Pesona Mistis Seblang Olehsari Banyuwangi Tarian Sakral Penjaga Tradisi

25 Mar 2026 - 08:46
Pesona Mistis Seblang Olehsari Banyuwangi Tarian Sakral Penjaga Tradisi
Pesona budaya Tari Seblang Olehsari jadi magnet lebaran 2026 di Banyuwangi. (Humas Pemkab)

Banyuwangi, (afederasi.com) - Asap dupa tipis membumbung di udara Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Senin (23/3/2026). Di halaman desa, denting gamelan mulai terdengar pelan, mengiringi langkah awal sebuah ritual yang telah berusia ratusan tahun yaitu tradisi Seblang Olehsari.

Tradisi ini kembali digelar selama tujuh hari berturut-turut. Bagi warga setempat, Seblang Olehsari bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan ritual sakral yang menyatu dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.

Di tengah lingkaran penonton, seorang perempuan muda berdiri. Ia adalah Sayu Apriliani, 20 tahun, penari baru yang tahun ini dipercaya menjalani peran utama. Wajahnya tampak tenang, meski beban tradisi yang dipikulnya tak ringan. Ia menggantikan Putri Ramadhani, penari sebelumnya yang telah menuntaskan tugas selama tiga tahun.

Pemilihan penari Seblang tidak dilakukan sembarangan. Selain harus memiliki garis keturunan dari penari sebelumnya, proses penunjukan juga melalui ritual khusus yang sarat nuansa supranatural. Masyarakat percaya, hanya mereka yang “dipilih” yang mampu menjalani peran tersebut.

Ketika gamelan mulai menguat, tubuh Sayu perlahan bergerak. Lenggokan tangannya mengikuti irama, lalu berubah menjadi lebih dinamis. Dalam beberapa saat, suasana menjadi hening. Warga yang menyaksikan memahami, ritual telah memasuki fase inti ketika sang penari diyakini tidak lagi berada dalam kesadaran penuh.

Dalam tradisi Seblang Olehsari, penari dipercaya dirasuki energi leluhur yang membimbing setiap gerakannya. Keyakinan ini menjadi inti dari ritual, sekaligus sumber daya tarik yang membuat Seblang berbeda dari pertunjukan tari pada umumnya.

“Seblang adalah bagian dari tradisi bersih desa dan tolak bala. Harapannya masyarakat dijauhkan dari marabahaya,” kata Kepala Desa Olehsari, Joko Mukhlis.

Ritual ini rutin digelar setiap awal bulan Syawal. Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur, Seblang juga menjadi ruang kolektif bagi warga untuk memperkuat kebersamaan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Seblang Olehsari tidak hanya menjadi milik warga lokal. Ribuan wisatawan datang setiap tahunnya untuk menyaksikan langsung ritual tersebut. Perpaduan antara nilai sakral dan daya tarik budaya menjadikannya salah satu agenda penting dalam kalender pariwisata Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menilai, keberadaan Seblang menjadi penanda kuat identitas budaya daerah.

“Banyuwangi sangat kaya akan tradisi adat dan budaya. Ini yang terus kami jaga sebagai warisan leluhur,” ungkapnya.

Menurut Ipuk, Seblang yang digelar bertepatan dengan libur Lebaran juga memberi dampak positif bagi sektor pariwisata. Tradisi ini masuk dalam rangkaian Banyuwangi Festival yang setiap tahun menyedot kunjungan wisatawan.

Namun di balik sorotan publik, Seblang tetap berdiri sebagai ritual yang hidup di tengah masyarakat. Ia bukan sekadar tontonan, melainkan praktik budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Menjelang sore, irama gamelan perlahan mereda. Penonton mulai beranjak, namun suasana sakral masih terasa. Di Desa Olehsari, Seblang bukan hanya tentang tarian, melainkan tentang ingatan kolektif yang terus dijaga antara keyakinan, tradisi, dan perubahan zaman. (ron)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow