Mengenal Moch Faisol, Penulis Buku Sejarah Bung Karno di Jombang

12 May 2026 - 14:54
Mengenal Moch Faisol, Penulis Buku Sejarah Bung Karno di Jombang
Moch Faisol pengiat sejarah Kabupaten Jombang saat di temui di rumahnya, Selasa (12/05/2026). (Foto:Santoso/afederasi.com)

Jombang, (afederasi.com) – Di tengah hiruk-pikuk perdebatan sengit mengenai lokasi kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, nama Moch. Faisol mencuat sebagai salah satu pegiat sejarah yang paling vokal.

Ia tidak hanya sekadar menulis, tetapi turun langsung ke gelanggang akademik serta ruang resmi pemerintahan untuk memperjuangkan narasi bahwa “Putra Fajar” lahir di wilayah Ploso, Kabupaten Jombang .

Melalui bukunya yang berjudul "Menemukan Bung Karno di Jombang", Faisol berusaha membangun jembatan antara fakta di atas kertas dan ingatan kolektif masyarakat. 

Baginya, sejarah tidak semata tersimpan dalam dokumen kaku, tetapi juga hidup dalam denyut nadi warga Ploso yang mewarisi cerita tentang keluarga Soekarno dari generasi ke generasi .

Ditemui di rumahnya, Moch Faisol menceritakan belakangan ini semakin intensif. Pada akhir Februari 2026, ia menjadi narasumber kunci dalam diskusi bedah buku di Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy'ari, Tebuireng.

"Acara yang dihadiri sekitar 70 peserta yang terdiri dari akademisi hingga santri ini menjadi ajang penguatan riset terkait jejak Bung Karno di Bumi Jombang, " terangnya, saat ditemui di kediamannya, Selasa (12/05/2026).

Dalam diskusi tersebut, Moch Faisol memaparkan temuannya bahwa penelusuran sejarah Soekarno tidak bisa dilepaskan dari lingkungan sosial dan budaya yang membentuk karakter awal sang proklamator.

Bersama rekannya, Binhad Nurrohmat (penulis Buku Titik Nol Soekarno 1902), Faisol mengkritisi narasi otobiografi resmi yang ditulis Cindy Adams yang dianggap menghilangkan fase penting masa kecil Soekarno di Ploso dan Sidoarjo .

Bahkan, dalam sebuah diskusi publik bertajuk "Jejak Soekarno di Ploso dan Sidoarjo" yang digelar di lokasi bekas Sekolah Ongko II, Ploso, pada bulan Juni 2025, Moch Faisol secara gamblang menyebut adanya "keganjilan" sejarah yang perlu diluruskan .

Apa yang dilakukan Moch Faisol bukanlah sekadar obrolan kampus atau diskusi komunitas. Ia membawa risetnya hingga ke ranah birokrasi tingkat tinggi.

Pada Desember 2025, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang, menyerahkan sejumlah data dan buku hasil riset termasuk menyerahkan buku karya Moch Faisol dan buku karya Binhad Nurrohmat kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Langkah ini diambil sebagai upaya serius untuk mendorong pengakuan resmi terhadap situs kelahiran Bung Karno di Ploso.

Yang terbaru pada April 2026, DPRD Kabupaten Jombang untuk pertama kalinya membuka ruang hearing (rapat dengar pendapat) khusus untuk membahas sejarah kelahiran Bung Karno. Dalam forum resmi yang dihadiri oleh Wakil Ketua DPRD serta jajaran komisi tersebut, Moch Faisol kembali menegaskan komitmennya.

"Pertemuan ini penting karena memberi kesempatan bagi data dan temuan baru untuk dibahas secara akademis," ujar Faisol di hadapan para wakil rakyat, seraya menyerahkan bukunya sebagai bahan pertimbangan dewan .

Lantas, apa yang membuat Moch Faisol dan rekan-rekannya begitu percaya diri? Berdasarkan sejumlah penelitian yang dipresentasikan dalam berbagai forum, kelahiran Soekarno di Ploso, tepatnya di Gang Buntu, Desa Rejoagung, pada 6 Juni 1902 ini didasari oleh temuan arsip kunci .

Ayah Soekarno, Raden Soekeni Sosro di Hardjo, tercatat dalam dokumen penugasan pemerintah kolonial Belanda (Desember 1901) sedang bertugas sebagai Mantri Guru di sekolah Ongko Loro Ploso.

Artinya, ia sudah bertugas di sana enam bulan sebelum tanggal kelahiran yang diajukan. Fakta ini juga diperkuat oleh dokumen administrasi pendidikan Soekarno di ITB serta catatan keluarga yang ditulis langsung oleh Raden Soekeni .

Usaha Moch Faisol tidak berjalan sendiri. Ia pernah dihadirkan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertaraf nasional bersama para Guru Besar dari Universitas Indonesia (UI) hingga Universitas Nasional. 

Kehadirannya di ruang-ruang ilmiah ini menunjukkan bahwa suara pegiat sejarah lokal mulai didengarkan oleh para sejarawan akademik.

Kiprah Moch. Faisol adalah bukti bahwa seorang pegiat sejarah bisa menjadi lokomotif perubahan narasi besar. Dengan ketekunannya merangkai ingatan kolektif warga Ploso dan data arsip Belanda, ia mengajak kita semua untuk tidak menerima sejarah secara mentah, tetapi menggali lebih dalam.

Bagi generasi muda Jombang, Faisol adalah inspirasi bahwa kecintaan pada sejarah dapat diwujudkan bukan hanya dengan membaca, tetapi dengan menulis, berdebat, dan memperjuangkannya. 

Diskursus mengenai "Di mana sebenarnya Bung Karno dilahirkan?" mungkin masih akan terus berlangsung, namun satu hal yang pasti: nama Moch Faisol telah memperkaya hasanah historiografi Indonesia. (san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow