa kopi sengaja dipertahankan agar pelanggan lama tetap merasakan kenikmatan yang sama dari masa ke masa.
“Tiap hari selalu ramai, banyak juga yang datang dari luar kota mampir ngopi ke sini,” katanya.
Di tengah menjamurnya kedai kopi modern dengan berbagai konsep kekinian, Warkop Makju tetap berdiri sederhana. Tidak berubah banyak. Tetapi justru di situlah letak keistimewaannya.
Bagi banyak warga Gresik Utara, Warkop Makju bukan sekadar tempat minum kopi. Melainkan ruang nostalgia, tempat pulang, dan rasa kampung halaman yang bahkan rela dibawa sampai ke Tanah Suci.(frd)
What's Your Reaction?

