Menjaga Kewarasan di Tengah Himpitan Ekonomi dan Zaman: Nasihat Gus Bahar untuk Masyarakat
Jombang, (afederasi.com) – Di tengah hiruk-pikuk warung kopi, terminal, pasar, hingga ruang keluarga, satu topik terus mengemuka: harga BBM melambung, nilai tukar US Dollar menembus Rp 18.000, dan harga kebutuhan pokok seperti cabai, minyak goreng, hingga ongkos sekolah ikut terkerek. Semua terasa mahal, sementara penghasilan cenderung stagnan atau bahkan menurun.
Wajar jika keluhan muncul. Namun, di balik tekanan ekonomi tersebut, ada ancaman yang lebih besar daripada sekadar naiknya harga, yaitu naiknya stres kolektif yang berpotensi merusak tatanan sosial. Demikian disampaikan Gus Bahar, pengasuh Pesantren Salafiyah Seblak, Jombang, dalam renungannya yang dirilis Jumat (12/06/2026).
Bahaya Tersembunyi di Balik Krisis Ekonomi
Menurut Gus Bahar, ketika perut keroncongan tetapi hati sudah lebih dulu susut oleh kebencian, maka bahaya sesungguhnya telah tiba. Masyarakat menjadi mudah marah, cepat tersinggung, dan gampang menghakimi. Kritik dianggap serangan pribadi, perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan.
"Setiap zaman memiliki ujiannya sendiri. Dulu ujian datang dalam bentuk perang atau penjajahan. Sekarang ujian datang lebih halus: tekanan ekonomi, ketidakpastian sosial, dan suasana publik yang mudah tersulut seperti tumpukan jerami kering," ujar Gus Bahar.
Ia mengingatkan bahwa dalam situasi seperti ini, biasanya muncul dua reaksi ekstrem yang sama-sama berbahaya. Pertama, menutup mata dan telinga, seolah tidak ada masalah. Kedua, meluapkan kemarahan tanpa arah, ikut-ikutan marah tanpa memahami persoalan sesungguhnya.
"Orang yang diam, masalah tidak akan selesai. Orang yang meledak-ledak, masalah justru bertambah runyam. Kita sebenarnya membutuhkan kemampuan menjaga kewarasan di tengah keadaan yang tidak sehat," tegasnya.
Sejarah Membuktikan: Kebencian Lebih Berbahaya dari Inflasi
Gus Bahar memaparkan pelajaran berharga dari sejarah. Sebuah masyarakat jarang runtuh hanya karena harga barang naik. Bangsa-bangsa pernah mengalami inflasi, krisis ekonomi, bahkan kelaparan, namun tetap bertahan. Yang sering menghancurkan justru ketika tekanan ekonomi diubah menjadi bahan bakar untuk saling membenci.
"Saat perut lapar, manusia masih bisa mencari makanan. Saat dompet menipis, manusia masih bisa bekerja lebih giat. Tetapi ketika hati dipenuhi kebencian dan pikiran dipenuhi prasangka, kerusakan yang lahir jauh lebih sulit diperbaiki. Rumah tangga bisa pecah, tetangga bisa saling fitnah, bangsa bisa terbelah," ungkapnya.
Warisan Pesantren: Tabayyun di Era Informasi Instan
Di sinilah, kata Gus Bahar, pentingnya warisan kebijaksanaan dari pesantren: tabayyun, atau memeriksa informasi terlebih dahulu sebelum mengambil sikap. Di era media sosial, banyak orang bereaksi lebih cepat daripada berpikir. Sebuah potongan video dapat memancing kemarahan nasional hanya dalam hitungan jam.
"Padahal Islam mengajarkan tabayyun. Bukan berarti semua informasi harus ditolak, dan bukan berarti semua kritik harus dihentikan. Tetapi setiap informasi harus diperiksa, setiap tuduhan harus diteliti, setiap keputusan harus dipikirkan dampaknya. Sikap seperti ini sering dianggap kurang tegas. Padahal justru inilah ketegasan yang sesungguhnya," jelas Gus Bahar.
Ia juga mengingatkan para ulama Ahlussunnah Wal Jamaah serta para kiai pesantren tidak pernah mengajarkan untuk menutup mata terhadap kesulitan rakyat. Sebaliknya, mereka selalu berdiri bersama masyarakat. Namun mereka juga memahami bahwa tidak semua orang yang berbicara atas nama rakyat benar-benar memperjuangkan rakyat.
"Sejarah penuh dengan orang-orang yang memanfaatkan kesulitan masyarakat untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka hidup dari suasana gaduh. Padahal kegaduhan bukanlah solusi. Kegaduhan hanya membuat masalah menjadi lebih besar," tegasnya.
Kritik yang Jujur vs Kritik yang Merusak
Gus Bahar juga menyampaikan pesan berimbang kepada pemerintah dan masyarakat. Pemerintah perlu memahami bahwa kritik bukanlah musuh negara. Sebuah pemerintahan yang sehat tidak takut terhadap kritik yang jujur. Kritik yang jujur ibarat cermin: tidak selalu menyenangkan, tetapi membantu melihat kekurangan.
"Sebaliknya, ketika semua kritik dianggap ancaman, yang tersisa hanyalah pujian-pujian kosong. Banyak kerajaan dalam sejarah runtuh bukan karena terlalu banyak dikritik, melainkan karena terlalu lama hidup dalam ruang gema yang hanya mengulang hal-hal yang ingin didengar penguasa," ujarnya.
Namun masyarakat juga harus cerdas membedakan kritik. Ada kritik yang bertujuan memperbaiki, ada pula yang bertujuan merusak. "Umat tidak boleh hanya bertanya, 'Siapa yang berbicara?' Tetapi juga harus bertanya, 'Ke mana arah yang ingin dicapai oleh pembicaraan ini?' Jika tujuan akhirnya adalah perbaikan, kritik tersebut layak didengar. Jika tujuan akhirnya hanya menambah kebencian dan perpecahan, masyarakat perlu berhati-hati."
Pesan Akhir: Jangan Biarkan Persaudaraan Hancur
Di akhir renungannya, Gus Bahar menyampaikan pesan haru sekaligus penuh keteguhan untuk para pedagang di pasar, tukang ojek, buruh bangunan, dan ibu-ibu yang setiap pagi memikirkan menu masak dengan uang pas-pasan.
"Badai pasti berlalu. Harga akan berubah. Pejabat akan berganti. Partai politik akan naik dan turun. Namun jangan sampai persaudaraan kita hancur. Jangan sampai kepercayaan yang telah puluhan tahun dibangun lenyap dalam satu hari karena informasi yang belum jelas kebenarannya," pesannya.
Ia mengajak masyarakat untuk tetap kritis tetapi tidak kehilangan adab, tetap peduli tetapi tidak kehilangan akal sehat, tetap menyampaikan kebenaran tetapi tidak kehilangan kasih sayang.
"Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan bangsa ini bukanlah siapa yang paling keras berteriak, melainkan siapa yang paling kuat menjaga persaudaraan di tengah ujian. Keburukan akan hilang, kebenaran akan abadi," pungkas Gus Bahar. (san)
What's Your Reaction?

