PA Kaliabu Overload! Dandhy Dwi Laksono hingga Iksan Skuter Serukan Revolusi Sampah di Madiun

"Fasilitas hilir pengelolaan sampah kita di TPA Kaliabu, Kecamatan Mejayan, saat ini kondisinya sudah overload. Kesuksesan pengelolaan sampah tidak akan pernah lepas dari aksi kecil yang dimulai dari gerakan pilah sampah di sumbernya masing-masing, baik dari rumah, sekolah, pelaku usaha, hingga pondok pesantren," tegas Zahrowi di hadapan ratusan peserta.

28 Jul 2026 - 10:21
PA Kaliabu Overload! Dandhy Dwi Laksono hingga Iksan Skuter Serukan Revolusi Sampah di Madiun
Pemutaran film dan diskusi bertajuk

Madiun, (afederasi.com) - Isu darurat sampah plastik dan kerusakan lingkungan kini menjadi alarm keras bagi daerah. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan pemutaran film dan diskusi bertajuk "Harun Namanya: Sebuah Dokumenter Tentang Perjalanan dan Perubahan yang Lahir dari Pulau Plastik" di Pasar Pundensari, Desa Gunungsari, Kecamatan Madiun, Kabupaten Madiun, Senin 27 Juli 2026.

Acara yang dikemas bersama workshop eco-print oleh Saranx Petir serta panggung akustik musisi nasional Iksan Skuter dan Daniel Rumbekwan ini sukses menyedot ratusan peserta dari dalam maupun luar daerah.

Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah pejabat dan tokoh penting, di antaranya Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Madiun Muhamad Zahrowi, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Madiun Puji Rahmawati beserta jajaran, tokoh pelestari budaya sekaligus penggagas Pasar Pundensari M. Ng. Bernadi S Dangin, serta Ketua Pokdarwis Desa Gunungsari Kang Mas Roki.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Madiun, Muhamad Zahrowi, dalam sambutannya mengungkapkan keprihatinan mendalam atas kondisi fasilitas hilir pengelolaan sampah di wilayahnya yang sudah memprihatinkan.

"Fasilitas hilir pengelolaan sampah kita di TPA Kaliabu, Kecamatan Mejayan, saat ini kondisinya sudah overload. Kesuksesan pengelolaan sampah tidak akan pernah lepas dari aksi kecil yang dimulai dari gerakan pilah sampah di sumbernya masing-masing, baik dari rumah, sekolah, pelaku usaha, hingga pondok pesantren," tegas Zahrowi di hadapan ratusan peserta.

Ia menambahkan, pemerintah memiliki keterbatasan sumber daya, sehingga penanganan lingkungan hidup membutuhkan kolaborasi serta sinergi lintas elemen masyarakat demi mewujudkan ekonomi sirkuler yang berkelanjutan.

Sutradara film dokumenter sekaligus pendiri Watchdoc, Dandhy Dwi Laksono, yang hadir sebagai narasumber utama, menyoroti bagaimana sebuah karya audio-visual mampu mengubah cara pandang seseorang. Ia menceritakan sosok Harun, seorang sopir yang kini bertransformasi menjadi pegiat lingkungan militan setelah terlibat dalam pembuatan film Watchdoc.

"Satu orang yang bergerak dan berubah bagi saya jauh lebih penting daripada ribuan like dalam satu menit. Fokus utama kreator adalah menawarkan perubahan pikiran kepada penonton," ujar Dandhy.

Dalam paparannya, Dandhy juga membedah refleksi dari berbagai film dokumenter seperti Seksi Killer, Asimetris, hingga Pulau Plastik. Ia memetakan setidaknya lima persoalan struktural yang kerap berulang di perkotaan Indonesia, mulai dari kegagalan transportasi publik, pengelolaan sampah, krisis air bersih, harga tanah yang membuat warga lokal tersisih dari kampung halamannya sendiri, hingga minimnya ruang ekonomi dan lapangan pekerjaan di daerah asal.

Ia juga memuji langkah-langkah progresif di berbagai daerah, seperti Pasar Pundensari yang telah menerapkan aturan bebas plastik dengan denda, serta mengajak warga Madiun untuk naik kelas dengan terlibat langsung dalam gerakan akar rumput.

Sementara itu, Harun, sang pegiat lingkungan yang menjadi inspirasi utama film tersebut, membagikan kisah perjalanannya. Berbekal latar belakang sebagai sopir yang dulunya abai terhadap lingkungan, ia tergerak melakukan pencarian mandiri di internet setelah merasa bersalah atas puluhan tahun hidupnya yang tidak peduli pada bumi.

"Proses belajar terus berjalan dilandasi rasa tanggung jawab serta rasa bersalah atas kehidupan sebelumnya yang tidak pernah peduli terhadap lingkungan," ungkap Harun.

Dari sisi seni, musisi Stephanus Adjie mengingatkan bahwa aktivitas tur musisi pun berpotensi menyumbang polusi dan sampah. Namun, kesadaran ekologis dapat ditumbuhkan secara bertahap melalui proses belajar bersama.

"Tujuan dari aksi yang dilakukan bukanlah untuk menyelamatkan bumi, melainkan untuk menyelamatkan diri kita masing-masing," pungkas Adjie.

Rangkaian acara yang sarat edukasi ekologis ini ditutup menjelang tengah malam dengan pertunjukan musik akustik penuh makna dari Daniel Rumbekwan dan Iksan Skuter. Kegiatan berlangsung khidmat, aman, dan lancar hingga tuntas, menandai bahwa gerakan perubahan ekologi harus dimulai dari langkah terkecil di akar rumput. (hend)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow